MEMITOSKAN RUDY
MEMITOSKAN RUDY

Rudy Habibie (Habibie Ainun 2)

 

Sutradara: Hanung Bramantyo

Skenario: Gina S. Noer & Hanung Bramantyo

Produksi: MD Pictures, 2016

 

Oleh: Hikmat Darmawan

 

Sebuah disclaimer lebih dulu: tulisan ini tak hendak mengulas Rudy Habibie (Habibie Ainun 2) sebagai film. Saya lebih ingin mengulas film ini sebagai sebuah produk budaya. Dengan demikian, saya ingin sekali membicarakan film ini dari segi maknanya dalam masyarakat kita.

Bukan berarti tak ada hal yang bisa dibicarakan dari segi film. Hanung dengan awaknya adalah sutradara yang terampil, dengan tim yang cakap. Tapi, gagasan sinematik yang terbaca dari film ini adalah: estetika sinetron dalam nilai produksi (production value) film layar lebar bermodal besar.

"Estetika sinetron" di sini, terutama menyangkut pendekatan serba melodramatik dan serba berlebihan dalam bahasa visual maupun bangunan ceritanya. Film ini sangat verbalistik: setiap krisis, harus ditandai dengan teriakan, atau tangisan sesenggukan, lengkap dengan musik yang dirancang untuk menyayat hati (oh, musik dari Tya Subiakto dan Krisna Purna di film ini sungguh sangat cerewet), kadang ditambah pula dengan teknik slow motion.

Apa yang bisa dicapai dengan adegan tanpa kata, harus diutarakan dalam dialog, kalau perlu diulang-ulang. Seperti tak percaya bahwa penonton mampu menangkap pesan. Kalau tokoh sedih, maka tak cukup ekspresi wajah sedih, malah ekspresi tangisan sesenggukan pun tak cukup –haruslah ada ucapan si tokoh bahwa "aku sedih!" Ini yang saya maksud dengan "estetika sinetron".

Momen seperti itu, cukup mudah terlihat berulang dalam Rudy Habibie (Habibie Ainun 2). Redundansi adalah bagian penting estetika sinetron. Lihat saja, judul film ini: untuk menegaskan bahwa ini film sekuel dari salah satu film Indonesia terlaris sepanjang masa, dan menyangkut seorang tokoh ikonik bangsa ini, maka nama "Habibie" perlu dicantum dua kali dalam judul. Bandingkan dengan buku biografi yang jadi dasar film ini: judulnya, cukup sekali menyebut Habibie, yakni Rudy, Kisah Masa Muda Sang Visioner, Sebagaimana dikisahkan oleh Habibie (Gina S. Noer, Penerbit Bentang & Plotpoint, cet. 1, 2015).

Saya bisa memaklumi pemberdayaan estetika sinetron dalam film Hanung ini. Tapi, memang, ada dua hal yang sungguh mengiris hati saya.

Pertama, dalam adegan ketika Habibie pertama kali menjabat ketua PPI Aachen, untuk menjaga ketertarikan para mahasiswa Indonesia dalam organisasi mahasiswa baru itu, Habibie mengadakan pesta dan memanggil Tielman Brothers. Sebuah plot yang bisa jadi tribute yang manis terhadap kelompok band yang pada pertengahan 1950-an jadi salah satu pelopor aliran musik Rock yang kemudian hari dinamakan Indorock. Tapi, begitu adegan pesta, musik yang seharusnya adalah musik Tielman Brothers, malah diisi dengan sebuah lagu pop-rock retro yang manis. Apa susahnya mencari rekaman Tielman yang asli? Upaya tribute itu jadi cemar. [Ada update berdasarkan keterangan Hanung Bramantyo, sang sutradara, untuk masalah ini. Saya cantumkan di bagian bawah --HD]

Tapi, tribute cemar itu masuk akal, setidaknya tipikal, dalam estetika sinetron yang diterapkan untuk film ini. Musik asli Tielman Brothers mungkin dianggap tak cukup sesuai untuk pasar yang dibayangkan pembuat film ini. Otentisitas tak perlu jadi perhatian. Lha wong, dalam beberapa hal, jelas sekali film ini sengaja berleluasa menjauhi otentisitas sejarah hidup Habibie. Misalnya, adegan Habibie dipukuli oleh seniornya di pabrik pesawat Jerman. Atau adegan perpisahan penuh tangis antara Rudy dan Ilona di stasiun kereta.

Dalam logika estetika sinetron, film ini seakan harus disusun menjadi sebuah dunia mandiri, terlepas sepenuhnya dari kenyataan, sebuah mitologi yang dirancang agar semanis mungkin dikunyah dan ditelan para penonton. Malah, kalau perlu, film ini mengatasi kenyataan –fakta ditekuk, yang penting film secara maksimal bisa merangsang tangis dan tawa penonton dalam ruang gelap bioskop.

Tentu saja, hal tersebut bukan hal yang aneh dalam seni dan industri film. Tak usah kita memasuki debat panjang soal "film sejarah" atau nilai kebenaran sebuah film biopic (film biografi). Banyak sutradara besar yang tak setia pada otentisitas sejarah. Martin Scorsese (dalam Goodfellas dan The Aviator), Steven Spielberg (dalam Schindler's List), atau Garin Nugroho (dalam Soegija dan Tjokro, Guru Bangsa). Dan sebagainya.

Hanung dan para produser Rudy Habibie hanyalah melakukan pemiuhan fakta demi cerita itu secara ekstra-melodramatik, konsisten dengan pola pikir membuat sinetron. Apalah artinya berupaya menyesuaikan penggunaan nama Tielman Brothers dengan musik asli Tielman Brothers? Toh untuk pemiuhan fakta sejarah lainnya, film ini tak ragu melakukannya. Disclaimer di awal film, adalah: film ini "terinspirasi" dari kisah nyata. Bukan "diangkat dari kisah nyata", tapi "terinspirasi".

Hal kedua yang sukar saya maafkan: suara dan gaya bicara karakter "Bung Karno" saat pidato di hadapan para mahasiswa Indonesia di Jerman dan saat menjawab pertanyaan Habibie muda. Suara cempreng, logat kok agak Batak, nol kharisma. Malah culun adanya. Dengan segala izin mendistorsi, para pembuat film ini kok tak memperhitungkan fakta di depan hidung: bahwa Bung Karno itu tokoh ikonik yang termasuk paling terekam secara visual maupun audio dalam arsip sejarah Indonesia.

Buka saja Youtube atau Google, ketik "Pidato Soekarno" atau semacamnya. Mudah semata bagi para penonton untuk mencari rujukan, seperti apa sih Soekarno kalau bicara. Barangkali malah banyak penonton sudah punya bayangan, seperti apakah Soekarno jika berpidato.

"Soekarno" dalam film Rudy Habibie yang sengaja tak pernah ditampakkan wajahnya, hanya bagian belakang tubuhnya dan suaranya, tak tampak diupayakan agar mendekati bayangan kolektif kita tentang Soekarno yang kharismatik. Atau, bayangan para pembuat film ini tentang apa itu "kharismatik" memang culun. Betapa pun, dampaknya pada saya sebagai penonton adalah: lagi-lagi sebuah upaya penggambaran sejarah yang cemar.

Kedua hal yang saya sebut itu adalah petunjuk kecil bahwa di tengah kesungguhan membuat film dengan nilai produksi tinggi, terdapat sebuah keserampangan yang ekstra dalam memperlakukan fakta demi membangun sebuah naratif serba-berlebih tentang masa muda Habibie.

Pertanyaannya, kenapa para pembuatnya memilih langkah itu?

Untuk menjawab pertanyaan ini, saya tak hendak berperilaku seperti wartawan saja. Perhatikan praktik jurnalisme banyak wartawan di negeri kita saat ini: tanya ke narasumber, lalu apa pun yang keluar dari mulut narasumber dianggap sebagai sebuah kebenaran, bisa dituliskan begitu saja tanpa pendalaman lebih jauh mengenai kebenaran pernyataan maupun konteks dari pernyataan seorang narasumber. Senior saya, Farid Gaban, pernah menyebut istilah "jurnalisme lisan" untuk praktik demikian.

Dengan kata lain, saya menulis ini sengaja tak memilih jalur jurnalistik yang mengharuskan saya bertanya pada Hanung (sutradara), pada Manoj (produser), atau Gina (penulis skenario), dan lain-lain. Saya tak ingin terjebak jurnalisme lisan, tapi saya pun tak cukup punya waktu untuk melakukan peliputan mendalam. Saya saat menulis ini hanya bisa memberdayakan modal saya saja: menonton film ini sebagai seorang penonton terlatih.

Saya lebih membatasi pengulasan ini berdasarkan asumsi bahwa sebuah film adalah sebuah teks. Di dalam teks, ada susunan ide, bangunan pikiran, premis-premis yang mendasari kenapa A dikatakan A dan B jadi B dalam teks tersebut. Seorang penulis atau seniman bisa jadi tak sepenuhnya sadar atau sengaja dalam menyusun teks di dalam karyanya. Biasanya, yang demikian adalah para seniman yang bekerja secara intuitif.  

Dalam teks itu sendiri, pembaca bisa menggali konstruksi pemikiran para pembuatnya. Konstruksi yang bisa jadi disusun secara sadar atau tak sadar oleh sang pembuat karya. Metode ini bisa saja meleset, tapi patut dicoba. Asalkan penggunaannya cukup hati-hati, dalam arti tidak terjebak dalam perangkap over reading (pembacaan berlebihan, mengganggap sebuah teks memiliki makna sebagaimana yang dipaksakan si pembaca pada teksnya –si pembaca menundukkan teks dengan hanya melihat yang ia sendiri ingin lihat dalam teks yang ia baca).

Di sini lah saya memutuskan untuk membaca film ini sebagai sebuah teks yang terletak dalam situasi kultural tertentu. Film ini tampak bagi saya sebagai sebuah wahana memitoskan sebuah sosok nyata. Di aras mitologis, bukan hanya naratif mengatasi fakta, malah keberlebihan naratif harus mengatasi fakta. Diorama mengatasi otentisitas.

Anda ingat diorama adegan-adegan sejarah dalam monumen-monumen Orde Baru di Monas dan, terutama, di museum Pengkhianatan PKI Lubang Buaya? (Nama museumnya seperti judul koran Lampu Hijau, lengkap dan sudah menyimpulkan keseluruhan isi). Diorama-diorama itu adalah alat propaganda rezim Soeharto. Pertunjukan boneka mati yang disusun jadi sebuah dongeng tentang jahatnya PKI, salahnya Orde Lama, dan betapa pahlawan Orde Baru.

Setidaknya, ada tiga unsur penting dalam sebuah wahana propaganda: (1) musuh bersama (sebaiknya sejahat mungkin), (2) tokoh pahlawan pembasmi kejahatan, dan (3) retorika identitas kelompok –biasanya, selama abad ke-20, retorika patriotik kebangsaan.

Rudy Habibie, sebagai teks, tak memiliki karakter yang bisa jadi musuh yang kuat. Hanya ada para veteran perang kemerdekaan yang mendapat jatah kuliah di Jerman, sebagai hadiah perjuangan mereka, lantas bersikap petantang-petenteng dan jadi hambatan Rudy dalam menyampaikan visinya bagi PPI Jerman, maupun bagi Indonesia.

Tapi, teks Rudy Habibie memiliki banyak sekali porsi penciptaan sosok Pahlawan. Sosok mahasiswa jenius dibangun seakan seorang pahlawan super. Unggul dalam kuliah. Kepemimpinan yang tegas. Pandai memasak. Teguh pada pendirian. Disukai banyak perempuan cantik. Berbakti pada orang tua. Beragama dengan kuat (quiz: berapa kali krisis hidup Rudy di film ini diikuti dengan adegan berdoa pada Allah, dan sesudah itu ada jalan keluar?).

Retorika identitas kelompok cukup menonjol juga dalam Rudy Habibie, lewat pesan bahwa Rudy melakukan semua yang ia lakukan untuk membangun Indonesia.

Film ini hadir di tengah dahaga masyarakat mendapatkan sosok negarawan atau tokoh panutan. Paling tidak, itu yang saya simpulkan sesudah keriuhan Pilpres 2014. Perhatikan, bagaimana selama proses panjang Pilpres dan sesudahnya, pertempuran wacana terkeras, dan terkesar, adalah bagaimana masing-masing kubu (yang akhirnya mengerucut pada hanya dua pasangan kandidat, Prabowo-Hatta Rajasa vs. Joko Widodo-Jusuf Kalla) memuja atau membenci sosok, bukan program atau visi.

Tentu saja, dalam pilpres di mana pun, termasuk di Amerika, sosok pribadi selalu lah penting. Tapi, saya merasa, pemujaan dan penghancuran nama baik di masing-masing kubu dan terhadap lawan masing-masing mencapai intensitas yang seakan histeria massa atau kegilaan kolektif. Patriotisme dan fanatisme agama jadi bahan bakar emosi dan sentimen para pemilih. Sosok menjadi mitos. Rupanya, mitos sosok super itu dibutuhkan banyak orang di Indonesia saat ini?

Segala keberlebihan, segala pendekatan melodramatik, atas sosok Habibie muda dalam film ini bisa dipandang dengan cara demikian: sebuah upaya memitoskan Habibie.

Kisah hidup Habibie sendiri pastilah punya banyak sekali aspek menarik. Dunia mengakui ia insinyur jenius. Ia dipanggil ke tanah air untuk menggubah arah pembangunan Indonesia yang telah mapan dalam naungan rezim Soeharto agar lebih berbasis teknologi. Ia pernah jadi pemimpin dan tokoh simbolik salah satu organisasi Islam paling kuat pada 1990-an, ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia). Dan ia berada di titik terpanas peralihan rezim Soeharto ke era Reformasi, menjadi presiden pertama era yang sangat genting itu, dalam suasana penuh gejolak, dan terjungkal oleh kesepakatan politik kaum reformis saat itu.

Film ini memilih versi karikatural Habibie. Dalam durasi sekitar 2,5 jam, sosok Habibie muda digambarkan sejak masa kanak yang penuh ingin tahu dan diselingi pemboman kampung halamannya oleh pesawat Jepang, hingga masa kuliahnya yang cemerlang di Jerman pada 1950-an. Reza Rahardian adalah pemain watak hebat, dan dengan baik menangkap versi karikatural Habibie muda.

Beberapa anekdot masa muda Habibie menampakkan otak cemerlang dan mental penuh percaya dirinya. Misalnya, anekdot para seniornya, mahasiswa Indonesia di Aachen, memelonco Rudy dengan menyuruhnya memesan makanan mereka, dan Rudy mengingat tanpa mencatat. Dalam buku karya Gina S. Noer, anekdot itu hanyalah kejadian kecil yang lucu.

Dalam film, anekdot itu ditingkatkan jadi adegan kepahlawanan. Para senior berlatar Tentara Pelajar yang dapat beasiswa sebagai hadiah, jadi segerombol lawan menyebalkan yang dikalahkan dengan telak oleh kecerdasan Rudy mengingat pesanan makanan mereka. Para senior itu kemudian digambarkan sampai memukuli Rudy gara-gara gurauan kanibalnya, juga menyerbu kantor PPI pimpinan Rudy di jelang akhir film.

Gurauan kanibal, maksudnya adalah: Rudy menyampaikan pada orang Jerman, bahwa ia pandai berbahasa Jerman karena orang tuanya kanibal dan pernah makan orang Jerman --sebuah gurauan untuk meledek prasangka bahwa orang Indonesia adalah primitif. Buku Rudy menganggap itu memang benar terjadi, setidaknya menurut pengakuan Habibie pada penulis dan tim perisetnya. Dalam film, gurauan itu dilontarkan tiga kali, dan kali ketiga membawa konsekuensi kekerasan. Saya tak menyoal kejadian pengeroyokan dan pemukulan Rudy dalam film adalah sesuatu yang benar terjadi di dunia nyata. Dunia film dan dunia nyata punya kebenaran mereka sendiri.       

Yang saya rasa penting, keberanian menggambarkan veteran perang kemerdekaan sebagai begundal dalam film ini. Mereka tampak hedon, sok kuasa, tak cerdas, dan beraksi preman (secara berlebihan, tentu: salah seorang tokoh beberapa kali mengacungkan pistol kepada Rudy dan kawan-kawan). Rezim Soeharto adalah rezim kleptokrasi (kerajaan para birokrat pencoleng) yang terdiri dari banyak veteran perang kemerdekaan. Gambaran premanisme para veteran itu mustahil bisa dimunculkan semasa Orde Baru.

Penggambaran premanisme para senior yang bagaikan mafia itu, yang dengan lantang penuh teriak membanggakan latar militer mereka, perlu dibuat berlebihan dalam film ini dalam kerangka memitoskan Rudy.

Rudy adalah seorang jenius. Rudy adalah seorang pemimpin. Bahkan sejak kecil, ketika ayahnya, Alwi Habibie wafat saat memimpin sholat keluarganya, Rudy digambarkan menangis, tapi sigap mengambil alih posisi imam agar sholatnya selesai dan keluarganya segera mengurusi sang Ayah yang tak bergerak lagi. Rudy bahkan harus jelas-jelas dituliskan di awal film akan tumbuh jadi salah satu tokoh pluralisme agama di Indonesia (apa perlu tulisan itu?).

Rudy adalah seorang nasionalis tulen. Lebih tulen dari para mantan pejuang bersenjata semasa Perang Kemerdekaan. Rudy superlogis, dan selalu memecahkan persoalan secara jenial (malah, kadang macam McGyver saja, memecahkan kerusakan pemanas ruangan dengan benda-benda yang ada di sekitarnya). Dan kisah cintanya dengan Illona Lanovska (Chelsea Islan), jadi katalis bagi nasionalisme Rudy.

Dalam buku Rudy, Gina yang melakukan penggalian intensif selama kurang lebih setahun dengan Habibie langsung, Rudy dan Illona berpisah secara biasa saja –persoalan percintaan yang terhalangi orang tua. Dalam film, inilah sebuah melodrama penting! Bahwa ini adalah pilihan bagi Rudy untuk sepenuhnya "menjadi Indonesia".

Adegan Illona penuh tangis mempertanyakan apa maknanya dia di sebuah negara baru itu, "Indonesia", segera mengingatkan saya pada adegan karakter yang juga diperani Chelsea di film Tjokro: Guru Bangsa. Di film Garin itu, karakter yang diperani Chelsea mempertanyakan makna dirinya dalam sebuah negara baru, bangsa baru, yang dibayangkan Sang Guru Bangsa, Tjokroaminoto (juga diperankan, dengan sangat baik pula, oleh Reza Rahardian). Adegan itu sungguh membuat saya tercekat, komunitas yang dibayangkan dalam kepala saya tergugat juga. 

Sementara, adegan Illona menangis mempertanyakan makna dirinya di negara baru itu dalam Rudy Habibie, tak setajam itu dampaknya di dalam diri saya. Sebab, adegan dalam Tjokro memang menjadi sebuah pertanyaan yang tak berjawab. Adegan dalam Rudy Habibie, jelas ingin memberi jawab.

Film Rudy Habibie memang sebuah teks penuh kepastian. Kepahlawanan dan nasionalisme Rudy begitu mutlak, tak terbantahkan. Nasionalisme itu sendiri, tak dipertanyakan sama sekali. Begitu juga teknologi yang pada dasarnya sebuah jawaban Rudy terhadap persoalan menjadi Indonesia, tak pernah didiskusikan kesahihan dan keberartiannya.

Tjokro adalah sebuah teks yang merenungi dan mempertanyakan apa makna "menjadi Indonesia". Rudy Habibie adalah sebuah teks yang menerangkan, begini lho "menjadi Indonesia".

Dan mungkin, ini yang sedang dibutuhkan oleh masyarakat kita? Saya menonton Rudy Habibie, saat sedang berpikir-pikir tentang kenapa, ya, 90% acara keagamaan dan para ustadz serta ulama di acara-acara itu mengajarkan agama seperti kepada anak kecil? Maka, saya pun terbawa pada bertanya-tanya, apa memang saat ini dibutuhkan cara mengajarkan nasionalisme seperti kepada anak-anak?

Jika, ya, maka film seperti Rudy Habibie memang sungguh memenuhi kebutuhan.

Saya merenungi, dengan penuh sakit kepala, berbagai "diskusi" politik dan agama di media sosial yang digunakan orang Indonesia. Menekuri, dengan takjub, mengapa orang bisa begitu ndableg saat menatap berbagai jawab penuh caci, label, dan prasangka di akun Facebook Ade Armando. Melihat daftar best sellers buku di Indonesia. Tak terhindarkan perasaan bahwa jangan-jangan memang kita, tahap percakapan kita, belum lah dewasa benar.

Di sisi lain, kita tahu, betapa bisa menipunya realitas virtual. Bisa jadi ada banyak suara yang mengandung kedewasaan, kewaskitaan, suara-suara yang matang, tak punya saluran untuk bersuara. Atau, tepatnya, saluran yang ada terlalu dikuasai aliran "kekanakan" itu. Jika demikian, maka akan menarik sekali bila ada versi lain dari film/teks tentang Habibie yang lebih historik, otentik, dan apa adanya. ***

UPDATE: 

Hanung Bramantyo, sang sutradara, memberi keterangan di Facebook saya, bahwa memang yang ada di film bukanlah Tielman Brothers, tapi TILLMAN BROTHERS. Menurut Hanung, Tielman Brothers memang tak pernah pergi ke Aachen dan manggung di pesta PPI semasa Habibie kuliah di sana. Itu adalah band fiktif, dan Hanung menyatakan bahwa itu tak ada hubungan dengan Tielman Brothers dan "tak perlu dihubungkan". 

Tapi, Hanung juga memberi keterangan bahwa lagu yang ada di film itu, lagu baru yang mengambil rujukan pada Tielman, di album Live in German, berjudul Hallo Cattalina dan Pretty Little Angel Eyes.

Hanung malah menambahkan bahwa ia juga mengambil pilihan memfiktifkan beberapa hal lain, seperti nama Bank: Deutch Bank dan bukan Deutche Bank. Atau, "Laskar Pelajar" dan bukan "Tentara Pelajar". 

Keterangan Hanung ini justru menguatkan poin saya, bahwa Rudy Habibie memang lebih memilih perekaan imajinatif ketimbang otentisitas historis. Sehingga pertanyaan dasar yang membangun tulisan saya di atas, malah semakin absah: kenapa sang pembuat film memilih jalan itu --jalan yang menempatkan naratif fiktif mengatasi akurasi dan otentisitas historis. 

Tentu saja, film fiktif bukanlah teks sejarah. Tapi, seberapa banyak kebebasan seorang pembuat film menekuk fakta sejarah dalam sebuah karya adalah pilihan estetik yang absah untuk dilakukan, sekaligus juga absah untuk dipertanyakan.  

09 Juli 2016
Dilihat sebanyak
17717 Kali
Lainnya...
Setumpuk Pekerjaan Rumah Untuk Hanung Bramantyo, Catatan Dari Kartini (2017)
Setumpuk Pekerjaan Rumah Untuk Hanung Bramantyo, Catatan Dari Kartini (2017)
SOLO SOLITUDE, and a collective anxiety of a nation
SOLO SOLITUDE, and a collective anxiety of a nation
Cinta, di Antara Transaksi dan Iman
Cinta, di Antara Transaksi dan Iman
 1 2345     >>>
Pabrikultur © 2015