Secuil Jepang: Luar Dalam Negeri Manga
Secuil Jepang: Luar Dalam Negeri Manga

"Jepang" adalah banyak hal bagi banyak orang: negeri sakura dengan taman-taman elok ratusan tahun, negeri Zen dengan aneka ekspresi kebudayaan minimalisnya, negeri teh yang penuh tatakrama dan obsesi pada kesempurnaan.

Tapi, juga: negeri hentai (istilah untuk film, animasi, komik hingga game porno) yang sering "keterlaluan" karena gandrung sekali menjadikan gadis belia sebagai objek, negeri samurai dan Yakuza yang karib dengan kekerasan brutal, negeri muasal trend mode yang seolah dengan bangga berteriak "go to hell estetika" lewat Harajuku style, negeri Gozila dan ratusan sinetron superhero "murahan" tapi membuat banyak anak muda kecanduan.

Sejak semula, saya membuka diri terhadap segala kemungkinan Jepang itu. Tapi, fokus saya jelas: menelisik budaya visual yang jadi lingkup budaya manga yang kini "menjajah" dunia Asia, Amerika, dan Eropa. Setelah hampir enam bulan dari sembilan bulan waktu saya di Jepang (sejak 22 Juli 2010), terlalu banyak yang bisa diceritakan soal ini. Di sini, saya akan pilihkan dua saja.

 

Shibuya: toko dan taman

Hari pertama saya di Tokyo, saya mengalami Shibuya sebagai sebuah "ledakan visual". Hari itu, saya berjanji ketemu Rane Hafiedz, teman kuliah yang ndilalah sedang bekerja di radio siaran Indonesia NHK, Tokyo. Kami berjanji ketemu di hotel Sheraton di Meguro, selepas saya dari bandara Narita. Rane menyerahkan kunci apartemen teman yang akan saya tempati sementara selama dia sekeluarga mudik ke Indonesia.

Dan, Rane membawa saya ke Shibuya. Dari Meguro, kami naik  kereta jalur Yamanote (jalur terpenting di Tokyo, karena melewati tempat-tempat utama seperti stasiun Tokyo, Shibuya, Harajuku, Shinjuku, Ikebukuro, Ueno, dan Akihabara). Turun dari kereta, kami naik tangga, dan Rane menunjuk ke luar lewat jendela stasiun. "Itu," katanya, "perempatan Shibuya yang kata orang terpadat di dunia. Dan itu, patung Hachiko, tempat favorit janjian ketemu orang Tokyo."

Kami turun di gerbang Hachiko, tempat patung si anjing setia yang legendaris itu. Menurut saya sih patungnya biasa-biasa saja –legenda seputarnya lah yang membuat patung ini begitu "hidup".

Indera visual saya segera tersengat. Billboard raksasa di mana-mana. Layar digital raksasa. Aneka huruf Jepang dan Latin dalam aneka warna. Baju-baju para lelaki dan perempuan yang juga penuh warna. Rambut pirang asli maupun palsu. Toko-toko, logo-logo berjejal, gedung-gedung tumpang tindih, dan manusia bagai gelombang deras ketika lampu hijau bergambar orang menyala. Saya sejenak kehilangan orientasi.

Ternyata, pengalaman pertama itu tipikal jika kita datang ke tempat serupa Shibuya, seperti Shinjuku (lebih besar, lebih meriah, dari Shibuya), Ikebukuro, Harajuku (khususnya Takashita Dori), dan Akihabara. Ginza juga dipadati toko dan logo, tapi coraknya agak lebih "high class" dibanding Shibuya.

Selama beberapa bulan kemudian, perlahan saya mulai meresapi bahwa selalu ada sudut-sudut kalem bahkan di pusat-pusat keramaian itu. Selalu ada tempat bagi pohon dan taman besar atau kecil. Tokyo, atau Jepang, seperti dibangun oleh lapis-lapis dua-an: lapis modern dan lapis tradisional, lapis "depan" dan lapis "belakang", lapis "riuh rendah" dan lapis "kalem-tenang", lapis "luar" dan lapis "dalam".

Misalkan, Shibuya. Jika sehari dua hari saja Anda mengunjunginya, mudahlah kita menganggapnya semata pusat belanja dan kongkow anak muda borjuis Jepang. Tak salah, tapi tak benar juga.

Toko-toko barang bermerk macam Shibuya 109 dan Parco 1-3, Apple Store, Disney Store, berdampingan, berdesakan dengan toko obat, toko piringan hitam bekas khusus Jazz, toko buku second Book-Off (satu dari 1000-an cabangnya di seluruh Jepang), dan warung roti 200 Yen. Ada tujuh toko buku di situ, kadang pintunya nyempil dalam gedung mal. Plus toko hobi Mandarake yang legendaris itu, yang menjual aneka manga dan toys bekas, tapi dikemas ulang dengan bagus.

Jika kita terus ke arah taman NHK, di jalan menanjak seberang mal Parco, ada Museum Tembakau dan Garam. Tembakau? Garam? Ya, dan kita pun memasuki lapis lebih dalam di Shibuya: banyak galeri dan museum, juga bioskop alternatif tersembunyi di area belanja ini.

Tapi, teruslah ke taman (sebelah gedung) NHK. Jika pagi, anak-anak TK dibawa guru dan orangtua mereka merangkul keluasan tempat publik, bermain dan berlari-lari. Anak muda, gelandangan, atau salary man duduk-duduk menikmati matahari hingga sore. Makan, membaca, melamun pun tenteram saja di situ. Tapi, teruslah lagi, ke arah taman Yoyogi. Taman ini bukan taman antik macam taman Higashi-Gyoen dekat Istana Kaisar, tapi taman "jelata".

Jika hari bermatahari, aneka rupa kegiatan pun terpandang. Sendirian, atau berkelompok: orang berlatih saksofon atau gitar, berlatih dance atau taichi, bersepeda atau jogging, bermain bola atau tidur-tidur berjemur. Jika musim semi, taman Yoyogi adalah salah satu tempat terbaik di Tokyo untuk menikmati sakura mengembang.

Gelandangan pun banyak yang berumah di sini, tapi semua pengunjung saling menjaga "ruang" masing-masing. Di akhir pekan yang cerah, di pintu ke arah kuil Meiji dan Harajuku, lazim pula kita temui kelompok penggemar musik dan tari rock 'n roll 1950-an, lengkap dengan kostum jaket kulit dan jambul!

Tapi, teruslah, masuki torii (gerbang) kuil Meiji. Jalan kerikil, kanan kiri pepohonan tinggi ratusan tahun, seperti hutan kecil yang resik. Kita mulai memasuki bagian lebih dalam area Shibuya-Harajuku: kuil, kebun, keheningan spiritual (atau romantis, tergantung Anda memandangnya, atau bersama siapa Anda ke sana).

Struktur berlapis ruang-ruang komersial dan publik seperti ini lazim di Tokyo. Ada ruang bagi "yang luar", sebuah "panggung depan" yang ditata sesuai kebutuhan untuk dilihat. Ada pula ruang bagi "yang dalam", semacam "panggung belakang", sanctuary yang ditata untuk mencapai ideal Zen: minimalis, memandang bahwa "kosong" adalah "isi".

Di Jepang, baik "yang luar" maupun "yang dalam" sama-sama ditata, digarap, diolah. Tapi, menariknya, semua digarap seperti dengan kesadaran akan dipandang. Semua aspek kebudayaan Jepang, seolah, punya kesadaraan visual.


Dora Emon di lampion Hiroshima

Apa hubungan itu semua dengan budaya manga yang sedang saya selidiki? Perjalanan ke Hiroshima mungkin bisa mengudar hubungan tersebut. Saya ke sana pada 6 Agustus 2010, bersama Firman Widyasmara, seorang animator Indonesia yang saat itu sedang dalam hari-hari terakhir kesertaannya pada program Jenesys Japan Fondation.

Itu adalah hari peringatan jatuhnya bom nuklir di Hiroshima. Mestinya, kami berdua berangkat malamnya, agar dapat momen di pagi tepat pukul 10. Farah Wardani, sesama fellow Jenesys, sudah di sana, dan kemudian bercerita betapa menggetarkannya momen mengheningkan cipta dan pelepasan burung merpati di pagi itu.

Toh, kami masih sempat mencicipi suasana peringatan dan seruan damai Hiroshima hari itu. Acara memang berlangsung hingga malam. Agak sore, Firman dan saya pergi ke taman Peace Memorial Park, naik trem (!) dari hotel kami dekat stasiun Hiroshima. Ribuan orang masih ruah di taman, di sekitar A-Bomb Dome, atau Kubah Bom Atom. Kubah itu adalah reruntuhan bangunan yang tersisa dari pagi laknat itu. Reruntuhan yang dilestarikan agar dunia ingat degilnya perang yang membawa pada era bom atom dan nuklir sesudah itu.

Orang-orang membeli lampion kertas dan di meja-meja yang tersedia, memakai krayon, menuliskan doa damai mereka dan menggambar. Orang tua dan anak-anak, serius melakukannya. Setelah ditulis, lampion di taruh dekat kubah, atau dilayarkan ke sungai Ota di samping taman. Ribuan lampion, ribuan doa.

Sebuah lampion bergambar Dora Emon, si robot kucing dari masa depan yang bertugas menolong Nobita sang pemalas apes. Gambar itu, dan doa kanak yang tertulis di lampion itu, adalah sesuatu yang alamiah di Jepang.

Aksara kanji, satu dari tiga jenis aksara di Jepang selain Hiragana dan Katakana, adalah aksara piktograf. Artinya, aksara yang merupakan lambang gambar dari sebuah konsep. Peradaban atau budaya yang dibangun dengan aksara piktograf demikian, tentu saja punya hubungan alamiah dengan gambar kartun seperti Dora Emon. Budaya manga mengakar kuat dalam budaya visual Jepang yang telah ribuan tahun usianya.

Boleh dibilang, peradaban Jepang adalah peradaban rupa. Segi rupa sama pentingnya dengan segi isi di Jepang. Saya makin menyadari itu, ketika lusanya kami ke pulau Miyajima, salah satu tempat yang "wajib dikunjungi" jika ke Jepang. Di pulau itu, ada torii raksasa yang berada di wilayah pasang air laut. Jika petang, air pasang merendam kaki gerbang suci itu, memberi rasa magis yang unik.

Setelah lebih dari setengah jam naik trem dari kota, Firman dan saya naik kapal feri ke pulau itu. Dan di pulau yang terhitung pelosok itu pun, saya disergap ledakan visual juga –lebih kalem dari Shibuya, tapi tak kurang beranekanya. Bayangkan, pemda di situ memilih ikon pulau Miyajima: Detektif Conan! Ya, karakter manga dan anime popular itu! Ikon itu didampingkan dengan ikon tradisional pulau itu: sendok nasi. (Saya dan Firman menggeleng-gelengkan kepala.)

Struktur berlapis yang mirip dengan ruang Shibuya-Yoyogi-kuil Meiji pun tampak di pulau alit ini. Turun dari feri, kami disambut atraksi: kijang-kijang berkeliaran bebas, toko-toko suvenir, restoran dengan makanan aneka warna, dan jalan kecil yang penuh oleh turis. Lalu kita ke "dalam", ke wilayah kuil dan tepi hutan di kaki bukit. Bisa mampir juga ke tempat torii raksasa itu bertahta.

Kesadaran "luar" dan "dalam", "rupa" dan "isi", terus terjaga di sepanjang pulau. Dan saya semakin menyadari: peradaban visual seperti Jepang ini berarti bahwa selalu ada yang bisa dipandang, dinikmati mata di negeri ini. Saya melihat, pulau kecil Miyajima dan metropolis besar Tokyo, serupa dalam soal ini.

Sayang, Firman harus segera ke Tokyo, jadi kami tak sempat menikmati petang magis di torii raksasa Miyajima. Atau, mendaki bukit ke beberapa kuil sunyi di bagian atas pulau. Saya ingin kembali ke Miyajima. Bagaimanapun, waktu itu, di kepala saya telah terbentuk gambaran, akan ke mana riset saya.

Manga, anime, J-Pop, adalah produk-produk rupa Jepang. Ia ada di bagian "luar". Untuk memahami lebih utuh, saya harus masuk ke "dalam" Jepang. Mengintip lebih jauh, "ruang-ruang belakang" Jepang. ***


(Pernah dimuat di Majalah Esquire Indonesia 2011)

 

16 Maret 2015
Dilihat sebanyak
2319 Kali
Lainnya...
YANG NYATA ADALAH PANGGUNG.  KITA PENONTON
YANG NYATA ADALAH PANGGUNG. KITA PENONTON
GALUR, Pameran Tunggal Vincent Rumahloine: Family Potrait
GALUR, Pameran Tunggal Vincent Rumahloine: Family Potrait
Kafe Jakarta, Mencari Kedai Kopi
Kafe Jakarta, Mencari Kedai Kopi
 1 2     >>>
Pabrikultur © 2015