MENDUGA-DUGA FENOMENA KEBAHASAAN 1970-AN
Menduga-duga Fenomena Kebahasaan 1970-an
Diskusi Perjalanan ke Utara karya Motinggo Busye


Diskusi Karya Komunitas Akarpohon 2018 ini sedikit melakukan perubahan materi. Jika di tahun-tahun sebelumnya materi diskusi hanya bersumber dari karya para anggota, maka di tahun ini kami membuka peluang untuk sumber lainnya. Perluasan sumber ini dilakukan agar tidak melulu mendiskusikan karya “kandang”. Sebagai pembuka tahun, Cerpen Perjalanan ke Utara milik Motinggo Busye akan menjadi materi pertama. Alasan khusus tidak ditemukan dalam pemilihan cerpen ini sebagai bahan diskusi karya.

Acara dilaksanakan pada 15 Januari 2018. Diskusi dimulai sore hari. Mendung sedikit membuat para peserta diskusi terlambat datang. Di awal diskusi, kami sempat bercanda-canda, “Seandainya Motinggo ada di sini dan melihat kita mendiskusikan karyanya, gimana, ya?” selang beberapa menit, tiba-tiba lampu di ruangan tengah—tempat kami berdiskusi—meledak lalu padam! Suasana seketika mencekam. Hujan mulai turun. Semua tertawa sambil saling menatap kiri dan kanan.

Setelah tenang, kami memulai diskusi. Dari beberapa pembacaan peserta, cerpen Perjalanan ke Utara memang cenderung lebih mudah dikaji setelah dibaca lebih dari satu kali. Dalam cerpen ini, Motinggo menggarap lanskap cerita dengan jernih. Di dalamnya diceritakan sebuah kisah sopir oto bersama satu orang kenek angkutan hasil sawah/ladang yang hendak mengantar hasil sawah. Di tengah perjalanan, ada dua orang perempuan menghentikan laju oto dan minta diantar ke arah utara. Terjadilah bercekcokan kecil sebelum akhirnya si sopir mengiayakan permintaan para perempuan dan dimulailah percakapan yang memunculkan ingatan-ingatan masa lalu dalam perjalanan mereka ke utara. Tentang kemiskinan, rendahnya pendidikan dan sikap perempuan.

Penanda-penanda dalam deskripsi lanskap seketika membuat kita bertanya akan setting cerita tersebut. Gaya bahasa ala Betawi—“lo”, “gua”—dalam menarasikan cerita membuat bayangan akan Jakarta muncul dari kepala. Akan tetapi beberapa contoh diksi, “koran Jakarta”, “lada”, “bukit-bukit”, membuat kita menarik bayangan tersebut.

“koran Jakarta” mengindikasikan bahwa sebuah surat kabar yang berasal dari Jakarta  ada di lokasi yang menjadi setting (latar) cerita. Hal tersebut logis karena logikanya; seandainya ia berada di Jakarta, maka tidak adakan disebutlah koran tersebut sebagai “koran Jakarta”, cukup “koran” saja. Sama halnya dengan “sate Madura” yang hanya akan disebut demikian jika ia dijual di luar Madura—sebagai menanda identitas darimana makanan itu berasal. Namun jika di Madura, ia hanya disebut “sate”, bukan “sate Madura”. Maka jelas sudah bahwa satu faktor membuktikan setting cerita ini bukan di Jakarta.

Berlanjut ke diksi “lada”. Secara umum “lada” mengacu kepada satu lokasi di Indonesia,  yakni Bandar Lampung. Maka menguatlah dugaan bahwa setting cerita ada di sana. Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa Motinggo lahir di Bandar Lampung, sehingga telah jelas bahwa setting cerita ada di Bandar Lampung. Masalah si tokoh utama yang menggunakan “lo” “gua” dalam dialognya, tidak menemukan titik terang. Akan tetapi hal tersebut bisa saja terjadi mengingat jarak Jakarta Bandar Lampung cukup dekat dan paparan bahasa pergaulan dapat menjadi salah satu faktor siituasi para sopir kala itu.

Gaya bahasa lisan yang digunakan sebagai bahasa tulis pun membuatnya mudah dicerna pembaca—meski banyak pula kesalahan penulisan yang terjadi. Di sisi lain, kesalahan penulisan yang ada dalam cerita ini tentu tidak bisa lagi dikonfirmasi ke penulisnya. (Kami kembali teringat candaan sebelum diskusi dan lampu pecah.)

Di sisi lain, ternyata dialog dan gaya bahasa tersebut menyelamatkan ketimpangan logika dalam cerita. Ada satu parangraf yang menyelipkan kata “congkak” namun terkesan tidak sesuai makna dari “congkak” itu sendiri:

Ia tetap congkak ketika kusuruh ia duduk di antara karung beras bersama kenekku di belakang. Dan yang baru terjatuh itu duduk bersamaku di depan. Ketika si gemuk tetap congkak jua, terpaksa kuterangkan, bahwa di depan ada segoni beras untuk menyogok penjagaan nanti di tengah jalan. Dengan ini si gemuk tersenyum.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “congkak” memiliki arti “Merasa dan bertindak dengan memperlihatkan diri sangat mulia (pandai, kaya, dan sebagainya); sombong; pongah; angkuh.” Pengertian tersebut jelas sangat tidak kontekstual jika mengacu kepada paragraf di atas.

Patut dicurigai, apakah telah terjadi pergeseran makna “congkak” dalam kurun waktu 1970-an hingga 2018 sekarang ini? Jika iya, bagaimana  pergerakannya sehingga begitu tidak disadari? Atau sebenarnya ini hanya kesalahan dari penulis yang salah mengira makna “congkak”? untuk menjawabnya tentu saja tidak hanya bisa bergantung kepada satu cerita ini saja. Ada banyak cerita Motinggo yang harus dijadikan perbandingan, begitu juga dengan fenomena kebahasaan yang mungkin banyak digunakan oleh para cerpenis pada 1970-an. Jika demikian, maka diskusi singkat ini tidak akan mampu menjawabnya.

 

Ilda Karwayu

Mataram, 15 Januari 2018  

03 Februari 2018
Dilihat sebanyak
810 Kali
Lainnya...
Maradita dan Mae: Jika Dua Singa Betina Hadir di Satu Segmen
Maradita dan Mae: Jika Dua Singa Betina Hadir di Satu Segmen
Di Dalam Brankas Mufti Priyanka a.k.a Amenkcoy
Di Dalam Brankas Mufti Priyanka a.k.a Amenkcoy
Dioscuri hasil karya Yohan Alexander
Sayap Kalong dan Sayap Malaikat di Punggung @Yohan.Alexander
 1 2345     >>>
Pabrikultur © 2015