Kafe Jakarta, Mencari Kedai Kopi
Kafe Jakarta, Mencari Kedai Kopi

Foto diunduh dari Atjeh.biz


Jokowi pernah bilang, ia ingin bangun kafe-kafe di bantaran sungai Ciliwung. Pada Jumat, 5 April 2013, Jokowi (waktu itu masih gubernur DKI Jakarta) ke markas Kopassus Cijantung, Jakarta Timur, untuk membicarakan proyek pembersihan dan penghijauan kembali sungai Ciliwung yang kadung legendaris kotor dan bau.

Bahwa Jokowi butuh bantuan Kopassus (Komando Pasukan Khusus) untuk membersihkan dan menghijaukan Ciliwung, jelas menandakan bahwa kekotoran Ciliwung memang keterlaluan. Perlu sebuah impian, dambaan, atau sebut saja visi, untuk Ciliwung masa depan. Dan dari ucapan Jokowi, ternyata dambaan masa depan Ciliwung hijau mencakup pembangunan kafe-kafe.

"Tadi waktu kami naik perahu karet kanan kiri Ciliwung itu begitu hijaunya. Ke depan nanti, Jakarta harus hijau dan sungai bisa dijadikan tempat wisata," kata Jokowi, seperti dikutip oleh bola.viva.co.id.

Lantas, Agus Sutomo, Komandan Jenderal Kopassus, menegaskan, "Sesuai usul Pak Jokowi, sepanjang sungai akan dibangun seperti di jalan tol. Ada rest area, ada kafe, kantin-kantin. Tapi itu nanti, kalau di situ sudah hijau."

Kafe sebagai bagian dari dambaan pembangunan wisata. Kafe sebagai lambang suasana nyaman yang bisa dijual. Kafe sebagai gaya hidup khas dan khusus. Benarkah selalu demikian, kafe sebagai perlambang kenyamanan kota?

 

Bukan Kopi, Tapi Mesin Espresso

Salah satu kafe yang cukup menarik perhatian kaum hipster Jakarta sejak 2009 adalah Coffeewar di Kemang Timur, Jakarta. Tentu, saat artikel ini ditulis, sebutan "kaum hipster" sudah jadi semacam ledekan. Itu adalah ungkapan ngenyek bagi sebagian orang, kepada mereka yang dianggap sering "sok beda" atau "elitis dalam mengonsumsi budaya pop".

Tapi, sebutan "kaum hipster" itu perlu diungkap sehubungan dengan obrolan soal kafe Jakarta. Sebab, merekalah yang menegaskan unsur gaya hidup dalam dunia kafe. Kaum hipster –baik yang "beneran" atau otentik, maupun yang "wannabe" atau ikut-ikutan saja– punya sifat sangat pemilih. Termasuk pilih-pilih tempat nongkrong.

Beberapa kelompok hipster Jakarta bisa kasat mata jika kita melihat kendaraan yang mereka pakai: vespa warna-warni kinclong atau motor-motor (syukur-syukur model lawas) yang dimodifikasi, bebajuan merk distro khusus dan biasanya bermodel seperti lembar mode majalah urban Monocles, gemar barang-barang dan produk-produk budaya pop vintage, dan semacamnya.

Jadi, kalau seringkali kaum hipster Jakarta memilih nongkrong bareng atau "meeting" di Coffeewar,  maka kafe ini boleh jadi memang hip. Apakah modal hip kafe ini? Bukan ruang besar dengan desain interior yang edgy, atau menu kue paling trendy.  Bahkan bukan pula aneka kopi espresso paling cantik.

"Kopi Indonesia tuh sudah enak, tanpa perlu dikasih susu atau di-apa-apain lagi," kata Yogi Sumule pada penulis pada 2011. Yogi bersama adiknya, Derby Sumule, mendirikan Coffeewar dengan keyakinan tersebut. Kafenya hanya menyediakan kopi Mandailing, Toraja, dan Java, yang disajikan dalam dua cara: kopi tubruk biasa, atau dengan French Press.

Selebihnya, Coffeewar menyajikan berbagai jenis kudapan, teh, wedang dan susu jahe, smoothies, keripik-keripik, dan buku, CD musik label indie, serta kaos. Pengunjung boleh memesan makanan dari tempat lain, termasuk tukang bakso, bakwan, atau kerak telor yang lewat di depan kafe.

Pada kesempatan lain, Derby lebih rinci mengakui bahwa keyakinan pada "kopi saja" juga bagian dari kebuntuan mereka saat awal mendirikan kafe itu. (Lihat artikel wawancara Derby Sumule dengan Annayu Maharani.)

Mereka memang sudah lama percaya semacam filosofi di kalangan peminum kopi khusus, bahwa "kopi yang baik sudah enak jika diseduh tanpa tambahan apa pun." Tapi, Derby dan Yogi menghadapi keadaan pasar kafe di Jakarta kadung mengidentikkan kafe dengan kopi espresso yang dibuat oleh mesin espresso yang sangat mahal.

Paling murah saja, bisa lima belas juta rupiah, kata Derby. Harga mesin espresso memang di atas 9-25 juta rupiah untuk kelas light commercial. Salah satu mesin espresso termahal di dunia saat ini adalah The Blossom One Limited, produksi Blossom Coffee. Mesin ini dikembangkan oleh seorang mantan insinyur NASA dan Apple, Jeremy Kuempel. Harganya sekitar Rp. 106 juta.

Tapi, kafe D'Stupid Baker, Jakarta, mendaku bahwa mesin espresso milik merekalah yang terbaik dan termahal di dunia. Mesin itu bermerk La Marzocco, diimpor dari Italia, kata pengelola kafe yang berlokasi di Sunter dan Pasar Festival, Jakarta. Tapi, berapa harga pastinya, tak pernah disebutkan oleh para pengelola kafe tersebut. Dakuan "mesin espresso termahal di dunia" itu penting sebagai gimmick pemasaran kafe tersebut.

Khususnya, dakuan itu kemudian dikontraskan dengan siasat pemasaran D'Stupid Baker untuk menjual sajian kopi dan roti semurah mungkin. Misalnya, Capuccino berukuran 12 Oz di situ dijual seharga Rp. 10 ribu per cangkir. Dan aneka roti mereka dijual rata-rata Rp. 6 ribu-an.

Begitu sebuah kafe memakai mesin espresso yang mahal, dan jelas pula harus menghitung sewa lahan untuk lokasi yang mahal di Jakarta, pemasukan hanya dari menjual kopi jadi musykil. Begitu jelas Derby. "Akhirnya, sebuah kafe dengan hitungan demikian harus mengandalkan pemasukan dari penjualan makanan."

Karena terbentur hitungan itu, dan keterbatasan modal, akhirnya Sumule bersaudara sepakat untuk sekalian saja mewujudkan keyakinan bahwa kopi Indonesia tak perlu tambahan apa-apa. Keyakinan para pencinta dan penggiat budaya kopi tersebut menjadi siasat Sumule bersaudara untuk membuka kafe jenis lain dari yang ada, menurut mereka.

  

Bukan sekadar kedai

Kafe-kafe di Jakarta memang lumayan khas sejarah mereka. Tak ada catatan resmi sejarah kafe di Indonesia. Tapi jika kita menelisik makna kata "kafe" dalam penggunaan sehari-hari warga Jakarta (dan kini, juga di daerah lain), kita bisa menangkap kekhususan sejarah kafe di Jakarta dibanding sejarah kafe dunia.  

Kata "café" berasal dari Prancis, berakar dari kata Arab yang berarti kopi. Dalam penggunaannya, kata ini juga bermakna "kedai kopi" atau "coffee house". Di sini, kita bisa segera bertanya: kata "kedai" dalam bahasa Indonesia bukankah tak terlalu sepadan dengan praktik "kafe" yang saat ini popular di Indonesia? Kata "kedai" menerbitkan bayangan tentang warung kopi atau kios-kios tua beraroma kopi yang tajam. Tapi, kita susuri dulu sejarahnya.

Pada 1475, di Konstantinopel, Turki, berdiri sebuah kedai kopi pertama. Setidaknya, itu yang tercatat dalam sejarah. Nama kedai kopi itu Kiva Han. Sebagai pusat peradaban dunia pada saat itu, Konstantinopel dan kota-kota besar Dunia Islam lain seperti Baghdad atau Kairo, cukup sering didatangi orang-orang Eropa. Beberapa membawa dan mengenalkan kopi ke Eropa.

Kedai kopi pertama di Eropa didirikan pada 1529. Ini gara-gara tentara Turki menyerbu Wina. Saat pergi, mereka meninggalkan berkantung-kantung kopi. Franz Georg Kolschitzky mengambil kantung-kantung kopi itu dan membuka kedai kopi. Soalnya, Franz pernah tinggal di Turki dan waktu itu jadi satu-satunya yang tahu nilai setiap biji kopi dari tentara Turki itu.

Franz di kedai kopinya lantas mengenalkan ke masyarakat Wina cara menyaring kopi dan melembutkan sarinya dengan susu dan gula. Minuman baru bagi Eropa itu, kopi dengan krim dan pemanis, kemudian jadi sangat popular. Ketika kedai kopi yang ada juga menyediakan kue-kue pemanis dan kudapan lainnya, kafe pun jadi sangat mencuat.

Sejak masa itulah, kafe menjadi tempat berkumpul dan bergaul, tempat para lelaki nongkrong minum kopi atau teh, mendengar musik, membaca buku, bermain catur, dan sebagainya. Sejak masa itu, kedai kopi identik dengan tempat nyaman yang menyajikan kopi dan espresso.

Popularitas kafe pun terus meluas, dan pada 1652, kedai kopi pertama dibuka di Inggris. Namanya, The Turk's Head. Harga kopi yang dijual sangat tinggi, sehingga yang menghabiskan waktu di kafe adalah para lelaki pebisnis atau para priyayi Inggris. Kopi dan espresso, kudapan dan tempat nyaman, semua jadi gaya hidup klangenan kelas atas di sana. Gaya hidup seperti ini pun merebak ke Prancis juga.

Pada 1882, mesin espresso modern ditemukan. Lebih mudah digunakan dan lebih aman dari model-model mesin sebelumnya, mesin espresso pertama kali ditemukan di Prancis tapi disempurnakan kemudian di Italia. Orang-orang Italia pula yang pertama kali memproduksi mesin itu secara massal. Pada saat itulah bisa dibilang lahir budaya kafe modern yang pertama.

Di Indonesia, pertumbuhan kedai kopi jadi kafe adalah sebuah proses dari budaya kopi menjadi budaya kafe. Di jalan Wahid Hasyim Jakarta, kafe Phoe Nam, terpampang foto lama, dengan keterangan tertulis: berdiri sejak 1946, di Makasar. Lebih tua lagi, kedai kopi Warung Tinggi: sudah sejak 1878. Sebermula, semua berbentuk warung atau kedai.

Jejak kopi dan kedai-kedai kopi kita sudah sejak abad ke-17, gara-gara Belanda. Kopi Arabica waktu itu dibawa diam-diam dari Timur Tengah untuk dikembangkan di tanah Indonesia yang cocok sekali untuk bertanam kopi. Sejarah kopi kita adalah sejarah tanam paksa. Tapi kopi punya pesona melampaui perbudakan itu. Sejarah kopi juga kemudian jadi sejarah nongkrong kaum lelaki.

Liaw Tek Soen, perantau asal Tiongkok, membangun restoran Warung Tinggi, bersama istrinya di Batavia. Di jalan tepian Moolen Vliet Oost, kini Jalan Hayam Wuruk. Restoran ini jadi tempat nongkrong banyak lelaki. Sebab, waktu itu jarang ada restoran yang menyediakan kopi. Dalam nongkrong, banyak soal bisa mencuat, dan diselesaikan.

Demikianlah, di Aceh, misalnya, sampai kini sering terlontar ungkapan, "Di Aceh, semua urusan diselesaikan di kedai kopi." Kebiasaan para lelaki di Aceh adalah nongkrong di kedai kopi pada pukul 10 pagi. Di situlah semua omongan "penting" dibicarakan, dan diselesaikan. Ini, bahkan berlaku juga bagi orang kantoran.  Setidaknya itu kata para pemandu saya saat saya ke Banda Aceh pada 2007 (?).

Budaya nongkrong dan ngobrol di kedai atau warung kopi ini sedemikian lekat dalam imajinasi orang kebanyakan di Indonesia, sehingga popularlah ungkapan "obrolan warung kopi". Pada akhir 1970-an, sekelompok mahasiswa di Jakarta, kebanyakan mahasiswa Universitas Indonesia (UI), bahkan mengabadikan ungkapan itu jadi nama kelompok lawak mereka yang dikenal kritis melontar komentar-komentar sosial di panggung: Warkop Prambors.

Salah satu lagu terkenal dari Warkop adalah theme song mereka:

 

Ngobrol di warung kopi

Sentil sana dan sini


Suasana bicara ngalor-ngidul, nongkrong, melepas kesumpekan hidup dengan berkomentar tentang apa saja, tentu berlangsung dengan sajian kopi tubruk kental dan kudapan ringan. Suasana warung, suasana kedai, suasana jelata. Suasana yang terasa beda dengan suasana kafe.

Di kafe-kafe Jakarta, tentu masih ada suasana nongkrong itu ("hang out", kata anak muda zaman sekarang). Tapi suasana individualistik, bersendiri, juga menguat. Suasana kesunyian urban, bersendiri dalam ruangan dingin AC, menjadi bagian dari identitas kota. Ini dengan baik digambarkan oleh penyair Wendoko, dalam bukunya, Jazz! (baca: ulasan oleh Kulturkopi).

   

Reaksi atas Starbucks

Di samping kehadiran mesin espresso, ruangan in-door nyaman yang kosmopolit, kafe juga ditandai oleh sebuah gaya hidup yang khas. Derby menyatakan, "gue ingat, kafe-kafe di Jakarta itu lahir sebetulnya untuk merespon Starbucks pada awal 2000."

Jaringan kedai kopi multinasional Starbucks yang berasal dari Seattle hadir di Jakarta pertama kali pada 17 Mei 2002 di Plaza Indonesia, Jakarta. Sejak pertama dibuka, kafe ini kewalahan menerima pengunjung yang membludak. Mereka pun terus-menerus membuka toko/kafe baru. Pada pertengahan 2006, Starbucks telah membuka 46 cabang di Indonesia. Rata-rata mereka berada di mal-mal besar atau lokasi perbelanjaan dan perkantoran yang strategis.

Kenapa Starbucks begitu menarik bagi orang Indonesia? Rahayu Kusasi, dalam bukunya, Globucksisasi, Meracik Globalisasi Melalui Secangkir Kopi (Kepik Ungu, 2010), menyebut-nyebut adanya gejala tourist gaze atau tatapan Sang Turis, saat seseorang penduduk Indonesia memasuki Starbucks. Seakan, dengan memasuki Starbucks, si pengunjung sedang mencicipi sekeping (budaya) Amerika.

Penyantelan budaya Amerika dalam menyeruput kopi cepat-saji Starbucks adalah bagian dari sebuah gaya hidup kelas menengah konsumtif di kota-kota besar Indonesia masa kini. Khususnya di Jakarta. Starbucks adalah gaya hidup.

Beberapa pengusaha kepincut dengan ide tersebut. Kafe adalah gaya hidup yang khas. Meniru (artinya, bersaing tapi tak sepenuhnya melawan) Starbucks, dibuatlah berbagai macam kafe dengan kesadaran menjual gaya hidup tersebut. Lokasi yang mooi jadi syarat mutlak. Desain interior yang hip. Menu yang kebaratan atau eksotik. Juga pertunjukan-pertunjukan yang sesuai bagi pasar kafe tersebut.

Merebaklah dengan cepat kafe-kafe di Jakarta. Di Kemang saja, pada pertengahan 2000-an, telah ada sekitar 600 kafe. Merebaklah pula gaya hidup kafe. Persaingan komoditi gaya hidup semakin keras. Kafe-kafe di Kemang, misalnya, cepat sekali berganti: tumbang, diganti, tumbang lagi, sehingga peta kafe di situ musti sering-sering diperbaharui.

Kafe anu menawarkan rainbow cake-nya. Yang lain menawarkan pertunjukan komedi-berdiri. Yang lain lagi menawarkan galeri karya-karya ilustrator atau lukisan. Atau makanan khas Thailand. Dan sebagainya.

Lalu, dalam semua kerlap kafe-kafe di kota-kota besar kita, di manakah kopi itu sendiri? ***

(Hikmat Darmawan)

19 Maret 2015
Dilihat sebanyak
3508 Kali
Lainnya...
YANG NYATA ADALAH PANGGUNG.  KITA PENONTON
YANG NYATA ADALAH PANGGUNG. KITA PENONTON
GALUR, Pameran Tunggal Vincent Rumahloine: Family Potrait
GALUR, Pameran Tunggal Vincent Rumahloine: Family Potrait
Secuil Jepang: Luar Dalam Negeri Manga
Secuil Jepang: Luar Dalam Negeri Manga
 1 2     >>>
Pabrikultur © 2015