Maradita dan Mae: Jika Dua Singa Betina Hadir di Satu Segmen
Maradita dan Mae: Jika Dua Singa Betina Hadir di Satu Segmen

Oleh SUNDEA


Edisi perselingkuhan Zeus belum berakhir. Kali ini ia main gila dengan Selene Sang Dewi Bulan. Melalui hubungan itu, lahirlah seekor anak singa yang kuat dan gagah perkasa. Karena orangtua tak menginginkan, ia dibuang ke bumi dan tumbuh sebagai preman yang meresahkan masyarakat. Ia hidup di Gunung Nemea. Itu sebabnya ia dipanggil Singa Nemean.

 

Bukan sekadar terbuang sia-sia sebagai “nobody’s child”. Di kemudian hari, Singa Nemean harus bertarung dengan adik-sebapak-beda-ibunya: Herkules. Singkat cerita, Herkules berhasil membunuhnya.

 

Bukan sekadar terbuang sia-sia lalu dibunuh adik sendiri. Singa Nemean yang sudah menjadi mayat masih dikuliti oleh Herkules. Dikuliti menggunakan cakarnya sendiri, pula. Selanjutnya, Herkules si manusia setengah dewa menyampirkan kulit Singa Nemean dan memakainya ke mana-mana sebagai zirah.

 

Singa Nemean, si anak yang tersia-sia, dikenang sebagai rasi bintang Leo. Di dadanya bersinar Legurus, bintang keberanian.

 

***

 

Uji nyali adalah mengundang dua singa betina sekaligus ke studio. Singa pertama adalah seniman muda berskala internasional: Maradita Sutantio. Singa kedua adalah Enviro Engineer yang aktif dengan Waste Trading-nya: Mae Rahayu. Jadilah mereka sepasang M2M.

 

“Kubawa mainan buat merespons mitos Singa Nemean entar. Aku mau bikin offering untuk Singa Nemean yang wasted, tapi masih tetep memberi sesuatu untuk saudaranya,” janji Maradita. Ia lantas bercerita mengenai kebiasaannya membuat danmala, semacam mandala yang disusun dengan found objects. Pemilihan obyek bersifat intuitif. Obyek yang kita pilih menunjukkan kepada energi apa kita tertaut. Di tempat-tempat tertentu yang disinggahi, beberapa orang membuat danmala sebagai jejak yang meditatif.

 

Maradita akan meletakkan batu peridot di pusat danmalanya. “Itu Legurus, bintang keberanian di bagian jantungnya,” kata Maradita. Peridot adalah August Birthstone, yang oleh Maradita dijadikan perlambang zodiak Leo.

 

Sementara—terkait dengan yang terbuang sia-sia—Mae akan bercerita mengenai kegiatan Waste Trading yang menjadi perjuangannya beberapa saat belakangan ini. “Skala lokal, itu perdagangan sampah yang dihasilkan di rumah tangga. Begitu masuk ke skala global, dia semacam lobby untuk diplomasi sampah dunia,” papar Mae. Mae lantas menceritakan keprihatinannya terhadap Indonesia yang memberi kontribusi besar terhadap sampah dunia. Tak lupa ia memaparkan hasil-hasil penelitian yang menunjukkan bahwa masalah sampah yang tersia-sia ini sungguh serius adanya.

 

Sungguh serius adanya!


Maradita dan Dea sibuk menyusun danmala, sampai satu batu pun tertinggal di studio. 


Saya langsung mempersiapkan jiwa raga untuk rangkaian taping yang kontemplatif dan informatif. Sebuah tribute untuk mereka yang tersia-sia. Sepertinya akan keren dan berat.

 

Rencana tinggal rencana. Takdirlah yang menentukan. Menjelang taping, Mae yang sedang hamil besar mendadak harus pergi ke rumah sakit untuk cek bukaan.

 

“Lho? Kamu udah mau due date, Mae?” tanya Maradita di grup WhatsApp kami bertiga.

 

Mae tidak menjawab. Mengkhawatirkan.

 

Akhirnya saya mewakili, “Iya. Mae udah mau due date.”

 

Tapi, bukan Leo sejati namanya jika tidak mengusahakan tampil hits di panggung hiburan. Di tengah-tengah keriweuhan cek bukaan, beradaptasi dengan aplikasi baru, sinyal yang timbul-tenggelam, dan nafas yang tersengal-sengal, Mae masih berusaha menceritakan kegiatan Waste Trading-nya saat ini. Cukup banyak, sih, informasi yang bisa kita beroleh, meskipun telepon berakhir dengan menghilangnya Mae secara tiba-tiba dan telepon putus. Hyaaa…


Sementara itu, di klinik bersalin.... 


Bagaimana dengan Maradita? Pembicaraan yang diperkirakan akan kontemplatif ternyata berujung lawak-lawakan. Komentar-komentar pop-up penuh kejutan berlompatan dan buka-bukaan aib setelah membaca chart zodiak Maradita terjadi begitu saja nyaris tanpa filter.

 

Meskipun konsep offering yang mengharukan untuk Singa Nemean tetap diceritakan, bagian hore-horenya tetap lebih banyak. Kami salah sebut, lagi. “Legurus” jadi “Regulus”. Berulang-ulang.

 

Setelah taping selesai, kami membahas obrolan kami.

 

“Kenapa jadi lawak, ya, Dit?”

 

“Iya, maaf, ya, gue susah jaim anaknya.”

 

“Hahaha nggak apa-apa.”

 

“Soal kehilangan, gue heran, kenapa gue bisa nangis tersedu-sedu pas anjing gue mati….”

 

“Ini tadi kenapa nggak diceritain, jadi orang yang nanya bisa relate sama rasa kehilangannya?”

 

“Malu lah, gua….”

 

“Hyaah hahaha….”


Danmala hasil respons spontan Maradita.


Kemudian obrolan berlanjut. Serius sebentar, bercanda lagi. Serius sebentar, bercanda lagi. Dan berakhir dengan tertinggalnya salah satu batu danmala Maradita di karpet rumah saya.

 

Begitulah. Ternyata kedua singa yang menjadi bintang tamu Podluck Podcast edisi Zodiak Gembira bukanlah singa ganas yang dilepas di arena gladiator. Mereka adalah singa sirkus yang menghibur dan lucu-lucu.

 

Oh, iya, Teman-teman, ternyata sampai artikel ini selesai dituliskan dan hasil rekaman dikirimkan kepada tim Podluck Podcast, Mae masih belum melahirkan. Mungkin segala kemeriahan itu hanyalah atraksi seru yang ditakdirkan menjadi bagian dalam sirkus kita malam itu.

 

Leo adalah penguasa rumah kelima di chart zodiak. Ada dua hal yang terkait dengan rumah kelima: hubungan dengan anak dan kreativitas.

 

Jadi pas kan dengan bintang tamu kita di edisi Leo?

 

Semoga bintang Legurus (LEGURUS, bukan Regulus) bersinar terang di hati mereka. Memberikan mereka keberanian untuk tetap menjadi cahaya….

 

Zombi datang, semua senang,

Dukun Zombi

 

Untuk mendengarkan obrolan meriah ini, silakan mampir ke sini.




Maradita Sutantio (@atidaram)

Maradita atau Dita adalah perupa, kurator, penulis, dan dosen seni. Dalam karya-karyanya ia berupaya mengangkat hal-hal unconscious menjadi conscious. Sejak tahun 2009, Dita menginisiasi pameran seni serat yang di kemudian hari disebut sebagai kebangkitan seni serat dan tekstil di pameran seni kontemporer Indonesia. Baru-baru ini Dita mengurasi pameran “Multiple Hands” – 10th Anniversary of Mogus karya Mulyana, dkk. di Selasar Sunaryo. Kunjungi Dita di http://maradita.com/

 

Mae Rahayu (@thepunkvironment)

Calon ibu ini adalah Enviro Engineer yang aktif di kegiatan Waste Trading dan Waste Management. Saat ini Mae mengusung gerakan Zero Waste Project. Untuk mengetahui lebih banyak tentang Mae, silakan mampir ke http://thepunkvironment.wordpress.com/

27 Agustus 2018
Dilihat sebanyak
87 Kali
Lainnya...
Di Dalam Brankas Mufti Priyanka a.k.a Amenkcoy
Di Dalam Brankas Mufti Priyanka a.k.a Amenkcoy
Dioscuri hasil karya Yohan Alexander
Sayap Kalong dan Sayap Malaikat di Punggung @Yohan.Alexander
Konspirasi Taurus yang Berenang Mencapai @Ayuma_mandala
 1 2345     >>>
Pabrikultur © 2015