Gombalan Garin, dan Lain-lain

Oleh: Hikmat Darmawan


Jika Anda terpaku pada reputasi Garin Nugroho sebagai sutradara film-film "nyeni" atau "film-film festival", sebaiknya lupakan. Ini film penuh gombal: warna-warni, dan dijahit penuh main-main.

 

1.

Ini bukan kali pertama Garin bermain-main dalam filmnya. Kita bisa merujuk pada Rindu Kami Padamu (2004), yang mencipta dunia pasar yang penuh humor. Juga Soegija (2012) dan Guru Bangsa: Tjokroaminoto (2015) juga saya tonton sebagai film penuh main-main. Bukan hanya karena ada karakter-karakter komikal yang dimainkan oleh Butet Kataradjasa, Gunawan Maryanto, atau Paul Agusta dengan keping-keping adegan comic relief (humor pelepas ketegangan) mereka.

Soegija dan Guru Bangsa mempermainkan harapan penonton akan sebuah biopic (film biografi). Ketepatan dan kerunutan sejarah tidak jadi tumpuan. Kisah seorang tokoh diperalat Garin untuk jadi wahana menggambarkan ide-idenya. Dengan santai Garin menekuk-nekuk sejarah dan naratif kedua film itu jadi sebuah esai tentang bangsa, tentang Indonesia.

Malah beberapa film "serius"-nya pun mengandung kebermainan. Opera Jawa (2006), misalnya, mengandung kebermainan di tingkat konseptual: sosok Sinta jatuh cinta pada sosok Rahwana, dan sosok Rama jadi si licik penuh sirik; belum lagi gado-gado instalasi, tarian, dan musik yang kalau diperhatikan, cukup seenaknya.

Ach…Aku Jatuh Cinta (AAJC) punya dosis kebermainan melebihi film-film tersebut di atas. Sebagai rujukan, saya mengingat sebuah adegan sisipan di pasar dalam Rindu Kami Padamu: drama rumah tangga seorang ayah dengan putrinya, yang ditonton orang sepasar, dan dirancang penuh sadar untuk meniru sinetron. Nah, AAJC sepenuhnya mengembangkan kebermainan itu. Seluruh film adalah keisengan Garin merangkum estetika sinetron (jika bisa dikatakan ada "estetika" dalam sinetron).

Bicara soal "estetika", Garin pernah menggambarkan pada awal 1990-an bahwa filmnya bertumpu pada "estetika gambar". Waktu itu, ia menggambarkan Cinta Dalam Sepotong Roti (1991) yang memang dianggap kritikus dan penonton film Indonesia terasa baru dari segi gambar. Saya ingat, menatap poster cuplikan foto dari film itu di bioskop, dan merasakan rayuan gambar yang asyik: sepasang kaki lelaki dan perempuan yang menghadap matahari, gerobak mainan kampung kaya warna yang terasa eksotik, dsb.

Rayuan gambar itu menyelewengkan penonton (setidaknya, saya) dari kenyataan bahwa itu terhitung film Garin yang "cerewet", penuh kata-kata. Bukan hanya diskusi panjang tentang masalah rumah tangga dan seks, tapi juga puisi-puisi dan lanturan-lanturan puitik. (Barangkali, lewat film itulah pertama kalinya puisi Sapardi Djoko Damono jadi popular.) Film-film Garin sesudahnya, khususnya Surat Untuk Bidadari (1994) dan Bulan Tertusuk Ilalang (1995 –judulnya mengambil dari puisi Zawawi Imron), tampak diniatkan untuk mengorek gambar sampai jauh.

Jelajah estetika gambar itu kemudian diimbangi oleh jelajah kata oleh Garin dalam Puisi Tak Terkuburkan (2000). Rindu Kami Padamu pun tampak diarahkan untuk lebih bertumpu pada kata: cerita bergerak oleh dialog dan paparan tokoh pada penonton. Sebagian pengamat pada saat film itu beredar mengatakan bahwa film Rindu Kami Padamu adalah film "paling komunikatif" dari Garin. Tumpuan pada kata pun semakin tampak jadi pilihan dominan Garin sesudah Mata Tertutup.

Yang menarik dari (bisakah kita sebut begini) "estetika kata" di film-film terbaru Garin itu adalah kemampuannya memadu kebahasaan yang baik serta benar, dan pembuyaran harapan kita pada kata dalam film-filmnya. Jelasnya, tampak ketika menjelajah kata pun Garin mampu penuh iseng dan semangat mempermainkan. Khususnya dalam AAJC ini, jelajah kata itu tidak membuat film menjadi koheren atau terstruktur dengan kukuh.

Dalam hal ini, saya terpaksa merujuk sosok Garin di luar posisinya sebagai sutradara. Garin adalah juga seorang penulis masalah-masalah kebudayaan Indonesia yang fasih. Ia juga menerbitkan buku tentang sejarah film Indonesia bersama Dyna Herlina, berjudul Krisis dan Paradoks Film Indonesia (2013). Sebagai tambahan, ia juga seorang sarjana Fakultas Ilmu Hukum Universitas Indonesia, di samping lulusan Institut Kesenian Jakarta. Garin sangat karib dengan dunia tulis-menulis.

Tapi, Garin adalah seorang yang dibesarkan dengan jathilan, ketoprak, obrolan di angkringan khas Jogjakarta atau warung-warung Jakarta. Kata-kata bukan sekadar wahana untuk mendapatkan atau memproduksi pengetahuan terstruktur –malah, kata-kata bisa jadi arena permainan, plesetan, dan gombalan. Begitulah rupanya Garin dalam menyusun film AAJC.



  

2.

"Saat ini adalah era dunia penuh rujukan," kata Garin dalam diskusi menjelang pemutaran AAJC di Plaza Indonesia Film Festival 9 Februari 2016 lalu. Film ini memang bukanlah sebuah naratif yang padu, tapi mosaik rujukan demi rujukan. Perhatikan saja nama dua tokoh utamanya.

Jelaslah itu rujukan hampir banal terhadap kisah klasik/klise tentang cinta, Romeo dan Juliet. Pernah ada Rojali dan Zuleha (Sutradara: Nja Abbas Acup, 1979). Juga film Romeo Juliet (sutradara: Andibachtiar Yusuf, 2009) yang mencangkok kisah cinta itu pada perseteruan "suku" sepak bola Jakmania dan Bobotoh Persib. Dan kini, Garin memeleset Romeo jadi Rumi.

Bagi orang yang dibesarkan dalam tradisi bacaan Islam seperti saya, pelesetan ini terasa mak nyos. Bukan hanya memberi momen, "wah, sialan, itu kan di depan hidung semua orang" ketika mengaitkan Romeo sang pencinta dan Rumi sang sufi pencinta. Pelesetan ini juga memberi ruang bagi dialog-dialog yang terasa aneh dan lucu di kepala saya setiap kali kata Rumi diungkapkan secara deklamatis di film ini.

Dengan cara yang sama banalnya, Garin juga menyusun mosaik kebendaan dalam AAJC, sehingga dua benda kecil jadi penanda sebuah perubahan besar dalam kehidupan yang melingkupi Rumi (Cicco Jerikho) dan Yuli (Pevita Pearce): peralihan limun jadi minuman botolan impor, dan radio transistor jadi televisi. Berulangkali para tokoh di film ini meneriakkan bahwa "dunia sudah berubah!", seolah penonton harus dituntun untuk mendapatkan pesan itu.

Lipstik, beha, korek api, tai (iya, Garin membuka film dengan gurauan kotoran manusia), candi, batang-batang tebu, gerbong barang, disorot dengan terang-terangan lewat kamera maupun kata-kata. Verbalisme ini malah membuat saya mau tak mau berpikir bahwa ini sebuah permainan rujukan (referensi) lain lagi: sinetron –sesuatu yang pernah dipermainkan Garin dalam Rindu Kami Padamu itu.

Toh Garin tetap tak mampu menampik hasrat pemaknaan dalam pendekatan "estetika sinetron" itu. Benda-benda tidak hanya berfungsi sebagai informasi penanda zaman (1970-an, 1980-an, 1990-an –walau yang paling terasa suasananya adalah era 1980-an di film ini), tapi juga berfungsi memberi makna. Benda-benda jadi seperti aktor pembantu dalam film ini. Beberapa kali plot bergerak karena benda: lipstik yang membawa pengusiran, botol yang membawa tuduhan terorisme, beha yang membatalkan pernikahan.

Verbalisme berlebihan dalam film ini agaknya juga punya fungsi lain. Film ini terasa menegaskan kelemahan Garin dalam praktis seluruh filmnya, yakni ketakmampuan Garin untuk masuk ke lapis dalam dan batin para manusia yang ada dalam film-filmnya. Oleh Garin, justru verbalisme itu dimanfaatkan untuk sekalian dieksploitasi agar naratifnya mengapung-apung di permukaan. Justru karena bermain-main di permukaan itulah, Garin mencipta peluang permainan bentuk yang sekalian.

Misalnya, dengan santai saja Garin dalam adegan drama Romeo dan Juliet menggiring Rumi dan Yuli ke balik layar, dan layar bioskop tiba-tiba merah serta terisi siluet-siluet lelaki-perempuan dan animasi sulur serta bunga-bunga. Perhatikan pula bagaimana musik serta lagu-lagu lawas (khususnya gubahan Ismail Marzuki) jadi aktor lain yang keluar masuk naratif, kadang secara menyelonong, menuntun penonton mengikuti boneka-boneka manusia menjalani cerita di layar.

Apakah ini film cinta? Iya dan tidak. Film ini banyak mengucap cinta. Tapi, mungkin saja film ini bisa kita perlakukan sebagai sebuah sindiran, bahwa seringkali di zaman penuh rujukan kini, cinta hanyalah ucapan demi ucapan belaka.

Yang jelas, saran saya, jangan terlalu serius menonton film ini. Coba menonton AAJC seperti menonton anime macam Sailor Moon atau K-On. Semoga bisa enak ketawa-ketawa menontonnya. ***     

  

Ach…Aku Jatuh Cinta, Sutradara: Garin Nugroho, Pemain: Chicco Jerikho, Pevita Pearce, Produksi: MVP Production & Tree Water Productions

 

11 Februari 2016
Dilihat sebanyak
2738 Kali
Lainnya...
Setumpuk Pekerjaan Rumah Untuk Hanung Bramantyo, Catatan Dari Kartini (2017)
Setumpuk Pekerjaan Rumah Untuk Hanung Bramantyo, Catatan Dari Kartini (2017)
SOLO SOLITUDE, and a collective anxiety of a nation
SOLO SOLITUDE, and a collective anxiety of a nation
Cinta, di Antara Transaksi dan Iman
Cinta, di Antara Transaksi dan Iman
 1 2345     >>>
Pabrikultur © 2015