Musik dan Makna Halal Haram
Musik dan Makna Halal Haram Bagi Saya

Z bercerita tentang temannya, sesama pemain musik indie yang kini sedang giat mengaji. Menurut temannya itu, musik harus disikapi hati-hati. Teman Z tak mengharamkan musik, tapi ia menjauhi musik yang biasa ia geluti dan membatasi bermain musik dengan alat-alat perkusi. Bukankah dalam hadis, musik memang boleh dimainkan, tapi sebatas musik-musik yang menggunakan alat perkusi?

Lalu Z bertanya, apakah musik itu haram (dalam Islam?). Dan saya merasa, susah untuk menjawab pertanyaan itu saat ini.

Bukan saya tak tahu selik-melik fiqh soal musik. Walau tak sampai ahli, tapi saya akrab dengan pertanyaan ini sejak akhir 1980-an hingga pertengahan 1990-an. Itu periode saya masih terlibat pengajian tarbiyah dan banyak "membina" orang sebagai seorang "da'i" (juru dakwah). Ada saja yang bertanya demikian: apakah musik haram? Apakah film haram? Apakah pacaran haram?

Pada periode itu, saya pribadi pun bergulat dengan pertanyaan tersebut. Mungkin karena saya tak berbakat jadi kader yang taat pada indoktrinasi total –selalu ada tawar-menawar dalam diri saya tentang hal-hal keseharian vs. "revolusi". Bagi saya, musik, film, komik, hal-hal yang dengan mudah dianggap nista oleh para pemikir dan ahli agama, telah berjasa besar membentuk pemikiran saya.

Musik: bagaimanakah kita bisa menafikan peran penting musik popular, yang telah menemani dan turut membesarkan kita, khususnya di saat-saat remaja yang sulit? Bisa saja, kata mereka yang punya bakat menarik garis batas moral dengan jelas. Mereka yang merasa bahwa pilihan hidup di dunia ini hanyalah memilih Tuhan, atau memilih selain Tuhan.

Bagaimana yang percaya bahwa musik bagus adalah dari Tuhan juga?

Sudahlah, pasti perdebatan soal ini akan panjang melingkar dan mengular –tak akan ada ujung pangkal. Karena toh pada akhirnya itu terpulang pada apa yang kita percaya atau tak kita percaya. Saya termasuk yang percaya bahwa musik tidak haram. Kepercayaan itu terbangun dari serangkaian bacaan, pengalaman, dan penalaran religiositas saya.

Waktu itu, posisi pemikiran saya membuat saya dilematis: saya percaya pada hukum Tuhan, syari'ah, tapi saya juga percaya musik adalah jalan Tuhan pula. Dilematis, tapi tak sampai terlalu problematik. Waktu itu, saya cukup percaya diri pada penilaian saya akan Tuhan dan hukum-hukum-Nya. Termasuk, cukup percaya diri untuk memilih percaya pada fatwa ulama yang mana soal musik ini.

Misalnya, saya cukup percaya pada fatwa Yusuf Qardhawi. Ini ulama moderat dari dan bagi kalangan gerakan Islam Ikhwanul Muslimin. Pada 2000-an, otoritas Yusuf Qardhawi bahkan sedemikian besar di Timur Tengah sehingga ia punya acara televisi yang sangat popular di sana, wahana ia membahas dan membalas pertanyaan-pertanyaan umat untuk berbagai soal keseharian yang membutuhkan fatwa-fatwa dan keterangan hukum Islam.

Yusuf Qardhawi berfatwa bahwa musik tidaklah haram. Hadis-hadis yang sering digunakan untuk pendapat bahwa musik adalah haram dalam Islam, menurutnya, seringkali lemah sanad (asal-usulnya) dan/atau riwayatnya, dan tak sekuat hadis yang mengisyaratkan bahwa Nabi pun menikmati musik. Tapi, Yusuf Qardhawi memberi catatan: seringkali, yang membuat haram musik bukan musiknya sendiri, tapi hal-hal sertaan dalam penyajian musik. Misalnya, syair lagu yang menganjurkan maksiat atau paham anti-Tauhid. Atau, suasana pertunjukan yang mengandung maksiat, seperti tari seronok dan pakaian erotik para penyanyinya.

Waktu itu, saya berpikir, "masuk akal juga." Tentu saja, saya sadar beberapa kemusykilan dari fatwa itu jika dikaitkan dengan gaya hidup sehari-hari saya. Saya penggemar The Beatles, Led Zeppelin, dan ELP (Emerson Lake & Palmer), dan pemamah musik rock dan pop secara umum. Kalau ketat berpikir, tak ada satu pun dari grup musik yang saya puja itu bebas dari "maksiat". Tapi saya buka telinga dan tutup mata saja. Pura-pura tak tahu, kura-kura dalam perahu, jadi pilihan aman. Masih banyak urusan umat yang lebih urgen, daripada soal halal dan haram musik doang.

Tapi, poros halal dan haram itu masih sangat kuat sesungguhnya di dalam benak saya. Pernah, saya sampai puasa musik (dan film; dan komik) selama setahun, karena merasa perlu ada terapi akibat "ketergantungan" saya terhadap produk-produk budaya popular itu. Jika saya meyakini rokok tak haram, tapi menjadi keburukan saat kita kecanduan rokok, tentu hal yang sama perlu diterapkan pada musik juga, bukan?

Demikianlah, hidup merangkak perlahan. Semakin dewasa, banyak hal terjadi dalam relasi saya dengan gerakan Islam. Bukan hanya kemudian saya sepenuhnya keluar dari gerakan, saya pun mengembangkan model religiositas yang semakin mempribadi seiring pertambahan usia. Bolehlah Anda sebut ini adalah proses pematangan jiwa. Saya tak berani mengaku saya punya jiwa yang matang.

Toh jelas pula: hidup menghadirkan pergeseran-pergeseran nilai, kompromi-kompromi, pemahaman-pemahaman baru. Ada yang berai, ada yang mengukuh. Misalkan musik. Yang popular saja lah –saya tak perlu bercerita betapa saya semakin ngeh nilai musik-musik klasik Eropa, misalnya. Tapi, bagaimana dengan Lennon?

Bukankah Imagine dan, apalagi, lagu God dari Lennon sungguh sebuah penantangan yang lantang atas kepercayaan akan Tuhan dan agama? Bagaimana dengan Rage Against The Machine yang keras nian tapi menyuarakan ketakadilan dengan sangat gamblang? Atau, lagu-lagu penuh tarian erotik dari Cher, Katy Perry, Beyonce, yang jika kita simak baik-baik ternyata punya lirik positif? Dan, apakah sekadar maksiat jika ada eksplorasi estetika akan seks?

Lagi pula, satu hal utama: suka atau tak suka, segala sertaan "maksiat" dari musik kiwari di sekeliling kita telah jadi bagian dari realitas, dan identitas, saya. Sederhananya, jika saya mengharamkan musik, maka saya sedang menampik diri apa adanya. Saya sama sekali tak percaya bahwa hal demikian adalah sebuah keharusan agamawi bagi umat manusia.

Sebab, khasanah musik popular saja semakin menunjukkan akumulasi ide dan pengetahuan yang bernilai peradaban. Dan semakin hari, saya makin menerima bahwa peradaban manusia tak bisa kita remehkan sebagai "kenyataan duniawi" yang tiada berharga di hadapan Kerajaan Tuhan nanti.

Dari runutan berpikir demikian, dilemanya agak bergeser: ya, sangat bisa jadi sebuah penalaran fiqh tentang musik seperti yang dianut oleh Yusuf Qardhawi dan para pengagumnya memang tak punya kekeliruan penalaran hukum. Tapi, pertanyaan yang menyeruak dari soal musik ini: apakah masih benar, masih sahih, cara berpikir yang memandang dunia ini sebagai tak berharga, bisa ditinggalkan setiap saat, demi mencapai kehendak Ilahi?

Pertanyaan Z membawa saya pada simpulan: saat ini, cara berpikir yang hanya memandang dunia dalam kerangka halal dan haram, tak lagi memadai. Kita perlu membangun sebuah kerangka lain dalam mewadahi religiositas kita. Saya masih percaya pada iman, pada nilai-nilai keagamaan, tapi kita tak lagi bisa beragama seperti masa silam.

Bahwa menghargai musik sebagai sebuah alur peradaban manusia, adalah bagian dari keberagamaan yang lebih fungsional, lebih bermanfaat, di masa kini. Bahwa lengking tenor Robert Plant atau desah balada seksi Carla Bruni, kalau dipikir-pikir, sesungguhnya bisa berdampak religius juga. ***

Hikmat Darmawan

13 Februari 2015
Dilihat sebanyak
2515 Kali
Lainnya...
Melepas Sepatu
Melepas Sepatu
Sisipus dan Nalar Hipster
Sisipus dan Nalar Hipster
Gambar diunduh dari flippkids.com
Setelah Debussy Mendengar Gamelan Jawa
 1 2     >>>
Pabrikultur © 2015