MENCARI HILAL: YANG TIDAK KITA BICARAKAN SAAT KITA MEMBICARAKAN AGAMA
MENCARI HILAL: YANG TIDAK KITA BICARAKAN SAAT KITA MEMBICARAKAN AGAMA

Apakah agama bagi Anda, sebuah jawaban ataukah pertanyaan?

Ini sebuah pertanyaan yang menenung saya suatu ketika di awal 1990-an, gara-gara sebuah tulisan pengantar buku Agama dan Tantangan Zaman, Pilihan Artikel Prisma 1975-1984 (Imam Ahmad et. al., 1984). Pengantar itu memang dijuduli demikian: "Agama: Jawaban Atau Pertanyaan?" Ditulis oleh Imam Ahmad, yang sampai sekarang saya tak pernah lagi menjumpai tulisannya sesudah buku tersebut. Padahal, tulisannya tersebut, menurut saya, sungguh menyengat.

Bagi banyak orang, agama adalah jawaban. Jawaban atas apa? Tentu saja, sebagian dari kita akan segera menjawab, untuk segala masalah umat manusia. Itulah mengapa, kecenderungan orang yang "beragama" adalah selalu memberi jawab. Anda jangan pikir saya sedang menyoal para penganut Islam saja. Semua agama, seringkali diperlakukan sebagai mesin penjawab segala oleh para pemeluk dan, lebih-lebih, oleh para imam.

Pak Mahmud dalam film Mencari Hilal adalah sosok yang sepenuhnya mewujudkan sikap demikian. Kita bisa menjumpai banyak "Pak Mahmud" di sekitar kita, dengan ragam merentang tak hanya mereka yang telah sepuh dan anggun menjadi tokoh agama di kampung atau sempilan kota tempat tinggal kita. Mereka selalu memberi jawab pada persoalan-persoalan orang sekitarnya. Jawaban-jawaban yang seringkali harus menyertakan kutipan Kitab Suci.

Pak Mahmud dalam film ini, dimainkan dengan sungguh matang oleh aktor kawakan Deddi Sutomo, adalah seorang pemilik sebuah warung kelontong yang sekaligus ustadz di masjid pasar tempatnya membuka warung. Ia membangun hidupnya dari sistem nilai Islam yang fundamental (tapi, saya tak bilang tokoh ini fundamentalis). Pak Mahmud yang lulusan pesantren mendasarkan hidupnya pada Qur'an dan Sunnah, dan menuntut dunia di sekelilingnya berlaku sama.

Di awal film, sikap tersebut tampak sebagai sebuah kearifan yang berbobot. Dan itulah memang salah satu kearifan film ini juga. Kehendak beragama secara total tidaklah serta-merta dianggap sebuah kebodohan atau kekeliruan berpikir. Pak Mahmud sungguh tulus, dan memang seorang yang sungguh baik.

Pak Mahmud tak mau ambil untung terlalu besar karena ia bukan sekadar berdagang, tapi sedang beribadah. Pak Mahmud serius menyiapkan kultum untuk jemaah pedagang pasar di musholla, dan tulus pula prihatin melihat tak ada lagi yang mau mendengarnya kultum. Ibadah adalah pusat hidupnya. Qur'an dan Sunnah memberi jawab atas semua pesoalan keseharian yang dijumpai Pak Mahmud.

Tapi, tak selamanya ketulusan berislam total itu berdampak ketenteraman. Para pedagang lain merasa dirugikan. Soalnya, ekonomi semakin mepet, dan kebijakan Pak Mahmud untuk menjual murah dagangannya merusak tatanan pasar kecil itu. Para pedagang lain menuduh Pak Mahmud memakai alasan agama untuk merebut para pelanggan.

Itu adegan awal yang sungguh menarik: ketika paguyuban pedagang pasar menemui Pak Mahmud, dan ada seorang perempuan pedagang yang sangat vokal menepis berbagai petuah keagamaan Pak Mahmud dalam perselisihan mereka. Pedagang lain tampak sungkan. Jika Anda melihat sendiri bagaimana Deddi Sutomo menjadi Pak Mahmud di awal film itu, Anda pun mungkin akan merasa sungkan pada Pak Mahmud. Tapi, si perempuan pedagang itu, tampak  jujur dan berani mengungkap sudut pandangnya sendiri atas kiprah Pak Mahmud.

Sutradara film, Ismail Basbeth, dengan naskah dari Bagus Bramanti dan cerita dari Salman Aristo, dengan cerdas menggambarkan si perempuan pedagang nan comel itu sebagai sebuah comic relieve (pelepasan jenaka). Sehingga walau sekilas tampak kok "berani-beraninya sama ulama", penonton bisa menerimanya sebagai cermin selayak punakawan bagi para pandawa suci di dalam wayang.

Dan dari pertemuan itu, terungkap betapa problematisnya ternyata penerapan agama dalam kenyataan sosial kita saat ini. Terlontar sesuatu yang kemudian  merisaukan Pak Mahmud: sidang isbath (penetapan hari Lebaran) yang bisa menghabiskan dana milyaran rupiah. Dalam ketulusannya, ini sungguh mengganggu Pak Mahmud. Perlahan, kita melihat sosok pemberi jawab atas segala ini ternyata sedang kehilangan pemahamannya atas dunia di sekitarnya.

Banyak hal yang ia tak tahu dan tak paham. Ia tak paham, mengapa dunia di sekelilingnya tidak benar dalam menjalankan agama. Di rumah, kita pun melihat sosok Pak Mahmud terkupas lapis demi lapis. Ia seorang ayah yang keras kepala, ternyata. Ia punya problem dengan salah seorang anaknya, lelaki, sosok "si anak hilang" yang rupanya cukup parah. Ia juga tampak membikin repot anak perempuannya yang sungguh menghormati dan berbakti pada sang ayah. Pak Mahmud yang gemar memberi nasihat nan bijak dan bajik ke dunia sekelilingnya, ternyata seorang yang sukar dinasihati.

Si Anak Hilang (sebuah arketip yang menarik dalam sastra modern kita) di film ini tiba-tiba muncul: Heli, dimainkan oleh Oka Antara, adalah seorang aktivis muda, tampan, kosmopolit, seorang warga dunia yang tak pernah lepas dari gawai (gadget) komunikasinya. Ia ke rumah, untuk mengurusi paspor karena akan ke Nikaragua. Bagian itu sebetulnya bagian yang secara naskah saya anggap kurang meyakinkan. Tapi, perlu. Dan Basbeth serta ensemble seni peran para pemain film ini berhasil menjaga agar film tetap menarik di situ.

Singkatnya, Heli tiba di saat yang tepat. Pak Mahmud ingin mencari hilal, segurit tipis sabit bulan terakhir yang menandai pergeseran bulan yang biasanya juga menandai kapan tibanya Ramadhan dan hari raya Idul Fitri. Untuk bisa melihat hilal dengan mata telanjang, persis seperti ketika zaman Nabi SAW, harus ke tempat-tempat khusus. Pak Mahmud tak perduli ia telah renta dan sakit, ia ingin membuktikan bahwa penetapan kapan jatuh Hari Raya tak perlu biaya milyaran rupiah. Atas desakan kakak perempuannya, yang akan menyandera paspor Heli jika tak mau menemani ayah mereka, Heli pun dengan rutuk dan gerutu ikut dalam perjalanan mencari hilal itu.

Premis yang terasa sungguh "Indonesiawi". Maka, dimulailah sebuah perjalanan ayah dan anak. Sesuatu yang telah jadi genre tersendiri dalam sejarah film dunia: road movie. Ini memang sebuah film perjalanan. Lebih khusus lagi, sebuah film perjalanan keagamaan. Mau tak mau, kita membandingkan Mencari Hilal dengan Le Grande Voyage (Sutradara: Ismail Feroukhi, 2004). Tak usah menuduh Mencari Hilal menjiplak. Peniruan premis adalah hal yang biasa dalam dunia kreatif. Yang penting, apakah premis yang sama tetap berhasil mencuatkan keunikan?

Premis perjalanan ayah yang risau dan anak yang enggan untuk sebuah ziarah keagamaan, memang bisa diulang belaka. Yang membuat Mencari Hilal menjadi unik adalah keberhasilannya mengupas keberagamaan di Indonesia sebagaimana kita alami saat ini. Adegan sang ayah menasihati sopir bus antarkota di awal perjalanan sungguh efektif menggambarkan problematika keberagamaan itu lebih jauh. Asyiknya, adegan itu kocak. Jenis jenaka yang mencubit benak kita hingga kita bermenung: begitukah kita harus beragama?

Dan apakah agama? Dan apakah pula keberagamaan? Imam Ahmad (1984) dalam esai yang saya sebut di awal tulisan, membongkar pemahaman kita tentang "(lembaga) agama" dan "keberagamaan" (religiositas). Tentang ini, Imam Ahmad menulis:

 

…(R)eligiusitas merupakan sesuatu yang hidup dan senantiasa dapat mengelak dari usaha pembahasaan oleh manusia. …namun religiusitas telah dideduksi menjadi tata nilai yang dimaksudkan sebagai pedoman hidupnya. Tata nilai tersebut berisikan postulat-postulat bahasawi yang dalam operasionalisasinya menampakkan dirinya sebagai sistem religi –yakni lembaga-lembaga agama. Dengan demikian, perbedaan penting antara religiusitas dan lembaga agama adalah bahwa yang pertama termasuk dalam wilayah unspeakables, sedang yang kedua speakables.


Rindu yang mendera Pak Mahmud untuk melakukan kirab mencari hilal seperti di masa mudanya adalah sesuatu yang berada di wilayah unspeakables, wilayah yang tak terbahasakan dan secara hakiki tak bisa dibicarakan dengan akurat. Tak heran jika rindu itu sama sekali tak masuk akal bagi Heli. Rindu itu berada di wilayah yang sama pula dengan energi yang telah mendorong Pak Mahmud menerapkan ketaatan total pada Qur'an dan Sunnah sepanjang hidupnya.

Tapi perjalanan ziarah Pak Mahmud memaksanya menjumpai kenyataan-kenyataan sosial yang pelik dalam menerapkan keberagamaannya. Bagaimana rekan pesantrennya dulu ternyata telah jadi politisi (dimainkan dengan cukup mengesankan oleh Toro Margens) yang penuh dendam duniawi. Atau perjumpaannya dengan seorang pendeta di suatu kampung yang mengalami penindasan kebebasan beribadah oleh segerombol anggota ormas Islam. Juga saudara sang pendeta (dimainkan dengan apik oleh Gunawan Maryanto) yang muslim taat, serta santun dalam menyikapi keberbedaan. 

Perjalanan Mencari Hilal adalah sebuah selang seling antara yang tak bisa dibicarakan, dan yang (selalu) bisa dibicarakan dalam agama. Perjalanan silih alih antara unspeakables dan speakables. Dan ternyata, di lapangan kenyataan sosial, agama sesungguhnya adalah sesuatu yang selalu bisa dibicarakan. Seperti kata Imam Ahmad (1984) selanjutnya:

 

Persoalan yang sulit ini akan bertambah sulit bila kita lihat kenyataan bahwa agama-agama (tertentu) –yakni sebagai tata nilai pada tingkat speakables– menganggap dirinya benar secara mutlak karena merupakan wahyu yang diturunkan oleh Tuhan. Implikasi dari hal ini adalah bersikerasnya manusia untuk dengan pengurbanan apa pun melaksanakan 'Perintah Tuhan' tersebut.


Dalam kesilapan inilah, agama menjadi elemen penyumbang perbenturan sosial. Sebuah ormas keagamaan membubarkan ibadah penganut agama lain di sebuah kampung. (Betapa seringnya hal seperti ini terjadi di sekitar kita belakangan ini!) Ketenteraman sosial burai. Tapi, film ini menampakkan bahwa sesungguhnya penggunaan ruang ibadah, hubungan antara umat agama berlainan, juga adat istiadat orang dalam beragama, adalah hal-hal yang bisa dibicarakan. Malah, harus dibicarakan.

Konflik sosial yang dijumpai Pak Mahmud di sebuah kampung diselesaikan atas inisiatif Heli yang naluri aktivisme-sosialnya tergugah, dengan mencipta ruang percakapan untuk mempertemukan umat yang sedang berselisih. Film ini rupanya percaya bahwa ruang percakapan itu bisa menyelesaikan konflik-konflik sosial yang menyangkut agama. Saya pun percaya demikian.

Ada hal-hal dalam agama yang seharusnya bisa selalu dibicarakan, didialogkan. Lebih-lebih jika yang terjadi adalah ditutupnya percakapan, dan disuburkannya gebukan-gebukan serta waham penyingkiran yang seringkali bisa menjadi biadab.

Dalam urusan tauhid, kita harus bicara gamblang, begitu kata Pak Mahmud saat menjumpai sebuah adat yang ia anggap bid'ah (biasanya bermakna "penyimpangan" dalam praktik keagamaan dari contoh Nabi SAW). Tapi, rupanya Pak Mahmud silap-kaprah mencampur aduk antara praktik keagamaan dengan keberagamaan itu sendiri. Antara yang speakables dan yang unspeakables.

Sebab, dalam mempercakapkan keyakinan dan manifestasinya, Pak Mahmud bersikap penuh penghakiman dan bersikap mutlak-mutlakan. Ia membicarakan dengan gamblang, sekaligus menutup percakapan: hanya pemahamannya sendiri lah yang benar. Di bagian akhir film, diisyaratkan bahwa seringkali sikap mutlak-mutlakan itu, walau memang lahir dari ketulusan beragama, juga karena kurangnya membaca. Itulah mengapa, meminjam istilah Imam Ahmad (1984), sebuah religiusitas yang tulus bisa berubah menjadi regularitas

Di bagian akhir itu pula, perjalanan ziarah Pak Mahmud, juga Heli, kembali ke jalur menuju yang tak bisa kita bicarakan saat kita membicarakan agama. Rindu, cinta, tekad, keyakinan yang mendalam dan menulangsumsum akan berkah mengalami sendiri perjumpaan dengan manifestasi Sang Maha Pencipta (bulan hilal, sang penanda waktu) adalah hal-hal yang berada di luar batas bahasa. Allah, pada hakikatnya, lebih luas dari kapasitas bahasawi kita yang dhaif ini.

Di titik ini, sutradara Ismail Basbeth yang lebih dikenal dengan film-film pendeknya yang sureal dan absurd (terakhir, ia sukses di festival film Rotterdam yang bergengsi dengan Another Trip to The Moon), dengan piawai menggambarkan wilayah unspeakables ini tanpa mengkhianati poros realisme film Mencari Hilal. Lewat bahasa gambar (pohon tua di tepi pantai, lanskap pasir dan seorang tua yang berjalan terbungkuk lalu luruh, temaram senja di tepi laut), Basbeth menggambarkan wilayah batin sebuah pencarian keagamaan.

Maka, kita pun bisa bermenung: apakah selamanya agama harus jadi jawaban? Tidakkah akan lebih hakiki apabila kita juga memandang agama sebuah wahana untuk bertanya, dan bahkan menjadikan agama lebih sebagai sebuah pertanyaan kepada kemanusiaan kita? Heli di film ini, pun punya kerinduan. Ia ingin ayahnya tak sibuk mengurusi umat sembari gagal menjadi ayah yang baik baginya.

Sebab, dalam keyakinan seorang yang beragama, Allah atau Tuhan adalah jauh lebih luas dari kapasitas kebahasaan manusia seluruhnya. Menjadikan agama sebagai sebuah pertanyaan hanya mungkin jika keberagamaan itu dijelajah  dalam wilayah di luar batas-batas bahasa itu.

Contoh praktis lakon agama sebagai pertanyaan: apa makna shalat kita, jika kita tak jadi rahmat bagi sekitar kita? Apa makna pengabdian pada Allah, jika kita membiarkan korupsi menghisap kebahagiaan manusia di sekitar kita?

Terhadap pertanyaan-pertanyaan ini, jawaban yang paling memadai tidak akan kita jumpai dalam retorika dan tumpukan kata motivasional –makna itu hanya mewujud dalam lakon keberagamaan yang kongkret, bukan dalam kata-kata. Rahmat keberagamaan hakikatnya mewujud dalam tindakan, bukan dalam pertempuran kata. Kebahagiaan, sesuatu yang didamba Pak Mahmud dan Heli, dan sebetulnya seluruh tokoh di dalam film ini, berada di luar bahasa. Pencarian bahagia memang bisa dipercakapkan, tapi kebahagiaan berada di luar kata-kata.

Dan film Mencari Hilal, dalam kesahajaan tematik dan produksinya, berhasil menjamah yang di luar kata-kata itu. *** (Hikmat Darmawan)

 

Mencari Hilal

Sutradara: Ismail Basbeth

Cerita & Skenario: Salman Aristo & Bagus Bramanti

Pemain: Deddi Sutomo, Oka Antara, Torro Margens, Erythrina Baskoro

Produksi: Mizan Productions, 2015.

 

16 Juli 2015
Dilihat sebanyak
10738 Kali
Lainnya...
Setumpuk Pekerjaan Rumah Untuk Hanung Bramantyo, Catatan Dari Kartini (2017)
Setumpuk Pekerjaan Rumah Untuk Hanung Bramantyo, Catatan Dari Kartini (2017)
SOLO SOLITUDE, and a collective anxiety of a nation
SOLO SOLITUDE, and a collective anxiety of a nation
Cinta, di Antara Transaksi dan Iman
Cinta, di Antara Transaksi dan Iman
 1 2345     >>>
Pabrikultur © 2015