Henry Ismono, dan Model Bisnis Komik Saat Ini
Henry Ismono, dan Model Bisnis Komik Saat Ini
Oleh: Hikmat Darmawan


Henry Ismono, saya biasa panggil "Mas Henry", agaknya sedang gembira hati saat kami jumpa di kantor saya, Kamis kemarin, 2 Juni 2016. Sudah beberapa kali datang ke kantor Pabrikultur di Bendungan Hilir. Tentu urusan komik, apalagi? Komik Indonesia, tepatnya. 

Mas Henry memang salah satu yang berada tepat di tengah pusaran pergerakan komik Indonesia selama kurang lebih sepuluh tahun terakhir. Dia adalah seorang jurnalis yang semakin lama semakin kokoh sebagai kolektor dan pengamat komik Indonesia. Rumahnya bagaikan museum komik Indonesia yang padat. Nyaris tak ada ruang yang selamat dari tumpukan komik koleksinya –agaknya hanya toilet, dapur, dan ruang atas yang ditempati keponakannya yang tak ditumpuki komik. 

Bahkan di lemari baju, meja kerja di kamar tidurnya, juga tempat tidurnya sendiri, ada saja komik-komik Indonesia lawasan menyembul. Meja tamu dari kayu, ternyata berat bukan karena terbuat dari jati, tapi karena laci-lacinya yang tersembunyi berisi komik-komik lawasan pula. Saya selalu betah jika main ke rumah Mas Henry –selalu ada pengetahuan baru, hanya dengan ngoprek lemari-lemari Mas Henry. Dinding ruang tamunya pun dihiasi beberapa gambar asli goresan tangan Man, Hasmi, Eroest, dan lain-lain.

Ada lebih 5000 jilid komik Indonesia yang merentang sejak buku komik di masa awal industri komik Indonesia, terbitan sekitar 1952-53, hingga terbitan-terbitan komik indie terbaru dari Pakoban (Pasar Komik Bandung) ke-3 bulan lalu, di rumah Mas Henry. Menariknya, bagi Mas Henry, itu hanya secuil saja dari sejarah komik Indonesia.

"Saya ini makin yakin, Mas, kalau koleksi yang saya punya itu hanya 1% saja dari komik Indonesia yang pernah terbit," kata Mas Henry dengan semangat sekaligus risau. 

Mas Henry berkeyakinan demikian karena rajin menelaah halaman-halaman iklan komik-komik lawasan Indonesia. "Saya itu sering frustasi, Mas, kalau baca halaman-halaman iklan itu …'Telah terbit anu'…atau, 'Masih tersedia anu'…walah, bagaimana coba bisa ketemu itu komik-komik yang diiklankan itu?" Ada jauh lebih banyak komik lawasan kita yang tidak terlacak lagi, ketimbang yang sudah terlacak. 

Pun, komik-komik lawasan itu jika telah terlacak, jadi rebutan para kolektor. Sejak awal atau pertengahan 2000-an, komunitas kolektor komik lawasan Indonesia merebak. Banyak dari kolektor itu rela mengeluarkan jutaan rupiah untuk sebuah judul komik yang dianggap langka dan bermutu tinggi serta masih dalam keadaan bagus ("mint") dan merupakan "C1" (atau, cetakan pertama). 

Termasuk Mas Henry sendiri. Telah kurang lebih sepuluh tahun ia mengoleksi komik, dan banyak suka duka, selik melik, lika-liku mencari dan mengoleksi komik lawasan Indonesia yang seru ia ceritakan jika ada kesempatan mengobrol. 

Salah satu kesimpulan yang kita dapat dari segala lakon Mas Henry dalam perburuan komik lawasan itu: industri komik Indonesia sempat besar sekali. Hal itu terlihat dari tiga hal: (1) banyak judul komik yang pernah terbit sejak 1950-an (jika kita menghitung komik setrip di media, maka sejak 1920-an) dengan ragam genre yang kaya, (2) sebaran komik Indonesia yang terbit di kota-kota besar maupun kecil nyaris ke seluruh bagian Indonesia, dengan best sellers seperti komik wayang RA. Kosasih yang terbit di Bandung bisa menjangkau Manado atau Medan, (3) jumlah oplag atau cetakan yang bisa mencapai 30 ribu eksemplar di saat terbit. 

Lantas, bagaimana dengan keadaan industri komik Indonesia saat ini? Mas Henry pun rajin mengikuti. Ia secara aktif membeli komik-komik baru yang terbit melalui penerbit besar dan beredar secara luas di toko-toko buku besar (khususnya, jaringan retail buku terbesar di Indonesia, toko buku Gramedia) maupun komik-komik yang terbit secara independen (jarang yang masuk toko buku Gramedia). 

Dua tahun belakangan, Mas Henry mencatat adanya kenaikan jumlah judul komik Indonesia yang terbit. Kebanyakan, terbit secara independen, dan hanya bisa dijumpai di acara-acara komik yang khusus, seperti Popcon, Comicfest Indonesia, Jakarta Comicon, Pakoban, dsb. Pada saat melakukan seleksi awal untuk penjurian Kosasih Award 2016 di rumah Mas Henry, nun di Tangsel sana, Mas Henry menyampaikan perhitungan kasar. Sejak Mei tahun lalu saja hingga Mei 2016, untuk seleksi Kosasih Award, Mas Henry sudah mencatat 320 judul komik baru dari koleksi Mas Henry dan Akademi Samali. Itu di luar komik KKPK dan komik anak terbitan Mizan lainnya. 

Ketika ke Comicfest Indonesia saja, yang berlangsung di gedung Smesco, Jakarta, pada 28-29 Mei 2016 lalu, Mas Henry membeli 70 judul komik baru. Mas Henry senang sekali pada acara Comicfest itu. "Kalau di acara kayak Comicfest itu, komik terasa sekali dirayakan," kata Mas Henry. Dan dia memuji Re:On yang kata Mas Henry mengadakan acara tersebut. 

Re:On adalah nama antologi komik bulanan, sekaligus sebuah perusahaan komik Indonesia, yang bersama Studio Caravan, didirikan oleh Chris Lie dan kawan-kawan. Chris Lie adalah komikus Indonesia pertama yang belajar secara khusus tentang komik di Savannah University, dan terhitung salah satu pelopor dalam menembus industri komik Amerika. Pada saat ia menikmati sukses di AS, Chris Lie memilih pulang untuk ikut memajukan komik Indonesia. 

Lalu, Chris Lie mendirikan Re:On, dan dengan sadar memilih gaya manga sebagai produk utamanya. Hal itu murni pertimbangan bisnis, sebuah upaya memanfaatkan kesukaan pasar komik di Indonesia terhadap komik-komik terjemahan yang aslinya dari Jepang. Terbitan bulanan itu cukup konsisten terbit tiap bulan satu volume yang terdiri dari ratusan halaman komik karya aneka komikus muda Indonesia –dan lama-lama, menyisip pula komik-komik bergaya non-manga.  

"Hebatnya Re:On, mereka mampu membuat komunitas komikus yang bagus," kata Mas Henry. Chris Lie sendiri, sehari sebelum kedatangan Mas Henry ke Pabrikultur, sempat presentasi di sebuah sekolah swasta bersama saya, dan di situ Chris menyebut bahwa ia kini mempekerjakan 40 komikus muda. Belum lagi, komikus-komikus amatir yang mengirim karya-karya mereka ke Re:On, dan kadang dimuat jika dianggap bagus. 

Re:On adalah salah satu dari lima antologi komik kiwari yang terbit rutin dan dipandang Mas Henry saat ini paling menonjol dari segi bisnis. Empat lainnya: antologi komik Kosmik terbitan Studio Stellar, Fantasteen terbitan grup Mizan, Shonen Fight yang dikelola oleh MKI (Masyarakat Komik Indonesia), dan KMI Roket yang diterbitkan oleh M&C! dan Koloni. Seluruhnya berbasis produk komik Indonesia bergaya manga, walau agak khusus buat Kosmik, yang kreatornya banyak juga komikus untuk komik-komik Amerika terbitan a.l., DC Comics dan Marvel Comics.

Antologi yang dipujikan Mas Henry adalah Kosmik dan Fantasteen. "Kosmik itu terbitnya memang tak sesering Re:On, tapi dia berhasil menghimpun komikus-komikus yang unggul. Makanya, komik-komik yang terhimpun di dalam Kosmik itu selalu mengesankan, dari segi gambar maupun cerita. Saya tak sabar menunggu cerita-cerita itu tamat dalam antologi, lalu terbit sebagai buku individual," kata Mas Henry.

Model terbitan khusus setelah terbit secara berseri di dalam antologi, kata Mas Henry, sering dilakukan oleh seri Fantasteen. Dan praktik demikian bagus dalam menjaga keterikatan pasar dengan komik-komik dalam naungan Fantasteen. "Seri Fantasteen ini kan menangnya karena telah lebih dulu punya basis pasar, yakni seri cerita remaja horor. Setelah laris seri cerita remaja tersebut, lalu keluarlah seri komik, terbit bulanan. Dan seri komik itu pun tidak hanya satu jenis," kata Mas Henry.

Di samping menerbitkan sebuah judul komik individual yang dianggap bagus dan laris, setelah serinya tamat di seri antologi Fantasteen, mereka juga gemar menerbitkan Fantasteen Mix, yang isinya judul-judul unggulan dibundel jadi satu dan terbit secara berseri lagi. Maka jelas, dari segi jumlah produksi, pun oplag per judul, seri Fantasteen ini boleh dibilang penerbitan komik paling sukses di Indonesia saat ini. 

"Uniknya lagi, Mas, untuk seri atau brand komik Fantasteen ini, mereka juga mengundang para pengarang KKPK (Kecil-kecil Punya Karya, salah satu seri sukses dari grup Mizan, yang menerbitkan karya fiksi buatan anak-anak dan para remaja dari seluruh Indonesia), sehingga antologi mereka jadi interaktif, ada ruang bagi para pengarang anak yang bukan komikus profesional untuk membuat komik," kata Mas Henry lagi. 

Tentu saja, pendekatan itu semakin melariskan produk-produk Fantasteen, sebagaimana gimmick serupa memang telah membuat sukses fenomenal seri KKPK. Dari segi bisnis, ketiga antologi itu terbukti telah berhasil, menurut Mas Henry. Memang, kita bisa simpulkan bahwa ketiga antologi itu praktis telah menemukan model bisnis komik yang berbeda tapi tampak patut diperhitungkan untuk jadi model bagi pengembangan industri komik Indonesia selanjutnya. 

Ada pun dua antologi komik yang lain, Mas Henry masih melihat kekurangan mereka sebagai produk bisnis. Shonnen Fight, menurut Mas Henry, masih terlalu bergaya manga, seakan kloning sebuah terbitan Jepang, hingga sukar mencari komikus berciri kepribadian dan gaya yang kuat di situ. Sementara KMI Roket, menurut Mas Henry, masih belum berhasil menemukan komikus-komikus unggul, sehingga dari segi produk komik tampaknya tak terlalu mengesankan. 

Di luar kelima antologi itu, tentu saja Mas Henry tak luput mencatat berbagai jenis antologi terbitan independen yang tak bergaya manga. Bahkan beberapa mencoba mengembangkan lebih jauh gaya "Cergam" yang dianggap sebagai otentik bagi sejarah komik Indonesia. 

Kebanyakan terbitan independen itu belum berhasil menembus jangkauan luas, dan hanya beredar dari kelompok ke kelompok lewat berbagai event komik khusus maupun secara online. Artinya, belum bisa jadi model bisnis yang pas untuk sebuah industri komik yang kita harapkan. 

Soal harapan, itulah yang membuat Mas Henry tampak gembira di hari itu. Di samping merasakan suasana yang memberi harapan baik bagi industri komik Indonesia saat menghadiri Comicfest Id, Mas Henry juga cerita pengalamannya jadi kurator komik bagi persiapan Frankfurt Book Festival dan Festival Buku di Beijing, beberapa hari sebelumnya. 

Ia merasa senang, makin banyak yang memerhatikan komik Indonesia saat ini. Sebuah keadaan yang menjanjikan bagi masa depan komik kita. ***

04 Juni 2016
Dilihat sebanyak
2433 Kali
Lainnya...
Derby Sumule (Coffeewar): Memunculkan Potensi Kopi
Derby Sumule (Coffeewar): Memunculkan Potensi Kopi
Pabrikultur © 2015