Membincang Cinta di Mal, Plaza Indonesia Film Festival 9-12 Februari 2016
Membincang Cinta di Mal, Plaza Indonesia Film Festival 9-12 Februari 2016

Mal memang jadi tempat kita melihat budaya, fashion, gaya hidup, konsumerisme, dan cinta bertemu. Begitu kurang lebih komentar Garin Nugroho dalam konperensi pers Plaza Indonesia Film Festival (PIFF) pada Selasa, 9 Februari 2016 sore kemarin.

Film terbaru karya sutradara kelas dunia itu, Ach…Aku Jatuh Cinta, membuka Festival yang cukup unik ini. Bukan karena lokasinya di Plaza Indonesia, Jakarta, yang membuat unik –sudah sering mal jadi pilihan lokasi festival film di Indonesia, seperti beberapa kali dilakukan oleh Jakarta International Film Festival (JIFFEST) yang kini telah almarhum. PIFF cukup unik, karena merupakan inisiatif dari Mal Plaza Indonesia.

PI rupanya punya perhatian cukup besar pada acara-acara film. Salah satu yang paling unik adalah pameran foto Festival Film Indonesia 2015 akhir tahun lalu, yang mengundang para nomine FFI 2015 difoto oleh para fotografer terkenal Indonesia. PIFF sendiri kali ini sudah kali kedua bekerja sama dengan Pabrikultur. Rencananya, PIFF bukan sebuah acara yang sekali setahun, tapi tersebar di sepanjang tahun.

Pertama kali, PIFF bermitra dengan Pabrikultur Mei 2015, dan sukses antara lain menghadirkan film Siti dalam format DCP (format digital yang merupakan standar internasional untuk pemutaran di bioskop). Format tersebut agar bioskop menampilkan mutu visual dan suara yang total dan menambah keindahan pengalaman menonton film yang kemudian terpilih jadi yang terbaik di FFI 2015 itu.

Tema kali ini, Love Philosophy, dipilih Plaza Indonesia untuk menyambut suasana "bulan cinta" Februari. Kemudian, Pabrikultur menelisik film apa saja yang mungkin. Dan ada enam film kali ini yang diputar gratis untuk memenuhi tema itu. Proses pemilihan sungguh menantang, bukan hanya dari segi teknis ketersediaan, tapi tentu saja dari segi kuratorialnya.



Maka tersajilah enam film. 10.000 KM (Sutradara: Carlos Marques-Marcet, Spanyol) menyajikan kisah cinta yang termediasi teknologi. Jarak yang jauh bagi sebuah cinta, apakah runtuh oleh teknologi? Ataukah teknologi yang sama malah jadi dinding baru bagi cinta? Like Someone In Love (Abbas Kierostami, Prancis-Jepang) menutur sebuah kisah tentang semacam cinta, yang juga sebuah hubungan lintas generasi. Di samping cerita yang unik, film ini juga sebuah moda produksi yang unik –sutradara Iran, dengan produksi Eropa dan Jepang, menghasilkan sebuah film yang "Jepang banget". Lalu, agar lebih lengkap, adapula sajian cinta yang ringan dan lucu dari Thailand, lewat I Fine..Thank You..Love You (Mez Tharatorn).

Tiga film Indonesia yang tersaji juga punya keistimewaan sendiri. Copy of My Mind akan jadi film penutup di Festival ini. Karya terbaru Joko Anwar menawarkan sebuah kisah cinta yang terpilin dengan persoalan politik. About a Woman adalah logi terakhir dari trilogi film bertema seks dan cinta dari Teddy Soeriatmadja, setelah Lovely Man dan Something in The Way. Kali ini, Teddy menyorot soal cinta dan gairah, yang jadi soal pelik bagi seorang perempuan paruh baya yang tubuhnya masih menyimpan hasrat. Film pembuka, Ach…Aku Jatuh Cinta dari Garin Nugroho menawarkan pandangan main-main tentang cinta yang melintas masa 1970-an, 1980-an, dan 1990-an.

Dalam konperensi pers, Garin mengungkap bahwa lewat film terbarunya ia mencapai dua hal: pertama, ini satu dari rangkaian tiga puluh tahun berkarya pada tahun ini, yang akan ia tandai dengan munculnya empat karya sinematis baru. Dalam obrolan ringan dengan Pabrikultur, Garin bercerita tentang beberapa proyeknya. Antara lain, sebuah film horor hitam putih, dengan pertunjukan musik live sebagai pengiring film sehingga menjadikannya sebuah paduan konser dan film.

Dalam obrolan penuh gurau itu, dan juga dalam diskusi menjelang pemutaran Ach…Aku Jatuh Cinta malam tadi di PIFF Februari 2016, Garin mengungkap proses kreatif film semi-musikal yang diproduksi oleh Multivision Plus tersebut. Garin untuk film ini sengaja berfokus pada moda produksi mainstream ala sinetron dan sistem bintang. Pevita Pearce dan Chicco Jerikho menjadi tumpuan utama film ini, dan mereka dikuras oleh Garin dengan membiasakan secara intensif bertukar puisi untuk kemudian menjadi dialog film.

Film yang memang tampak sengaja lebay dalam mengungkap cinta ini digunakan Garin juga untuk menatap perubahan-perubahan sosio-kultural di Indonesia. Dalam konperensi pers, Garin mengungkap capaian keduanya (setelah capaian perayaan 30 tahun berkarya) secara pribadi lewat film ini. "Saya sengaja hendak melengkapkan runutan periode Indonesia modern dalam film-film saya," kata Garin.  

Maka, kata Garin, saksikanlah bahwa ia telah menutur mosaik Indonesia periode akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 dalam Guru Bangsa: Tjokroaminoto (2015), periode 1940-an hingga 1950-an lewat Soegija (2012), periode 1960-an lewat Puisi Tak Terkuburkan (2000), periode 1970-1990-an lewat Ach…Aku Jatuh Cinta (2016), episode subkultur anak muda 1990-an lewat Generasi Bunga (2009), dan periode 2000-an lewat Mata Tertutup (2011).



Diskusi film juga dihadiri Chicco Jherikho, yang terlambat tiba di konperensi Pers karena Jakarta dilanda hujan besar dan banjir di beberapa tempat. Film-film Chicco sedang diputar dalam waktu berdekatan di akhir 2015 dan awal 2016 ini. Filmnya yang lain, Copy of My Mind karya Joko Anwar, pun akan menutup PIFF Februari 2016. Wajar jika Chicco diledek Garin, "wah, ini Chicco Film Festival dong ya!"

Chicco berbagi pengalaman disutradarai Garin yang unik. Betapa seringkali ia harus selalu sigap dan siap menuruti apa mau sang sutradara yang seringkali tak tertebak dan tak tertulis dalam skenario. Untuk itulah, kata Chicco, seorang aktor haruslah total dan selalu mengayakan referensi rujukan. Itulah juga pesan Chicco terhadap calon peserta kompetisi film yang diadakan untuk kaum muda umum oleh Plaza Indonesia untuk PIFF edisi Mei 2016 nanti.

Plaza Indonesia mengundang para pembuat film yang masih remaja untuk membuat film pendek dan mengirimkan ke kompetisi yang diadakan Plaza Indonesia, dengan tema "merayakan perempuan". Kata Chicco, main film harus ikhlas, dan mau total masuk ke dalam peran, baik itu film independen ataupun film mainstream.

Garin juga menutup diskusi dengan tips bagi pembuat film pemula. "Sekarang ini jaman referensi," kata Garin. Ia menganjurkan agar para pemula memanfaatkan kekayaan referensi film yang mudah didapat di masa kini. Meniru dulu tak apa, kata Garin, karena itu juga sebuah proses bagi sang pembuat film amatir untuk mengalami pengetahuan yang sudah jadi dari para senior mereka. Lama-lama, kata Garin, peniruan itu akan berkembang jadi pencarian jurus pribadi atau signature sang pembuat film.  

Garin juga menambahkan, dalam membuat film itu jangan lupa untuk punya kemampuan analitis, dan kemampuan merasa. Kemampuan analitis agar mampu memilih dan memilah berbagai referensi film, sedangkan kemampuan merasa untuk bisa menyampaikan apa yang ingin jadi pesan dari sang pembuat film. 

Lalu film Ach…Aku Jatuh Cinta diputar, dan festival pun resmi dimulai. Selamat menikmati! ***    

10 Februari 2016
Dilihat sebanyak
1641 Kali
Lainnya...
Setumpuk Pekerjaan Rumah Untuk Hanung Bramantyo, Catatan Dari Kartini (2017)
Setumpuk Pekerjaan Rumah Untuk Hanung Bramantyo, Catatan Dari Kartini (2017)
SOLO SOLITUDE, and a collective anxiety of a nation
SOLO SOLITUDE, and a collective anxiety of a nation
Cinta, di Antara Transaksi dan Iman
Cinta, di Antara Transaksi dan Iman
 1 2345     >>>
Pabrikultur © 2015