Cinta, di Antara Transaksi dan Iman
Cinta, di Antara Transaksi dan Iman

Ulasan oleh: Yulaika Ramadhani

Ziarah 
Sutradara & Skenario: BW Purba Negara
Pemain: Ponco Sutiyem, Rukman Rosadi, Ledjar Subroto, Vera Prifatamasari
Produksi: Purbanegara Film, 2016


Konon, yang pasti hanyalah masa lalu, dan kepastian terjauh di masa depan adalah kematian. 

Masa lalu dan kematian, dua hal yang dipakai BW Purbanegara sebagai bahan baku film terbarunya, Ziarah. Sekuens adegan pembuka film ini langsung membawa penonton ke pemakaman. Sekelompok orang menatap liang kubur yang merupakan fokus kamera itu sendiri. Layar sedikit demi sedikit gelap, tertutup tanah yang para lakon gunakan untuk menguburkan seseorang—atau sesuatu. Adegan tersebut seolah-olah memberi penanda awal, bahwa penonton akan banyak dilibatkan dalam cerita.

“Suara kuwi raiso ilang. Aku ki percoyo, Simbah kakung disare’ke neng kono.” (Suara itu selalu terngiang-ngiang. Aku percaya, Simbah kakung dimakamkan di sana).

Berangkat dari pertanda, informasi baru dari mantan pejuang, serta sehimpun rasa percaya, Mbah Sri memulai perjalanan  mencari makam Mba Pawiro Sahid—suaminya yang hilang ketika perang Agresi Militer Belanda 1949. Motifnya sederhana, ia ingin dikuburkan bersanding dengan makam suaminya jika kelak meninggal.

Mbah Sri percaya, tanah akan menyatukan mereka kembali di kehidupan selanjutnya. Proses perkawinan Prapto, cucu Mbah Sri, dengan calonnya tertunda dengan kepergian Mbah Sri. Prapto membutuhkan Mbah Sri, yang merupakan satu-satunya kerabat yang masih hidup untuk mewakilinya. Adalah juga alasan lain yang membuat Prapto mencari Mbah Sri, di samping kewajibannya sebagai cucu.

Dalam Ziarah, masa lalu adalah hal cair yang berfungsi sebagai medium penggerak pencarian Mbah Sri akan makam suaminya semasa Revolusi dulu. Mbah Sri dan Prapto, dua orang yang sama-sama menjalani pencarian dan perjalanan, bergerak berdasarkan cerita-cerita masa lalu yang mereka dengarkan. Sedangkan, kematian adalah agen ganda. Di realitas cerita, ia berfungsi sebagai terminal sekaligus tujuan protagonis menjalani perjalanannya. Sedangkan di hadapan penonton, kematian berguna untuk mendefinisikan kembali arti rumah, kesetiaan, dan jenis cinta yang lain. Melalui Ziarah, arti rumah dan kesetiaan bisa didedah kebaruannya dengan memperbandingkan esensi perjalanan Prapto dengan Mbah Sri, si ‘pemilik kematian’.

Mulanya, BW menghadirkan definisi konvensional perihal rumah melalui perbincangan Prapto dan calonnya. Di bagian ini, rumah dijelaskan sebagai sebuah bangunan yang terdiri dari ruang tamu, dapur, dan kamar utama—satu hal yang Prapto janjikan setelah pernikahan. BW kemudian mengajak para penontonnya melihat definisi rumah yang lain melalui sudut pandang Mbah Sri.

“Kabeh sing wis kepisah, bakal iso nyawiji meneh ning lemah. Manungsa iku seko lemah, mulo yo mesti bali meneh ning lemah,” (Semua yang sudah terpisah, akan dapat menyatu lagi di tanah. Manusia berasal dari tanah dan harus kembali ke tanah juga).

Di titik ini, rumah bukan hanya sebagai tempat kembali, tetapi juga dimaknai sebagai tempat bertemu dan menjalani kehidupan baru setelah kematian bersama pasangan. Definisi ini bebas dari unsur transaksi apapun. Keberadaan rumah bukan sebagai syarat penikahan, bukan pula alasan politis lain semacam, kenapa pasangan harus mempertahankan satu sama lain. Rumah, bagi Mbah Sri, adalah semangat merelakan kehidupan, demi jenis cinta yang ia imani.

Disadari tidak, cinta adalah hal yang dibangun dengan hal-hal transaksional dan tidak terlepas dari manifestasi libido. Seperti yang disampaikan Erich Fromm, penulis The Art of Loving (Seni Mencinta), dua orang bisa jatuh cinta ketika mereka merasa menemukan objek terbaik yang tersedia di pasar—dengan mempertimbangkan batas nilai tukar masing-masing.

Karena bersifat transaksional, tentu diikuti dengan adanya proses tawar menawar: Saya berusaha menawar; objeknya harus pantas diraih dari sudut pandang nilai sosialnya, dan pada saat yang bersamaan harus menginginkan diri saya. Konsep transaksional ini BW sengaja letakkan pada hubungan Prapto dan calonnya. Sebuah siasat tepat guna sebagai alat untuk mengkontraskan jenis cinta yang lain. Adalah cinta yang Mbah Sri imani di usianya ke-95.

Perjalanan yang Mbah Sri tempuh di sepanjang film seakan ingin memberitahu penontonnya, jika waktunya nanti kita semua akan selesai dengan hal-hal politis terkait perasaan, dan kita cukup menikmati kehidupan dengan sederhana, pun cinta. Ia tak harus terus-terusan heroik dan dramatis. Mbah Sri cukupkan dengan menjalaninya dengan sehimpun rasa percaya. Rasa percaya yang ia tanam selama bertahun-tahun, sepeninggalan suaminya. Rasa percaya yang ia bawa sepanjang perjalanan mencari makam. Rasa percaya yang ia cukupkan dalam cita-cita kematian, dan hingga waktunya nanti ia akan tidur berdampingan di sebelah kuburan Mbah Pawiro Sahid, suaminya.

 “Ora saklawase pati kuwi gawe pisah, iso ugo kosok balene,” (Tidak selamanya kematian itu penyebab perpisahan, bisa juga sebaliknya).

Yang menarik dari hal itu adalah eksekusinya. Mbah Pawiro dan hal-hal yang terjadi di masa lalu tidak pernah tampak secara visual. Semuanya dihadirkan dalam film melalui cerita-cerita para tokohnya. Terlebih lagi, BW tidak sedetik pun menghadirkan Mbah Sri dan Mbah Pawiro—dua orang yang penonton percaya punya relasi intim—dalam satu frame. Penonton cukup  melihat cinta dari momen-momen kuat yang dijalani para lakonnya.

Momen-momen ketika tubuh renta Mbah Sri menaiki bus, gurat sendu di wajah keriput Mbah Sri ketika melihat keluar jendela bus, kontemplasi Mbah Sri menatap air dan kuburan yang tenggelam, serta momen-momen akhir ketika Mbah Sri rela membersihkan dan menabur bunga di kuburan di sebelah nisan Mbah Pawiro Sahid. Semuanya adalah momen yang hadir di masa sekarang—masa di saat penonton menonton, masa lalu cukup dijangkau melalui asumsi dan cerita-ceritanya saja. 


Sangkan paran ning dumadi

Sadaya saking Gusti

Sadaya gesanging bumi

Lebur dening pangastuti

Kita namung jarwo manungsa

Mugi pinaringan cahya

Tansah sumunaring suka

Jatining urip, jatining pati, jatining gesang

 

Mantra tersebut muncul di awal dan di akhir film. Dua-duanya dinyanyikan ketika adegan di pemakaman muncul. Kehidupan dan kematian adalah dari Tuhan (Gusti), kita hanya manusia. Di titik ini, BW seakan-akan ingin memberitahukan dari awal—dan dipastikan kembali di akhir, bahwa manusia-manusia di filmnya adalah ‘hamba’. Seorang hamba yang mengimani bahwa terdapat tiga hal pasti dalam kehidupan: jodoh, rezeki, dan kematian. Tiga hal yang secara berulang disinggung BW dalam Ziarah. Adalah jodoh yang dihadirkan dalam proses pernikahan Prapto-calonnya dan hadir berkali-kali dalam konsep kesetiaan Mbah Sri-Mbah Pawiro Sahid. Konsep rezeki banyak disinggung dalam pembicaraan Prapto dan calonnya. Sedang kematian, bertubi-tubi diurai maknanya di sekujur film.

BW memilih mengakhiri Ziarah dengan adegan Mbah Tresno—salah satu informan Mbah Sri—menggali dua bakal kuburan. Mbah Sri duduk di depannya, melihat penggalian tersebut. Sebuah adegan yang seharusnya bisa dikembangkan sedikit lebih utuh. Barangkali BW bermaksud memberi akhir terbuka untuk penontonnya. Jika memang demikian, konsekuensinya adalah penonton akan memberi kesimpulan sebatas visual mereka masing-masing.

Bukan tidak mungkin, adegan akhir tersebut ditafsirkan bahwa dua bakal kuburan tersebut dibuat untuk Mbah Sri dan Mbah Tresno sendiri—yang menyimpang dari tujuan awal Mbah Sri. Satu dari sekian tafsir yang nyatanya mampu mencederai ‘konsep-konsep sakral’ yang pembuat film usahakan di sepanjang durasi film. Atau barangkali memang tidak ada lagi yang sakral ketika membicarakan cinta manusia dengan manusia?

Terlepas dari semuanya, film ini memberi ruang tafsir yang luas bagi penonton, hingga, akhir cerita pun diserahkan di tangan penonton. Yang saya pelajari dari Ziarah adalah pembahasan cinta tidak akan pernah utuh jika hanya melibatkan perkara kesenangan, dan kematian terlalu sia-sia jika hanya dimaknai sebagai sebuah kesedihan. Di titik itu, energi positif justru lahir ketika kita berani menantang hal-hal yang paling kita takuti.
20 Desember 2016
Dilihat sebanyak
1653 Kali
Lainnya...
Setumpuk Pekerjaan Rumah Untuk Hanung Bramantyo, Catatan Dari Kartini (2017)
Setumpuk Pekerjaan Rumah Untuk Hanung Bramantyo, Catatan Dari Kartini (2017)
SOLO SOLITUDE, and a collective anxiety of a nation
SOLO SOLITUDE, and a collective anxiety of a nation
An Impossibly Realistic Dream-world
 1 2345     >>>
Pabrikultur © 2015