TAWA, DAN YANG TAK SEKADAR TAWA.
TAWA, DAN YANG TAK SEKADAR TAWA.
Akhirnya, niat memutar Well Done, Abba (2008) ala klub film Pabrikultur terlaksana juga.

Memang ada beberapa sahabat yang sebelumnya menyatakan minat untuk hadir, batal datang. Hujan lebat Sabtu sore 25 April itu boleh jadi menyebabkan banyak rencana batal. Tapi, acara tak berkurang serunya, karena ternyata ada beberapa sahabat lain yang justru muncul tiba-tiba, tak terduga.

Film India yang diputar kali ini, tampaknya berhasil merebut perhatian sebagian yang hadir. Meski, alur lambat di separuh pertama film memang tak mudah dikalahkan. "Aku sempat hampir tidur beberapa kali," kata Ramdan Malik, seorang sahabat yang hadir. Daniar Cikita, wartawan muda sebuah majalah ibukota juga mengalami hal yang mirip. "Filmnya agak lambat untuk sampai ke inti," katanya. 

Tapi, semakin film berjalan dan menemukan kelokannya, gelak dan ledakan tawa pun seolah tak berhenti. "Filmnya kayaknya (terdengar) seru ya," kata Nia, pengelola Paviliun 28, tempat putar film diselenggarakan. Gelak tawa tak putus dari kami yang ada di dalam bioskop rupanya terdengar keras sampai keluar ruangan.

Well Done, Abba memang lucu. Kejutan demi kejutan dalam kekisahan mengenai begitu berakarnya korupsi di sebuah daerah berpenduduk mayoritas muslim di India ini, menghadirkan kekonyolan demi kekonyolan hingga batas yang tak terbayangkan. Ledakan kekonyolannya pun tak berhenti menjadi sekadar tawa. "Film ini, nggak berada di bawah (film) P.K," kata Arif Zulkifli, Pemimpin Redaksi Majalah Berita Tempo, dalam diskusi santai sesudah pemutaran film. Arif merujuk dan membandingkan Well Done, Abba dengan film P.K., sebuah komedi satir India tentang religiusitas yang beberapa pekan sebelumnya ramai dipuji pencinta film di Jakarta.

Tawa, saat menonton Well Done, Abba, memang seolah tak berhenti meledak. tapi, film ini lucu rasanya juga karena pengalaman-pengalaman yang hidup di dalam diri penonton yang hadir sore itu. Terutama pengalaman dalam membaca korupsi dalam hidup kita sebagai bangsa yang begitu mirip dengan apa yang terpampang di layar.

"Saat adegan paling lucu dalam film ini, kita ketawa, tapi tak lama kemudian, ada yang sakit dan begitu perih terasa saat sadar apa yang lucu itu begitu menyedihkan," kata Heri Haerudin Hasyim, seorang pegiat LSM yang turut hadir.

Sore itu, tawa yang begitu lepas dari kami semua yang menonton (kisah kekonyolan korupsi ini), seperti membuktikan kebenaran ucapan dari Joan Rivers, seorang komedian: "Humor tidak lah datang dari saat-saat yang menyenangkan. Ia datang dari kemarahan, rasa sakit dan penderitaan. Selalu datang dari kemarahan".***

Krisnadi Yuliawan
11 Mei 2015
Dilihat sebanyak
1794 Kali
Lainnya...
Setumpuk Pekerjaan Rumah Untuk Hanung Bramantyo, Catatan Dari Kartini (2017)
Setumpuk Pekerjaan Rumah Untuk Hanung Bramantyo, Catatan Dari Kartini (2017)
SOLO SOLITUDE, and a collective anxiety of a nation
SOLO SOLITUDE, and a collective anxiety of a nation
Cinta, di Antara Transaksi dan Iman
Cinta, di Antara Transaksi dan Iman
 1 2345     >>>
Pabrikultur © 2015