GHIBAH: EKSPRESI HOROR YANG MADANI
GHIBAH: EKSPRESI HOROR YANG MADANI

Sudah lama saya merindukan sebuah film horror yang dekat dengan keseharian saya: Jika merasa takut atau merinding, saya pasti berdoa dan minta perlindungan kepada Tuhan. Hal ini sudah makin pudar sejak Jelangkung (2001),  yang mengikuti jejak horror Asia lainnya yang kala itu sedang bangkit—Jepang, Thailand, Korea—yang menghilangkan hal-hal relijius dan   peran pemuka agama. Dan  lalu muncullah Ghibah (2021, Disney Hotstar), yang disutradarai oleh Monty Tiwa (Pocong the Origin, Keramat), yang kental dengan doa dan ayat suci, bahkan cenderung “cerewet” dengan khutbah. Satu dari sedikit film horor pasca Orde Baru yang mengembalikan penghayatan agama sebagai bagian dari naratif.

Ghibah dapat dikategorikan film madani. Di buku Mencari Film Madani: Sinema dan Dunia Islam (2019), saya menjabarkan bahwa film madani adalah  film yang merepresentasikan situasi dan kondisi umat Islam dengan segala kekhasannya. Sebuah penggambaran Islam yang dihayati pengikutinya (living Islam), dan bukan berdasarkan dogma dan doktrin yang idealis semata. Hal ini bisa juga diterapkan pada film bergenre popular seperti horror, sci-fi, dan laga. Konsep   ini sudah dilakukan oleh  tim kurasi Festival Film Madani sejak 2018, setahun sebelumnya.

Sebagai film madani, Ghibah  secara alamiah mengutarakan bagaimana upaya penyembuhan kesurupan (possessed) atau pengusiran setan--Jin Ifrit dalam kasus film ini--dalam bentuk ruqyah (exorcisme dalam ajaran Islam), yang mengandung berbagai ayat suci, termasuk Ayat Kursi. Dan para tokoh yang ketakutan akan ancaman hal ghaib ini juga acap merapalkan hal-hal yang sifatnya agamis (lepas apakah ini bentuk ekspresi budaya atau memang keimanan). Uniknya lagi, berbeda dengan film horror kebanyakan, sang tokoh pengusir setan adalah seorang wanita, Umi Asri sang ibu kos. Ditambah, rapalannya   tidak hanya kepada Allah tetapi juga ber-tawasul kepada para danyang (roh halus atau penunggu dan pelindung).

Hal madani lainnya adalah dari topiknya sendiri, yaitu ghibah. Bahkan ayat ke-20 dari al-Hujurat beberapa kali disebut secara verbal, termasuk dalam khutbah Ied:

"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka buruk (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka buruk itu dosa. Dan janganlah sebagian kalian mencari-cari keburukan orang dan menggunjing satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudanya yang sudah mati? Maka tentulah kalian merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang."

Secara harafiah, Ghibah diterjemahkan dengan “memakan daging saudaranya sendiri”. Misalnya ditandai dengan bau bangkai bagi tokoh yang bergosip, tanda baru “makan bangkai”. “Memakan bangkai” ini lantas dieksplorasi, tepatnya dieksploitasi.  Konflik makin runyam saat “daging” ini dikaitkan dengan hal lain dari kultur Islam yang jarang dieksplorasi di sinema kita dan terkait erat dengan daging: Idul Adha. Dan tentu, penyembelihan kambing dan sapi secara masal ini terlihat horror di mata Firly, sang  tokoh utama yang vegetarian.

Tak hanya itu, Firly  yang aktivis pers kampus itu pun diminta untuk meliput pasar daging gelap—karena kabarnya ada kasus serupa di Wuhan, mungkin awal-awal sebelum pandemi menyebar.  Di sana, isinya adalah hewan-hewan yang “tak lazim” sebagai sembelihan yang  digantung berjejer, dan yang masih hidup sesekali dikarungi dan dibunuh.

Dan, seolah tak bisa berkelit dari masalah gosip,  Firly  sang  wartawati kampus pun  sedang bergumul dengan pembedaan antara berita dengan gunjingan. Dan juga perseteruannya denngan Yola akibat prasangka buruk tanpa tabayun (verifikasi). Berbagai hal kontras terjadi dan sang bermuara pada satu hal: Sang vegetarian memakan “bangkai saudaranya”.

Di sini, makna ghibah lebih merujuk pada  gosip dan buruk sangka secara umum. Tidak dijelaskan beda Ghibah dengan Fitnah, seperti yang tercantum dalam sebuah hadits:

“”Tahukah kalian apa itu ghibah?” Para sahabat menjawab: “Allah dan Rasul -Nya yang lebih mengetahui.” Lantas beliau menjelaskan: “(Ghibah) itu ialah engkau menyebut (keburukan) saudaramu yang ia tidak suka.” Ada yang bertanya: “Bagaimana sekiranya, jika yang ada pada saudaraku itu memang benar seperti yang kukatakan? Beliau menambahkan: “Jika benar ada padanya apa yang engkau katakan itulah yang namanya ghibah. Dan jika sekiranya apa yang engkau katakan tidak ada pada saudaramu, itu namanya fitnah””. (HR Muslim no: 2589)

Tetapi sebagai usaha pertama mengaitkan film horror dengan ghibah dan “pemakan bangkai”, bolehlah diapresiasi, walau sebelumnya pernah ada cerpen Rahasia Rumah Kami dalam buku Memburu Muhammad (2020) karya Feby Indirani. 

Dengan memasukkan unsur keagamaan, film  ini tentu berbeda dari kebanyakan film horror yang,  menafikan peran agama dan agamawan  yang dimulai sejak  awal 2000an. Proses  “sekularisasi’ ini   boleh jadi   dikarenakan adanya sebuah pengalaman “traumatis” memproduksi menonton film era   Orde Baru. Kala itu,  rata-rata film horror diakhiri dengan kemenangan pemuka agama atau kaum moralis dan semuanya dituntaskan dengan ayat suci, yang membuat yang baik selalu menang dari yang jahat. Atau, dalam perspektif Karl Heider: Yang disorder menjadi order kembali. Terjadi penyederhanaan. Penonton muda makin malas dengan pola seperti itu. Bahkan ada yang komentar: “mengapa tidak dari adegan pertama saja dibacakan ayat suci dan doa?”. Tentu saja tidak sesederhana itu.

Tidak semua adegan,  bisa diselesaikan dengan ulama atau kitab suci—hal yang barangkali juga ditentang banyak pihak. Tidak serta merta agama atau ayat mengalahkan setan atau jin. Karena semua tergantung beberapa faktor, termasuk keikhlasan dan keyakinan kuat sang ustadz(ah) serta  kekuatan roh jahat. Dan ini, bagi yang keseharian dengan dengan hal-hal relijius, tentu menimbulkan kengerian, karena bahkan ayat suci dan shalat pun tak mampu menolong. Dalam film Ghibah,  Misalnya adegan duduk  takhiyat akhir saat telunjuk mengacung dan salam kiri kanan, tetap diganggu penampakan. Ini mirip dengan Pengabdi Setan (1980)  dan juga Makmum (yang saya duga adalah qorin, makhluk halus pendamping manusia, seperti tertera dalam  Az Zukhruf 36). Juga dengan film Munafik (2016 , Disney Hotstar) asal Malaysia yang memperlihatkan ustadz yang sedang galau hingga  ruqyah-nya tidak manjur.  Bahkan dalam  Pengabdi Setan (2017), sang ustadz mati, hal yang acap diributkan oleh penonton yang protes karena pemuka agama mati, walau belum tentu karena kalah bertempur, karena  tidak diperlihatkan adegan pengusirannya dan kronologi kematiannya.

Terkait dengan kehadiran makhluk halus atau Jin, film berdurasi 98 menit ini secara eksplist dijelaskan jenis jinnya: Ifrit. Dalam ajaran Islam, beriman kepada hal yang ghaib adalah kewajiban, termasuk keberadaan malaikat dan jin. Berbeda dengan tradisi Kristiani, dalam Islam, umumnya Jin tidak punya kekuatan kecuali memberikan rasa waswas dan pembisik. Ibn Abi ad-Dunya, sebagaimana dikutip akademisi asal Penn State Abington Ali Olomi  menyatakan ada beberapa keturunan Iblis. Misalnya Dasim (perusak rumah tangga), Awar (pembisik perzinahan), Zalamboor (keserakahan dan kecurangan), dan   Miswat atau  Sut (pembisik gossip, isu, bohong, dan fitnah).  Tapi, rupanya di film ini, bukan Miswat, tapi Ifrit yang bersemayam di tubuh Okta, kawan sekosan Firly. Dalam Quran, nama Ifrit disebutkan dalam al Quran, yang menawarkan diri membantu Nabi Sulaiman membawa Singgasana Ratu Bilqis dari Kerajaan Saba  “…sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu” (An-Naml  38-40). Artinya, dia adalah Jin yang punya kekuatan sihir dan supranatural. Bahkan acap dianggap Jin terkuat. Sayangnya, tidak ada penjelasan atau motif eksplisit mengapa Ifrit   masuk ke dalam tubuh sang gadis. Juga tidak ada penjelasan mengapa sekumpulan mahasiswa itu yang menjadi sasarannya.

Sebelumnya, makhluk  yang secara jelas disebut adalah Dajjal, dalam Munafik. Bagi saya, ini sebuah kemajuan, mengingat kisah-kisah dalam khazanah budaya Islam--termasuk makhluk ghaib dan ilmu hitam—sangat kaya. Mulai dari pesugihan, pelet, hingga santet dan berbagai jenis makhluk. Tapi sedikit sekali film-film berjenis itu yang dikaitkan dengan praktik ruqyah atau keseharian Muslim. Berbeda dengan tradisi kristiani yang menghasilkan film-film biblikal berbagai genre, termasuk horror—sebut saja Reaping (2007) dan kisah 10 Wabah Mesir.

Uniknya, ada keterwakilan karakter non-Muslim di dalam cerita, dan dia turut berdoa menurut agama dan kepercayaannya.

Tentu film produksi Dee Company dan Blue Water Films ini belumlah sempurna. Barangkali karena Monty Tiwa, sang sutradara yang juga penulis skenario Pocong dan Pocong 2, berfokus ada semangat mengekslorasi temanya yang lumayan baru baginya, sehingga film ini tidak semenakutkan dua karyanya sebelumnya..  Adegan “memakan bangkai” juga bisa dibuat lebih seram, sebenarnya. Mungkin ini karena adanya upaya eksplorasi tema madani, hal baru bagi Monty. Dalam akun Instagramnya, Monty   menyatakan dia sedang melakukan eksplorasi, seraya membuat tribute kepada William Peter Blatty, penulis novel The Exorcist (1971) yang difilmkan pada 1973.  Selain Aviv Elham dan Monty sendiri, tim penulis naskah juga diperkuat oleh duet Riza Pahlevi dan Vidya Ariestya yang sebelumnya membuat film pendek Makmum  (2015, Viddsee),  dan turut menulis skenario versi panjangnya (2019, Disney Hotstar), di samping film Astaghfirullah (2020, Viddsee). Hal ini tentu untuk menambah nuansa madani.

Sayangnya, film ini juga, seperti disebut di atas,  terlalu verbal dalam menyampaikan ajaran agama. Padahal, film Madani yang baik adalah, sebagaimana pernyataan sutradari Bosnia Aida Begic dan cendekiawan Muslim Haidar Bagir, film yang “semakin tidak berdakwah, semakin baik”. Karena film bukanlah mimbar ceramah tapi ekspresi seni dan keindahan.

Lepas dari itu Ghibah adalah satu dari sedikit film horror yang kembali dekat dengan keseharian Muslim, yang merupakan mayoritas di Indonesia. Tentu tidak harus mengikuti pakem Orde Baru terkait aturan ulama atau ayat suci, atau agama sebagai tempelan dan pelengkap saja sambil menggugurkan kewajiban order-disorder. Tapi setidaknya ada kedekatan kultural dengan penontonnya. dan setidaknya, film horor bertema ruqyah atau terkait kultur Muslim perlu dikembangkan, untuk memperkaya pilihan pemirsa.

Sebelumnya, film horror global yang bernuansa madani adalah beberapa  film  series Dabbe (2013, 2014, Netfilx ), Ruqyah: The Exorcism (2017), Munafik, Munafik 2 (2018, Netflix),   Syirik (2018), Makmum, dan Affliction (2021, Netflix). 

Allahummaghfirlana wa lahu.

 

Ekky Imanjaya

Dosen Jurusan Film, Binus University

20 Agustus 2021
Dilihat sebanyak
366 Kali
Lainnya...
MENGUAK RASISME DALAM TEKNOLOGI, Ulasan Coded Bias
MENGUAK RASISME DALAM TEKNOLOGI, Ulasan Coded Bias
MEKKAH I*M COMING: Bermain dengan Kebohongan
MEKKAH I*M COMING: Bermain dengan Kebohongan
Cedera Demokrasi, The Social Dilemma dan The Great Hack
Cedera Demokrasi, The Social Dilemma dan The Great Hack
 1 2345     >>>
Pabrikultur © 2015