
1.
Salah satu masalah terbesar manusia adalah kehadiran orang lain. Anda bisa membaca naskah drama Sartre, Pintu Tertutup, untuk soal ini. Tapi, tanpa Sartre pun, kita mengalami sendiri masalah ini. "Orang lain" adalah yang harus dipahami, ditanggapi, dan kadang bahkan harus diatasi, dalam hampir seluruh keseharian kita. "Orang lain", dalam berbagai bentuknya, adalah pihak lain, yang selalu kita hadapi untuk bernegosiasi.
Jika kita jatuh cinta, atau dicintai, kita sedang menghadapi masalah musykil: bagaimana meleburkan diri kita pada yang kita cintai atau mencintai kita? Tapi yang kita cintai atau yang mencintai kita, hakikatnya, tetaplah orang lain. Cinta adalah dilema bagaimana mengatasi diri sendiri agar orang lain, seseorang yang istimewa itu, lebur jadi bagian diri kita. Sebuah perjalanan dari "aku", menuju "kami" hingga "kita".
Setidaknya, itulah yang menjadi tema film ini. Rayya, Cahaya di Atas Cahaya, patut dicatat sebagai sebuah upaya sadar kerjasama Viva Westi (sutradara, penulis naskah) dan Emha Ainun Najib (penulis naskah). Dalam wawancara dengan filmindonesia.or.id Viva mengungkapkan bahwa ia memang sengaja mengajak Emha untuk bisa menuliskan hal-hal yang, ia rasa, generasinya tak bisa menuliskan.
Maka, film ini adalah pertemuan dua generasi. Viva Westi sebagai generasi yang tumbuh pada 1990-an dan besar serta bekerja pada 2000-an, dengan Emha yang tumbuh pada 1970-an. Viva mewakili generasi visual, Emha mewakili generasi aksara. Viva mewakili dunia kaum digital, Emha dari dunia kaum analog.
Terlihatlah pertemuan itu mewujud dalam film ini. Rayya adalah sebuah film yang terampil dalam mencipta imaji visual, tapi terasa benar percaya sepenuhnya pada kata. Emha, yang memang penyair, terasa hadir dan memberi warna, membuat film ini bercorak "film lama", yakni film yang penuh kata-kata, karena memang cerita bergerak oleh kata, bukan oleh adegan atau gambar. Viva terasa rela meleburkan diri dan dunia visualnya dalam dunia kata itu.
Cerita film ini pun ndilalah memang bercerita tentang perjumpaan dua generasi itu: Rayya, perempuan muda penuh drama; dan Raya, lelaki yang jauh lebih tua dari Rayya, dengan segala kematangannya.
2.
Alkisah, Rayya (Titi Rajo Bintang –saat main film ini, dia masih menyandang nama Titi Sjuman) adalah seorang mahabintang di Indonesia. Ia menjalin cinta dengan seorang pilot (terlihat dari seragamnya, tapi tak pernah dijelaskan benar), Bram, yang ternyata telah berpasangan. Bram memutuskan mereka harus berpisah. "Jadi, kamu lebih memilih dia?" tanya Rayya. Si Pilot menjawab, "aku memilih kamu. Tapi, dia istriku."
Rayya, sang Diva yang patah hati, mengiyakan sebuah perjalanan darat sepanjang Jawa untuk kepentingan berfoto-foto bagi sebuah proyek buku komersial tentang kebintangannya. Secara sangat karikatural, Viva dan Emha menggambarkan orang-orang di lingkaran dalam kebintangan Rayya: penata rias dengan pasangan homoseksualnya, wartawan angkuh sebagai penulis, penerbit yang selalu menghitung untung, manajer yang selalu memanjakan, fotografer muda yang bergaya sangat urban dan tipikal "anak agensi" di Jakarta kiwari.
Orang-orang karikatural itu, termasuk Rayya, tampak bercakap dengan bahasa "tinggi" yang ganjil. Mereka berkomunikasi dengan serba-serbi konsep yang abstrak. Kata-kata mereka menjadi semacam tabir untuk menutupi siapa mereka sesungguhnya di balik kata-kata abstrak itu. Kata-kata mereka adalah pakaian, kostum haute couture. Dengan kata-kata abstrak itulah mereka menggambarkan Rayya, mencoba memahami Rayya.
Rayya sendiri tampak mencoba melawan kata-kata abstrak yang mendefinisikan dirinya. Tapi ia adalah seorang Diva bingung. Ia punya hak istimewa untuk melakukan apa pun, justru karena itu ia tak mampu melakukan apa pun dalam menghadapi patah hatinya. Ia hanya melawan, dengan kata-kata yang diteriakkan, dengan kata-kata yang menyakiti. Dengan kata-kata yang abstrak juga.
Ketika perjalanan dimulai, Rayya hanya mau melakukannya berdua saja dengan si fotografer sengak, Kemal (Alex Abad). Artinya, tak ada awak tata lampu dan tata rias serta tata pakaian macam-macam. Sesuatu yang sama sekali tak masuk akal dalam konsep fotografi Kemal. Tapi Rayya adalah diva. Kemauannya harus dituruti. Kemal, dengan segala lagak congkaknya, tak bisa menolak segala mau Rayya.
Toh akhirnya Rayya mengusir Kemal, karena Kemal bohong. Apakah bohong? Ketaksesuaian kata dengan kenyataan, secara sengaja. Rayya melawan kata-kata kosong. Ia benci kata-kata kosong. Kita bisa menduga bahwa ia sedang patah hati. Ia sedang dilanda benci, karena cinta baginya terasa omong kosong. Jika cinta hanyalah kata-kata kosong, apa yang berharga pada dunia ini?
Lalu, datanglah Arya (Tia Pakusadewo). Ia fotografer senior, juga sedang berjuang melawan kebencian karena dikhianati istrinya. Tanda generasi dilekatkan film ini pada alat fotografi Arya. Gambaran tim buku biografi Rayya di Jakarta tentang Arya: fotografer yang lebih memilih kamera analog dibanding kamera digital. Yang dilakukan Arya adalah "fotografi manusia, bukan fotografi teknik."
Gaya Arya beda dengan gaya Kemal. Gaya Arya ngemong, tak keberatan dengan apa pun yang mau dilakukan Rayya. Termasuk ancaman Rayya untuk bunuh diri. Selalu paham tapi seperti tak perduli segala drama Rayya, Arya punya banyak persediaan kata yang bukan dusta. Ia lelaki yang punya pandangan yang beda sama sekali dari Rayya soal hidup, cinta, dan bagaimana menanggapi orang lain.
Demikianlah, perjalanan Rayya yang sesungguhnya baru mulai –bersama Arya.
3.
Mau tak mau, akan ada yang teringat Cinta Dalam Sepotong Roti karya Garin Nugroho, saat menonton Tio Pakusadewo menjepret seorang perempuan dalam sebuah perjalanan sepanjang tanah Jawa. Dalam film fiksi layar lebar pertama Garin itu, Tio juga jadi fotografer yang ikut serta dalam sebuah perjalanan darat dengan mobil. Road movie macam begini membuka peluang pertumbuhan karakter dalam sebuah gerakan cerita yang intim.
Dan, tentu, membuka peluang filmis yang serba memberdayakan lanskap. Apalagi jika si tokoh memang membawa-bawa kamera. Bagi Garin, dulu, kamera dan perjalanan itu memberi alasan bagi filmnya yang ia katakan sendiri sebagai "bertumpu pada estetika gambar". Ungkapan Garin itu untuk membedakan diri dari film-film Indonesia lama yang didominasi oleh akar teater sejarah film Indonesia –artinya, film-film yang bertumpu pada kata.
Dalam Rayya, kata kembali meraja. Viva sang anak generasi visual, seakan merindu puisi verbal. Tapi, Rayya bukanlah film yang mengakar pada teater sepenuhnya. Para tokohnya, terutama Rayya, sering teatrikal. Emha sang penulis-mitra naskah film ini pun jelas biangnya teater. Tapi unsur teater dalam film ini luluh menjadi hanya salah satu unsur belaka dalam Rayya.
Dalam salah satu adegan, siluet Rayya dan Arya di kejauhan, berlatar jingga senja, bercakap-cakap tentang apakah Rayya adalah kegelapan. Adegan ini teatrikal, tapi juga sangat visual.
Lebih penting lagi, adegan itu dicipta untuk menyampaikan sesuatu. Dua orang semula saling asing, sedang menjadi saling kenal, dan mencoba memahami satu sama lain: bagaimana mereka menanggapi kegelapan di seputar mereka dan dalam diri mereka? "Aku memang sedang gelap, tapi aku bukan kegelapan," kata Rayya.
Arya adalah seorang yang optimistik, jika disandingkan dengan Rayya yang masih serba marah. Tapi Arya bukanlah seorang dewa, walau Rayya menuduhnya begitu. Arya juga penuh luka. Tapi ia punya kelemahan, yang rupanya jadi kekuatannya juga: ia tak mampu menyalahkan istrinya, juga siapa pun. Ia hanya memikul luka-lukanya sendiri, menjadi diri sendiri yang selalu menanggapi orang lain apa ada mereka.
Rayya dan Arya berjalan semakin jauh dalam perjalanan darat mereka, juga semakin jauh berjalan ke dalam diri mereka sendiri. Mereka semakin saling paham. Dan tentu saja, mereka adalah lelaki dan perempuan. Mereka, bisa ditebak belaka, jadi saling tertarik.
Tapi, ini bukan kisah cinta banal antara seorang lelaki paruh baya dengan seorang perempuan muda penuh ledakan. Ini kisah bagaimana dua pribadi mencoba menjelajahi kemungkinan-kemungkinan berhubungan dengan orang lain.
Rayya yang putus asa di awal perjalanan merasa dirinya telah hilang, dan menenggelamkan diri dalam kata-kata yang diteriakkan. Ia, ingin membunuh diri, karena toh dalam cintanya pada Bram, dirinya telah hilang, diperlakukan seenaknya oleh orang lain yang celakanya pernah istimewa itu. Arya, saat cintanya terasa percuma karena kemudian ditampik, dinihilkan, oleh istrinya, malah menemukan dirinya semakin kuat. Dua orang terluka itu, Arya dan Rayya, lantas berjumpa dan berjalan bersama.
Di perjalanan, mereka menjumpai nelayan, ibu warung kopi di sudut jalan entah di mana, rombongan pengantin desa yang mogok mobil mereka, bude budheg yang membuka sekolah anak di desa, gadis-gadis pelinting rokok, orang gila yang selalu ramah menyapa setiap orang, seorang ibu penjual karak, ibu-ibu pasar penjual ikan, seorang ibu dan anaknya yang jadi pemecah batu di tengah terik yang tajam…
Orang-orang lain itu, mereka yang asing dan nyaris tak bernama, jadi bagian dunia perjalanan Rayya dan Arya, membantu mereka lebih memahami diri mereka sendiri.
4.
Emha memberi ruh sufistik pada film ini. Viva sendiri sebetulnya mengajak Emha karena mencari sesuatu yang ia rasa ilusif pada generasinya: kejujuran. (Baca wawancara Viva dengan filmindonesia.or.id)
Hasrat akan kejujuran dan suntikan ruh sufi membuat film ini salah satu yang terpenting dicatat pada 2013. Di tengah industri motivasi yang penuh kata-kata "inspiratif" yang sangat terkomodifikasi (sangat dikomersialkan), dan di tengah maraknya film-film "religius" yang sering kali sukar dibedakan dari film-film "motivasi", Rayya menjadi sesuatu yang lain.
Sudut pandang sufi dari Emha sungguh menyegarkan jika kita jeli memerhatikan. Tengok adegan saat Rayya sadar tasnya ketinggalan di hotel. Lalu ia melihat seorang Emak memakai rompinya yang berharga sepuluh juta rupiah. Rompi itu dipakai si Emak ke pasar, untuk berjualan ikan!
Percakapan Rayya yang mau nangis melihat rompi indah sepuluh jutanya dengan Arya yang nyaris ngakak melihat nasib Rayya, adalah sebuah pelajaran relatifnya nilai dan hak milik dalam ekonomi modern. Percakapan itu mengajari kita sebuah sudut pandang sufistik tentang sikap zuhud atau tak mementingkan kepemilikan. Kalau kita harus menangisi seluruh benda yang bisa kita miliki di dunia ini, paling jatah tangisanmu untuk rompi itu hanya setengah tetes air mata, kata Arya.
Sudut pandang sufi itu pula yang mewarnai perjalanan batin Rayya dan Arya mengobati luka-luka hati mereka. Di jantung pandangan sufi, adalah persoalan bagaimana kita membangun atau menghilangkan Diri. Di hadapan Sang Maha Cinta, Diri seseorang guncang dan kehilangan makna. Dalam kehilangan itulah, ia menemukan Diri sejati –sebagai bagian dari Sang Maha Cinta.
Dan sudut pandang itu kadang bisa masuk dari percakapan yang seolah dangkal atau biasa saja. Rayya bertanya pada Arya, untuk orang seumuran Mas Arya kok masih suka dipusingin masalah cinta? Arya menjawab, "orang, kalau jujur pada dirinya sendiri, sampai mati pun akan dipusingkan masalah cinta." Walau mereka sedang bicara tentang cinta antara lelaki-perempuan, kita pun lantas bersiap akan perbincangan sebuah cinta yang lebih besar dari itu.
Itukah Cinta yang layak untuk zaman ini? Dengan itukah kita memahami cinta kita pada orang lain? Dan seorang manusia yang menghilangkan diri ketika mencintai seseorang lain, apakah akan menemukan dirinya pada akhirnya?
Emha dan Viva memberi kelokan asyik di akhir film. Seusai perjalanan, Rayya menemukan bahwa orang lain bukanlah sekadar mereka yang ia kenal secara pribadi. Orang lain bisa jadi adalah mereka yang tak bernama, yang ia jumpai dalam perjalanan, dan mengajari Rayya bahwa ada yang lebih besar dari dirinya. Kita bisa seumur hidup memikirkan diri sendiri, tapi hakikatnya kita tak lebih dari bagian orang lain yang lebih besar.
Dalam perjalanan itu Rayya (dan kita) berjumpa dan belajar, antara lain, dari Budhe-nya Arya (dimainkan dengan kuat oleh Christine Hakim) yang mendirikan sekolah dengan "kurikulumnya ya kehidupan itu sendiri…bersyukur, rajin, ulet…" Sebuah sekolah desa yang bisa menerima anak autis dengan baik, dengan Bu Guru budheg yang disalimi anak Punk berambut Mohawk saat berpapasan di tengah sawah. Ada banyak orang lain.
Memberi diri buat mereka, orang lain aneka warna itu, jadi pelajaran terbesar dalam religiusitas film ini. Jauh dari jenis religiusitas "inspiratif" yang hakikatnya hanya mengajarkan keselamatan diri sendiri di dunia dan akhirat seperti yang banyak diajarkan di media kita belakangan ini.
Film ini hendak bicara bahwa orang lain bukanlah neraka, tapi cahaya. Cahaya di atas cahaya, sekiranya saja kita bisa belajar mencintai mereka. Mereka yang tak bernama, yang tak akan terpandang oleh kita jika kita sibuk oleh persoalan diri sendiri yang tak akan ada habisnya.
5.
Tentu, bagi kebanyakan penonton muda saat ini, film ini kemungkinan sulit dicerna pada mulanya. Kata-katanya terlalu "serius", penyampaiannya terlalu ganjil bagi generasi yang dibesarkan dengan film-film yang condong menyuburkan short attention disorder (penyakit perhatian serba-pendek). Film-film dengan teknik rapid cuts (editan serba-cepat), efek visual yang fantastik, serta efek suara serba hingar yang mendominasi bioskop kita lebih dari satu dekade ini, semua mendorong kita berpikir bahwa kedalaman adalah ilusi.
Rayya mencoba menepis itu. Berhasilkah? Gagalkah? Bukan soal, rupanya. Film ini hadir dan menyatakan diri, dalam keganjilan dan kesahajaannya. Film ini bukan jenis film yang dirancang untuk mengejutkan, atau menakjubkan. Tapi ini film yang bisa dikangeni.
Kita bisa mengikuti perjalanan Rayya dan Arya, sambil berjalan jauh memasuki batin kita masing-masing, dan menemukan cahaya kita sendiri. ***
Jagakarsa-Kemang, Juni 2013.
5756 Kali





