Batas Visual dan Batas Nurani dalam Prenjak
Batas Visual dan Batas Nurani dalam Prenjak

Oleh: Anastha Eka


Realitas sosial, pertahanan diri perempuan, dan ego laki-laki, dimampatkan dalam 12 menit oleh Wregas Bhanuteja.

Prenjak (2016) bercerita tentang Diah (Rosa Winenggar), seorang perempuan pekerja, yang sedang mengalami kesulitan keuangan. Dia membutuhkan uang seratus ribu rupiah dalam waktu yang singkat. Maka dengan setengah memaksa, dia meminta Jarwo (Yohanes Budyambara), rekan kerjanya, mengintip vaginanya dalam jarak waktu menyala sebatang korek api dan menarik bayaran sepuluh ribu per batang. Hanya boleh dilihat, tidak boleh dipegang.

Jarwo tentu bertanya, untuk apa Diah memerlukan uang itu. Namun, dengan tegas Diah menyuruhnya untuk tak banyak bertanya. Diah tak butuh banyak basa-basi yang bisa menimbulkan lebih banyak komplikasi. Jika Jarwo tak mau melakukannya, dia bisa menawarkan “jasa”-nya kepada laki-laki lain. Setengah terpaksa, Jarwo mengiyakan.

Dimulailah permainan itu. Di kolong meja yang gelap, dalam kelebat cahaya korek, penonton ikut melihat vagina yang diintip Jarwo. Emosi penonton pun ikut teraduk, menyaksikan pemandangan yang tak nyaman itu, ditemani nyala korek dan Jarwo yang terus-terusan mengoceh. Dari bertanya tentang pacar sampai menasehati Diah tentang pernikahan. Namun, ocehannya tak kuasa menutupi rasa penasaran akan pemandangan di depannya. Tanpa sadar Jarwo bergerak terlalu dekat ke vagina sampai hampir menyulutnya. Empat batang korek pun habis dan uang empat puluh ribu berpindah tangan.

Tak berhenti di sana, ego laki-laki Jarwo bermain. Giliran Jarwo yang setengah memaksa Diah untuk mengintip penisnya. Jarwo bahkan bersedia membayar enam puluh ribu rupiah sebagai imbalan, menggenapi jumlah uang yang Diah butuhkan. Diah pun setuju.

Lagi-lagi memainkan egonya yang seakan telah diruntuhkan Diah karena dipaksa mengintip vagina, Jarwo mengubah aturan main. Korek api diganti dengan korek gas dengan lama tiga puluh detik. Satu yang tak berubah: hanya boleh dilihat, tak boleh dipegang.

Dari kolong meja, dalam temaram korek gas, penonton menyaksikan bagaimana Diah berusaha mempertahankan dirinya. Dia menutup erat matanya. Tanpa tahu apa yang dilakukan Diah di kolong meja, Jarwo–ditampilkan dalam sosok laki-laki gemuk dan tak menarik–seakan menikmati momen kemenangan. Penisnya ditonton oleh seorang perempuan tanpa boleh dijamah.

Dalam dua puluh detik pertama, Diah tak menyaksikan bagaimana perlahan penis Jarwo bergerak menuju ereksi. Namun, akhirnya Diah goyah. Entah karena apa, perlahan Diah membuka mata dan menatap penis setengah ereksi di depannya. Detik itu Diah tahu, dia telah kalah.

Diah dalam Prenjak adalah perempuan yang mempertahankan harga dirinya saat terhimpit. Dia berada dalam posisi genting, namun masih punya harga diri. Dia tak mau berhutang. Padahal, apalah susahnya meminjam seratus ribu rupiah dari rekan kerjanya. Jika tak bisa dari satu orang, toh Diah bisa meminjam dari beberapa orang dalam nilai yang lebih kecil. Namun, ia memilih menawarkan Jarwo untuk mengintip vaginanya. Hanya boleh dilihat, tidak boleh dipegang; karena Diah masih punya harga diri.

Di tengah pertahanan dirinya yang begitu ketat, dia masih harus pula mendengar pendapat Jarwo tentang perempuan yang mencari nafkah sendiri. Wong wedok tidak seharusnya sebegitu repot mencari nafkah. Wong wedok akan lebih baik jika menikah sehingga memiliki suami yang bisa diandalkan untuk mencari nafkah. Seakan-akan pernikahan adalah jalan pintas menuju kesejahteraan.

Sedangkan Jarwo adalah kita, si penonton. Jatuh iba, tapi penasaran. Nuraninya terganggu, tapi begitu juga nafsunya. Menyuarakan norma sambil ikut serta dalam tindakan yang melanggarnya.

Namun, Jarwo mungkin masih lebih baik dari kita. Jarwo dan penonton dibiarkan terus bertanya mengapa Diah melakukan semua itu demi uang seratus ribu rupiah. Tanpa tahu akan digunakan untuk apa uang yang diberikannya pada Diah, ia menawarkan diri untuk mengantar Diah pulang. Ia tak perlu penjelasan panjang untuk tahu bahwa temannya sedang kesusahan dan berusaha memberi bantuan walau sedikit. Ia pun tak dibiarkan menyaksikan apa yang terjadi setelah Diah sampai di rumahnya.

Mungkin memang penonton lebih butuh penjelasan daripada Jarwo sendiri. Setelah Jarwo menghilang dari pandangan, Diah membayar kontrakan. Listrik di rumah petaknya pun dinyalakan. Diah memandikan seorang anak laki-laki yang bertanya kepadanya, di mana sang bapak. Sambil membersihkan penis anaknya, Diah menjawab singkat, “Tidak tahu.” Kita, si penonton, masih harus menyaksikan dengan jelas kesulitan Diah untuk benar-benar mengerti mengapa dia merelakan vaginanya untuk diintip.

***

Sebelum gegap gempita kemenangannya di Cannes, belum pernah saya mengenal Wregas. Tidak dari karyanya, apalagi secara personal. Namun, saya cukup beruntung karena bisa menyaksikan Prenjak dalam satu rangkaian bersama empat filmnya yang lain dalam program Kineforum Juni lalu. Memutar Prenjak di akhir rangkaian menjadi keputusan yang tepat karena mengizinkan penonton yang sama sekali belum karib dengan karya Wregas untuk mengenali karakternya.

Dimulai dengan Senyawa (2012), Wregas dengan tegas melancarkan kritik tentang perjuangan agama yang berbeda untuk tak hanya hidup bersisian tapi juga saling melengkapi keindahan. Ketegasan Wregas terus berulang di film-film berikutnya–Lembusura (2015), Lemantun (2014), dan Flying Chopin (2016). Meski begitu, Wregas selalu berbincang dengan lembut dan penuh humor. Salah satu ciri kelembutan itu ditunjukkan lewat musik latar yang dipilihnya. Dari komposisi karya Jay Wijayanto, Gardika Gigih Pradipta, Guruh Soekarnoputra, sampai Frederic Chopin.

Hingga pada Prenjak, ketegasan ini melangkah keluar dari ranah narasi ke ranah visual. Ketegasan kritik dalam bentuk visual ini lah yang kemudian lebih ramai dirayakan bersamaan dengan kemenangannya di Cannes. Padahal, bahkan sebelum keberaniannya untuk menggugat batas-batas visual, Wregas sudah terlebih dahulu menjadi pembuat film yang cerdas. Tontonlah film-film Wregas yang lain untuk membuktikannya.

Bagi saya, Prenjak tidak hanya berdiskusi tentang intip vagina yang dilakukan Diah dan apa yang dianggap pantas serta tidak pantas ditampilkan di layar bioskop. Selama 12 menit Prenjak seakan terus-terusan melempar pertanyaan kepada saya yang menontonnya. Jika seorang laki-laki yang berada dalam posisi seperti Diah, akankah dia melakukan hal yang sama? Adakah ukuran pantas dan tidak pantas bagi laki-laki? Apa yang akan saya lakukan jika berada dalam posisi Jarwo? Salahkah Jarwo membantu Diah? Berubahkah pandangan saya terhadap Diah jika tak mengetahui tujuannya melakukan intip vagina?

Prenjak juga tentang Jarwo; tentang kita, si penonton. Tentang bagaimana kita membentuk opini atas suatu aksi dan memutuskan apa reaksi terhadapnya. Maka, kemenangan Prenjak di Cannes seharusnya tak hanya dirayakan karena keberaniannya menggugat batas-batas visual, tapi juga karena ia mampu menembus batas nurani penontonnya.  

10 Agustus 2016
Dilihat sebanyak
1396 Kali
Lainnya...
Setumpuk Pekerjaan Rumah Untuk Hanung Bramantyo, Catatan Dari Kartini (2017)
Setumpuk Pekerjaan Rumah Untuk Hanung Bramantyo, Catatan Dari Kartini (2017)
SOLO SOLITUDE, and a collective anxiety of a nation
SOLO SOLITUDE, and a collective anxiety of a nation
Cinta, di Antara Transaksi dan Iman
Cinta, di Antara Transaksi dan Iman
 1 2345     >>>
Pabrikultur © 2015