Mengenal Wiji Thukul, Merawat Sebuah Ingatan
Mengenal Wiji Thukul, Merawat Sebuah Ingatan

Oleh: Anastha Eka


ISTIRAHATLAH KATA-KATA, Sutradara: Yosep Anggi Noen, Pemain: Gunawan Maryanto, Anita Marissa, Skenario: Yosep Anggi Noen, Produksi: Limaenam Films, 2016

 

“...hanya ada satu kata: lawan!”

 

Sepenggal kalimat dari “Peringatan”, puisi Wiji Thukul yang mungkin paling dikenal. Sepenggal kalimat yang lebih dikenal dari bunyi puisinya yang utuh, bahkan mungkin lebih dikenal dari penyairnya sendiri. Sepenggal kalimat yang kini telah memasuki usia ketiga puluh, sebagaimana bayi-bayi yang dilahirkan pada tahun puisi itu ditulis. Saya adalah salah satu dari bayi-bayi itu.

Bagi generasi muda kini, Wiji Thukul bagaikan mitos. Sebuah nama tanpa wajah yang kerap muncul pada diskusi, percakapan, tulisan tentang pergerakan reformasi, dalam potongan-potongan informasi yang tak utuh –dan mungkin memang tak bisa utuh. Meski begitu, cerita-cerita yang beredar sepakat membentuk Wiji jadi sosok yang penuh misteri: penyair yang melawan rezim dengan kata-kata dan hilang –atau dihilangkan– dalam perlawanannya.

 

Wiji Sebagai Manusia

Pecahnya kerusuhan 27 Juli 1996 menjadi peristiwa yang mendasari cerita dalam Istirahatlah, Kata-Kata. Film diawali dengan rumah Wiji yang digeledah oleh aparat dan keluarganya diinterogasi. Lalu, Wiji digambarkan berada dalam sebuah mobil yang melaju di pedalaman Pontianak. Suara radio yang memberitakan peristiwa kerusuhan dan dugaan keterkaitan Partai Rakyat Demokratik (PRD) di dalamnya melatarbelakangi laju mobil yang ditumpangi Wiji. Berita di radio itu menjadi pengenalan masalah yang efektif, terutama bagi penonton yang dua puluh tahun lalu masih duduk di bangku sekolah dasar atau bahkan masih balita.

Periode persembunyian Wiji di Pontianak mengisi lebih dari separuh cerita dalam Istirahatlah. Ini membuatnya kurang tepat jika disebut menceritakan saat-saat terakhir Wiji sebelum hilang. Pontianak justru menjadi awal persembunyiannya ketika diburu militer karena dianggap bertanggung jawab atas kerusuhan 27 Juli. Hasil penelusuran Tempo yang dirangkum dalam buku Seri Tempo: Wiji Thukul menjelaskan bahwa setelah Pontianak, Wiji sempat terlihat di Jakarta dan Tangerang. Ia masih bergerak di bawah tanah bersama aktivis-aktivis PRD lainnya.

Di Pontianak, Wiji pertama kali menyandang predikat buronan. Di kota itu pula, Wiji terisolasi, baik dari kegiatan pergerakan yang berpusat di Jakarta maupun keluarganya di Solo. Emosi-emosi yang timbul dari kondisi ini diramu dengan baik oleh Yosep Anggi Noen, penulis skenario dan sutradara. Hasilnya, Istirahatlah tidak menampilkan Wiji sebagai sosok pahlawan penuh mitos, dalam pergerakannya memimpin demonstrasi atau mendeklarasikan sajak dengan lantang. Wiji dalam Istirahatlah adalah manusia biasa.

Wiji gelisah hingga Thomas, seorang kawan yang menyembunyikannya di Pontianak, harus membelikannya arak untuk mengatasi insomnia. Wiji ketakutan, mengintip penuh curiga ke arah rumah tetangga yang bising karena tangisan bayi, dari jendela kamar yang ditempatinya di rumah Thomas. Wiji juga marah saat gilirannya mencukur rambut disalip oleh seorang perwira militer yang merasa berhak untuk tak membayar ongkos cukur, namun kondisinya sebagai buronan membuatnya menahan amarah rapat-rapat. Wiji juga merindu, membelikan istrinya sepotong baju di pasar loak dan meminjam uang kepada Martin, kawan yang menampungnya, untuk ongkos pulang ke Solo. Wiji berkelakar di kedai, bermain kartu bersama Martin dan istrinya, buang air kecil di kali, bahkan digambarkan buang air besar di dalam rumahnya di Solo karena tak berani menuju kakus umum.

Istirahatlah tak lupa memberi ruang untuk Sipon, istri Wiji. Tidak banyak memang, tapi tiap adegannya bercerita dengan efektif. Sendirian menjaga dan menafkahi dua anaknya yang masih kecil, Sipon juga harus menghadapi omongan tetangga yang menuduhnya melacur karena menemui Wiji di hotel murah.

Emosi Sipon dalam tiap adegan melengkapi sosok Wiji sebagai manusia, sebagai suami dan ayah. Sudut pandang Sipon dalam Istirahatlah seolah menegaskan, keputusan Wiji untuk pergi menjauhi keluarganya adalah semata demi mereka sendiri. Demi ketenangan hidup sang istri dan sebagai teladan bagi anak-anaknya.

Maka, yang sebenarnya membedakan Wiji dari manusia biasa adalah semangat dan pemikirannya melawan ketidakadilan. Dalam persembunyian, di tengah himpitan emosi-emosinya, meski hanya berbekal pensil tumpul dan kertas kusam, Wiji tak berhenti menulis puisi.

Tak pernah ada informasi yang utuh dan pasti tentang perjalanan Wiji Thukul di masa persembunyiannya. Anggi merangkai hasil risetnya sendiri dengan puisi-puisi Wiji untuk membangun Istirahatlah menjadi cerita yang utuh. Ia juga memilah-milah informasi mana yang penting untuk disampaikan dan melakukan modifikasi tanpa mengubah esensi perjuangan Wiji.

Misalnya, di Istirahatlah Wiji membeli celana pendek berwarna merah untuk istrinya, bukan sebuah atasan seperti dalam puisi Baju Loak Sobek Pundaknya. Satu lagi adalah kalimat “Aku ora ning endi-endi, ora melu ngono-ngono kuwi,” yang disampaikan Wiji kepada Sipon. Di dalam film, Wiji mengucapkannya saat mengabarkan kepulangannya ke Solo dari Pontianak. Dari hasil investigasi Tempo, Sipon memaparkan bahwa kalimat itu disampaikan Wiji pada panggilan telepon terakhir di pertengahan Mei 1998.

Mengingat Istirahatlah adalah fiksi yang didasarkan pada kisah nyata, bukan biopik, hal ini tak sampai mengganggu. Bahkan, mengemas cerita Wiji menjadi fiksi adalah solusi yang rasional. Dengan begitu, Anggi dapat menggunakan hak kreatifnya sebagai pembuat film untuk menambal kekurangan dan menengahi simpang-siurnya informasi.

 

Merawat Ingatan

Menampilkan Wiji dalam sosok manusia biasa bukanlah tanpa risiko. Penonton yang berharap untuk mengetahui mengapa Wiji menjadi buron, seberbahaya apa Wiji sehingga sebuah rezim bisa begitu takut pada kata-katanya, mungkin tak dapat memuaskan rasa penasaran. Konsekuensinya, Istirahatlah seakan bercerita pada penonton yang telah mengetahui siapa dan bagaimana Wiji Thukul.

Namun, mungkin sikap ini memang perlu diambil oleh para kreator di balik Istirahatlah. Sudah waktunya publik tergerak untuk menggali informasi yang sebenar-benarnya tentang Wiji –juga tentang berbagai peristiwa perubahan kondisi sosial dan politik di negeri ini. Saatnya publik tak hanya diam dan puas dengan suapan informasi yang diberikan satu pihak saja.

Istirahatlah juga tidak bermaksud mengecilkan sosok Wiji dengan tidak secara gamblang menampilkan pergerakannya sebagai aktivis buruh. Sebaliknya, film ini mengingatkan pada kita bagaimana ketidakadilan dapat menyentuh siapa saja. Wiji adalah seorang suami dan ayah yang diambil dari keluarganya.

Pada rezim itu, apa yang terjadi pada Wiji sesungguhnya dapat terjadi kepada orang-orang terdekat kita. Inilah sesungguhnya yang membuat Istirahatlah Kata-Kata menjadi bagian penting dari sebuah usaha merawat ingatan terhadap ketidakadilan yang terjadi di negeri ini. ***

21 November 2016
Dilihat sebanyak
2690 Kali
Lainnya...
Setumpuk Pekerjaan Rumah Untuk Hanung Bramantyo, Catatan Dari Kartini (2017)
Setumpuk Pekerjaan Rumah Untuk Hanung Bramantyo, Catatan Dari Kartini (2017)
SOLO SOLITUDE, and a collective anxiety of a nation
SOLO SOLITUDE, and a collective anxiety of a nation
Cinta, di Antara Transaksi dan Iman
Cinta, di Antara Transaksi dan Iman
 1 2345     >>>
Pabrikultur © 2015