Semesta Harry Potter, 19 Tahun Kemudian
Semesta Harry Potter, 19 Tahun Kemudian

Oleh: Ekky Imanjaya

*Ilustrasi foto diambil dari Independent.co.uk



Harry Potter and the Cursed Child (Parts One and Two)

Penulis: Jack Thorne (berdasarkan cerita asli dari JK Rownling, John Tiffany dan Jack Thorne).

Edisi: Special Rehearsal Edition Script

Tebal: 343 halaman, hard cover

Penerbit:  Little Brown, London

Tahun: Juli 2016

 

 

Masih ingat dengan adegan terakhir di film terakhir Harry Potter  (The Deathly Hallows Part 2) lima  tahun lalu?

Pasutri Harry dan Ginny mengantarkan anaknya, Albus,  ke peron 9 ¾ di stasiun King’s Cross, London. Orang-orang berlalu lalang dengan peralatan sekolah, hewan peliharaan dalam sangkar, sapu terbang, dan kostum Quidditch. Albus takut kalau dirinya dimasukkan Topi Penyeleksi  ke asrama Slytherin. Harry menghiburnya dengan pernyataan: “Albus Severus Potter. Namamu diambil dari dua kepala sekolah Hogwarts ternama. Salah satunya berasal dari Slytherin, dan dia adalah orang paling berani yang pernah ayah kenal”. Dan di dalam kereta api Hogwarts Express itu, dia duduk berhadapan dengan Rose "Rosie" Granger-Weasley, sepupunya. Bagaimana kelanjutannya?

Harry Potter and the Cursed Child adalah jawabannya. Dan, rupanya, sungguh tak mudah menjadi anak seorang penyihir terkenal sejagad.  Albus, tak seperti James abangnya,   tidak punya talenta ilmu sihir seperti ayahnya, dan berkawan dengan anak paling tidak tidak disukai karena reputasi orang tuanya, Scorpius  Malfoy, yang saat di kereta api duduk di sebelahnya. Belum lagi ada gosip yang bilang kawan akrabnya itu adalah anak haram You Know Who. Dan dia masuk Slytherin, pula!

Albus merasa ada semacam tekanan sosial yang seolah mewajibkannya sekeren dan “sesempurna” sang ayah, dan karenanya ia menjadi sangat kritis, akhirnya,  menyebalkan di mata bapaknya.   Harry Potter--kini  37 tahun dan ayah dari James, Albus dan Lily -- tak kepalang bingungnya menghadapi anak keduanya ini. Anaknya ini begitu memberontak dan selalu melawan sang ayah. Selamat datang di dunia Harry Potter, 19 tahun setelah Lord Voldemort dikalahkan.

Fokus cerita adalah seputar pencarian mesin waktu bernama Time Turner. Amos Diggory yang sudah renta, memohon pada Harry ,  yang bekerja di  Kementerian Sihir, untuk mengembalikan nyawa Cedric  anaknya lewat Time Turner, sebuah benda yang belum jelas keberadaannya dan, harusnya,  secara resmi semuanya sudah dihancurkan oleh Kementerian Sihir (ada yang bisa tebak, siapa Menterinya?). Maka, Albus, Scorpius dan Delphini Diggory, keponakan Amos yang sudah menjadi wanita muda, pun bertualang  mencarinya.

Sekali lagi, kita disuguhi dengan alam reka-percaya Harry Potter, lengkap dengan mantra sihir seperti alohomora dan  Lumos. Tak hanya itu, mengingat inti dari cerita ini adalah pencarian  mesin waktu, maka penggemar HP pun diajak kembali memasuki ke peristiwa-peristiwa penting dalam hidup Harry Potter, yang sebaiknya  tak terlalu diungkap dalam tulisan ini demi menjaga keasyikan membaca. Karena ini persoalan mencari Cedric, Turnamen Triwizard adalah salah satunya (masih ingat Dumstrang Institute dan Beauxbatons Academy of Magic?). Nostalgia pembaca (dan penonton)  adalah target utama pemasaran buku ini, yang kebetulan diterbitkan nyaris serentak dengan pentas teaternya di West End (London) pada ulang tahun Harry (31 July).  Kita akan melihat perkembangan karakter Harry, Hermione, Ron, Ginny dewasa.

Sementara, generasi kedua mereka  “menikmati” (sebenarnya “menikmati” bukanlah kata yang tepat untuk menjelaskannya) masa-masa saat Snape dan Voldemort, juga Dumbledore dalam bentuk lukisan bergerak,  masih hidup, dengan cerita dan plot alternatif “bagaimana kalau”. Salah satunya, bagaimana gelapnya kediktatoran Voldemort saat di dunia dimana ia berkuasanya, dan bagaimana perlawanan bawah tanah menghadapinya. Yang terakhir ini, bagi sebagian orang, barangkali bisa dijadikan tamsil dan  juga prediksi paska kemenangan Donald Trump  (yang oleh banyak orang acap diasosiasikan mirip-mirip dengan “The Dark Lord”).  

Buku    ini   berbeda dengan karya JK Rowiling sebelumnya. Formatnya berbentuk skenario, karena memang skenario asli dari pentas Harry Potter and the Cursed Child Part One and Two. Mungkin, bagi sebagian pembaca, pada mulanya tidak terlalu mengasyikkan membaca kisah-kisah ini dalam format skrip. Namun, lama kelamaan juga akan terbiasa, dan akan membayangkan adegan-adegan di dalam buku sesuai fantasi masing-masing.  Dan jika sudah asyik masyuk, kita akan bisa membacanya dalam hitungan hari bahkan jam. Dan, semakin sedikit kita mengetahui cerita dan plot buku ini, semakin baik, karena ada banyak kejutan di dalamnya.

Pada awalnya, sebagian pembaca juga akan kebingungan menghapal karakter-karakter baru, karena sebagian dinamai dengan nama-nama karakter lama. Misalnya Albus Severus Potter yang berasal dari nama Dumbledore dan Snape. Atau James Sirius Potter, sang abang, yang diambil dari nama kakek dan kakek permandiannya.

Hal lain yang patut dicatat adalah pasar buku ini yang sempit dan menargetkan pembaca yang sudah menguasai pengetahuan trivia dari semesta Harry Potter, misalnya Hogsmead, Forbidden Forest,  atau Privet Drive di dunia muggle. Bagi yang bukan penggemar setia buku atau filmnya, perlu beradaptasi dengan kejadian, istilah, nama-nama karakter, dan konteks cerita  yang pernah muncul dalam 7 buku sebelumnya.

2016 merupakan tahun kembalinya Harry Potter. Studio Harry Potter di daerah kini dilengkapi dengan kereta api Hogwarts Express dan bisa makan malam di aulanya dengan membayar harga yang cukup mahal.  Pentasnya laris manis dan tiketnya laku ribuan lembar dan sulit didapat.  Dan menimbulkan debat karena Hermione berkulit hitam.   Dan November  ini beredar pula  film Fantastic Beasts and How to Find Them, yang mengambil setting 1926 alias 70 tahun sebelum serial Harry Potter dimulai.

Cursed Child, janji JK Rowling, adalah kisah terakhir dunia Harry Potter, walau film Fantastic Beast disinyalir akan dirilis dalam beberapa serial film.

Jadi, siapa dan bagaimanakah si Anak Terkutuk? Silahkan baca sendiri buku ini.  Selamat datang di semesta Harry Potter, 19 tahun kemudian.

 

(Ekky Imanjaya, dosen film Universitas Bina Nusantara; mahasiswa S3  Departemen  Seni, Media, dan Kajian Amerika, University of East Anglia).

14 November 2016
Dilihat sebanyak
1275 Kali
Lainnya...
13 BUKU TERBAIK 2015 (Bagian Dua)
13 BUKU TERBAIK 2015 (Bagian Dua)
13 BUKU TERBAIK 2015 (Bagian Satu)
13 BUKU TERBAIK 2015 (Bagian Satu)
Rabu Itu Biru
Rabu Itu Biru
 1 2     >>>
Pabrikultur © 2015