BUKU-BUKU LOAK DI DUNIA MAYA (Bagian 2)
BUKU-BUKU LOAK DI DUNIA MAYA (Bagian 2)
Oleh: Hikmat Darmawan

Saya mendapatkan setumpuk (sekitar 50-an edisi) majalah Star Weekly terbitan 1950-an, nomor acak, dengan harga sekitar Rp 600 ribuan. Lalu, bisa sedikit-sedikit melengkapi novel remaja karya Djokolelono, seperti Getaran (Pustaka Jaya, 1972) dan Jatuh ke Matahari (Pustaka Jaya, 1976). Djokolelono adalah salah satu pelopor novel sci-fi di Indonesia. Maka, senang pula saya ketika mendapatkan novelnya yang non-sci-fi, Peristiwa di Palungloro (Pustaka Jaya, tahun tak tercatat).

 

Saya jadi bisa mengoleksi seri Imung, Kiki dan Komplotannya, dan Keluarga Cemara –karya-karya Arswendo Atmowiloto yang mulanya diterbitkan sebagai cerpen di majalah Hai pada 1970-an hingga 1990-an. Seri Elang dan Seri Kancil dari Gramedia, dua lini bacaan remaja karya pengarang lokal atau internasional (biasanya digubah atau disadur agar jadi bacaan remaja Indonesia yang enak dibaca dan ringkas). Pun bacaan-bacaan remaja terbitan Balai Pustaka, yang melimpah pada 1980-an, di saat ada program Buku Inpres.[1]

 

Dan majalah Hai, aduhai. Saya ingat masa kecil saya, hingga masa remaja. Majalah Hai yang mulai saya beli pada 1978-9, banyak sekali memuat cerita dalam bentuk tulis dan komik. Seri Arad dan Maya, seri Steven Severijn, seri Rahan, seri Trigan, seri Storm, juga sederet komik pendek yang digarap oleh komikus legendaris Indonesia seperti Jan Mintaraga, Ganes TH, Teguh Santosa, Wid NS, Hasmi, dsb. Lalu, cerbung karya Katyusha, Gola Gong, serial cerita karangan Arswendo, cerpen-cerpen karya Leila S. Chudory, Mohammad Sobary, dan banyak lagi. 

 

Majalah Hai (juga majalah Kawanku, Eppo[2], dan kadang Ananda atau Tom Tom) jadi pintu ke dunia lain yang ajaib. Dunia yang tidak sehari-hari, khayali, memberi perasaan begitu banyak pilihan dunia di luar dunia membosankan dan kadang membuntukan yang saya jalani sehari-hari. Dunia petualangan. Dunia romantik. Dunia masa silam yang eksotik. Dunia jauh yang suatu saat bisa saya sambangi. Yang asing, yang tak sehari-hari, menjadi yang ajaib.

 

Ah, saya perlu jelaskan sedikit. Segala dunia asing yang menakjubkan itu, terutama terasa menakjubkan jika saya membaca komik-komik di majalah-majalah itu. Sementara, di sisi lain, cerita seperti serial Imung, berakar pada dunia keseharian yang dekat, yang tiba pada benak saya lewat TVRI, obrolan teman, atau koran-koran dari Kompas hingga Pos Kota. Tapi, bacalah Imung –ia memberi aspek khayali ketika menutur seorang remaja (seperti saya waktu itu) bisa mengalahkan orang-orang dewasa. 

 

Kenangan akan keajaiban dunia lain itu masih melekat, ternyata. Ketika agen-agen kenangan berupa buku lawas yang dulu pernah saya baca atau saya inginkan itu lewat di linimasa FB, saya tercekat, meraihnya. Malah, jadinya lebih dari itu. Lebih luas lagi. Bukan hanya agen kenangan pribadi, agen kenangan kolektif bangsa pun lewat, dan saya raih. 

 

Buku-buku lawas yang terbit sebelum saya lahir, dan saya tak pernah tahu ada, misalnya, terbitan-terbitan bacaan anak dari penerbit J.B. Wolters-Groningen, yang banyak memakai gambar ilustrasi karya Jetzes yang sangat sukai, ternyata. Atau novel-novel picisan (pulp fiction) seperti Majat Wanita Jang Telandjang (Penerbit Analisa, 1955), dan begitu banyak judul dari Motingge Busje sejak akhir 1960-an hingga 1980-an. 

 

Bahkan buku-buku pelajaran atau pendukung pelajaran sekolah pun saya cokok. Seperti buku Ajo Pada Nembang (Noordhoff-Kolff N.V., 1955) atau beberapa buku pelajaran bahasa Jawa. Saya merasa seperti sedang menyusun keping-keping puzzle (sejarah) Indonesia. Jikalau sudah pesan, dan buku sudah datang beberapa hari setelah saya transfer uang kepada si penjual online, ada rasa kemenangan dan puas seperti yang saya sebutkan di atas. 

 

Tapi, sering juga rasa puas itu hanya sejenak saja. Segera rasa puas itu dikerumus oleh rasa bersalah. Bagaimana pun, ini seperti lakon pencandu. Lagipula, saya kan bukan orang kaya. Tapi, ada sesuatu yang lebih dari sekadar penghitungan uang dalam rasa bersalah itu. 

 

Saya bertanya-tanya, apa makna dari kegemaran saya membeli buku-buku lawas itu? Ada sebersit perasaan sedang menyelamatkan keping-keping sejarah Indonesia. Walau mungkin itu tidak sepenuhnya keliru (saya bisa jadi memang sedang melakukan akuisisi arsip budaya popular), tapi naratif heroik seperti itu selalu saya curigai. 

 

Jangan-jangan, saya hanya sekadar terjangkit penyakit "penimbun" (hoarder). Itu kan sejenis penyakit jiwa. Jelas, saya sangat curiga bahwa setidaknya saya sedang terjangkit sejenis kecanduan. Tapi, bisa jadi juga ini semacam kecemasan-kecemasan akan keberartian. 

 

Saya hidup menimbun, saya hidup dalam timbunan. Timbunan benda-benda, ide-ide, informasi-informasi, data-data. Modernisme tahap lanjut ditandai oleh bergesernya nilai dan lakon transaksional dari benda ke makna secara sangat intensif, ketika nilai ekonomi semakin didominasi oleh hal-hal abstrak dan semakin menjauh dari hal-hal konkret. 

 

Ketika pada 1980-an sistem kartu kredit mendunia, dan juga pertukaran nilai mata uang diperdagangkan bersama saham dibursakan secara mapan, di situ kita melihat pertumbuhan nilai abstrak uang tumbuh jauh melebihi nilai konkretnya. Nilai uang yang berputar melebihi nilai uang yang beredar. Hutang menjadi sistem. Dengan demikian, pembelian barang-barang semakin mudah, cepat, dan ringan. 

 

Ini bukan sekadar segi psikologis tindakan membeli saja –walau jelas ada, pengaruh psikologis pertumbuhan eksponensial perputaran uang itu bagi individu dan masyarakat. Dengan perubahan tersebut, konsumsi masyarakat pun mengalami babak baru: sebuah Ekonomi Konsumsi yang tak lagi berakar pada industri (reproduksi benda lewat pabrik-pabrik), tapi pada perputaran keuangan (finance). 

Saya menekuri ini sebagai sebuah lakon budaya. Semacam kecurigaan: apakah Ekonomi Konsumsi tahap lanjut itu adalah juga sebuah revolusi kultural, sebuah ledakan besar penciptaan makna?  

 

Dalam situasi demikian, barang tak lagi sekadar barang. Benda tak hanya benda. Merk mengatasi fungsi. Kualitas intrinsik kebendaan masih ada, tapi harga lebih disematkan pada makna yang melekat (atau dilekatkan) pada suatu benda. Hal yang dulu mungkin hanya lazim di dunia seni rupa, kini merembes ke tas kulit, komputer, jeans, perumahan, dan, ya, buku-buku lawas. 

 

Ketika sebuah foto sampul buku lawas melintas di linimasa FB saya, bekerjalah segala mekanisme pemaknaan –kenangan, rujukan, penampakan visual, desakan kompetisi dengan sesama kolektor, dsb. Sehingga, terlahir keputusan: Beli! Miliki! 

Barangkali, ini semacam dorongan keberartian di dunia kebendaan. Barangkali, ini sekadar apologia bagi penyakit penimbun. 

 

Saat saya menyelesaikan tulisan ini pun, saya sambil ikut serta dalam sebuah lelang di salah satu grup FB yang menghimpun para penjual komik lawas dan kolektor. Yang dilelang, komik karya Abdulsalam, Kisah Pendudukan Jogja, terbitan Kedaulatan Rakjat –kalau tak salah, awal 1950-an. Hanya beberapa tahun setelah setelah pengakuan internasional atas kemerdekaan Indonesia pada 1949. 

 

Lelang berlangsung dua hari, dimulai dengan harga Rp. 100 ribu, dan penawaran kelipatan sepuluh ribu. Pemenangnya, membeli seharga Rp. 980 ribu, karena pada waktu lelang habis, ialah penawar tertinggi. Padahal, beberapa menit setelah itu, beberapa kolektor menawar di atas sejuta rupiah. Apakah itu harga yang layak? Apakah itu murah? Apakah itu mahal? Itu adalah pertanyaan tentang makna, bukan?***

 



[1] "Buku Inpres" adalah "Buku Instruksi Presiden", sebuah program pemerataan bacaan buat sekolah tingkat dasar hingga menengah atas di seluruh Indonesia. Buku-buku yang masuk seleksi buku inpres akan dicetak jadi puluhan ribu atau ratusan ribu eksemplar dan disebarkan ke perpustakaan-perpustakaan sekolah di seluruh propinsi (dan kabupaten?) Indonesia secara gratis oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Buku-buku Inpres tak boleh diperjualbelikan. Karena jumlah tercetak sedemikian besar, program itu jadi proyek yang menguntungkan penerbit (biasaya Balai Pustaka dan, kalau tak salah, Pustaka Jaya juga), juga penulis. Maka, lama-kelamaan, proyek Buku Inpres itu pun dikorupsi, KKN merajalela sehingga menghasilkan buku-buku yang tak layak baca oleh penulis-penulis yang kurang terjamin mutu penulisan mereka. 

[2] Majalah Eppo adalah majalah kumpulan komik Eropa yang terbit di Indonesia hanya dua tahun saja. Soalnya, ternyata terbitan Indonesia itu tanpa izin resmi (copyright) dan ketahuan oleh penerbit aslinya di Belanda. Banyak dari seri komik di situ yang kemudian diterbitkan dalam majalah Hai, atau dalam bentuk buku komik tersendiri yang diterbitkan oleh Penerbit Gramedia. Misalnya, seri StormAgen 327Johny Goodbye, dan Mata-Mata.
04 Februari 2018
Dilihat sebanyak
670 Kali
Lainnya...
Di Dalam Brankas Mufti Priyanka a.k.a Amenkcoy
Di Dalam Brankas Mufti Priyanka a.k.a Amenkcoy
Dioscuri hasil karya Yohan Alexander
Sayap Kalong dan Sayap Malaikat di Punggung @Yohan.Alexander
Konspirasi Taurus yang Berenang Mencapai @Ayuma_mandala
 1 2345     >>>
Pabrikultur © 2015