Rabu Itu Biru
Rabu Itu Biru

Diam-diam, mereka yang autistik rupanya punya sebutan khusus untuk manusia yang mengklaim dirinya ‘normal’. Mereka menyebut kaum ‘normal’ sebagai ‘neurotypical’, manusia dengan otak yang tipikal. Tentu saja mereka yang menggunakan sebutan ini adalah para penyandang autisma yang memiliki kecerdasan dan kemampuan komunikasi tinggi.

Ketika membaca sebutan ini ramai dipakai mereka yang autistik dalam tulisan-tulisan di internet, entah mengapa saya teringat bagaimana anak-anak penyihir dalam kisah Harry Potter punya sebutan muggle bagi manusia biasa. Dalam dunia fiksi J.K. Rowling muggle adalah manusia yang sama sekali tak punya kemampuan sihir, tidak lahir ke dalam dunia sihir, dan sama sekali tak punya darah penyihir di tubuhnya.

Singkat kata, muggle digunakan para penyihir di dunia Harry Potter sebagai kata peyoratif yang memberikan sedikit nuansa merendahkan. Nuansa semacam, juga terasa pada nada tulisan mereka yang autistik tentang kaum ‘neurotypical’. Meski, bagi saya hal ini masih sangat bisa dipahami. Bukankah ini reaksi normal terhadap wacana mainstream, yang harus jujur diakui, masih terus merendahkan kaum autistik ini, bahkan secara terbuka ?

Sebenarnya, tanpa banyak telaah pun hampir semua orang percaya bahwa cara kerja otak mereka yang autistik jauh berbeda dengan kerja otak kaum ‘neurotypical’. Tapi seberapa berbeda, dan pada apa perbedaan itu begitu besar ? boleh jadi para pakar otak ternama pun belum satu kata hingga kini. Apalagi, adalah fakta bahwa spektrum autisma itu begitu lebar dan beraneka.

Buku Temple Grandin Thinking in Pictures: Other Reports from My Life with Autism, memberi sumbangan bagi pemahaman tentang cara kerja otak yang tidak ‘neurotypical’ ini. Cara kerja otak Grandin sungguh rumit. Tapi, dalam bahasa mudah, Grandin menjelaskan betapa hidupnya berbeda karena ia melihat dunia benar-benar secara visul. Grandin mengilustrasikan bahwa di kepalanya, ingatan itu disimpan dalam bentuk seperti film panjang. Film itu, bisa diputar ulang ke depan maupun ke belakang berkali-kali kapanpun ia mau. Semua hal detail, bahkan yang luar-biasa kecil sekalipun, selalu bisa dilihatnya ulang di kepala. Grandin, tak akan pernah, atau tepatnya tak bisa kehilangan detail visual.

Tapi, tak semua otak penyandang autisma bekerja dengan cara itu. Beberapa bulan lalu, Daniel Tammet meluncurkan buku ketiganya Thinking in Numbers: How Math Illuminates Our Lives. Sampai sekarang, saya belum membaca buku itu. Tapi, buku pertama Tammet Born on a Blue Day, sebuah otobiografi yang saya beli beberapa tahun lalu, sudah memberi gambaran tentang betapa ajaibnya kerja otak Temmat.

Kerja otak Daniel Tammet yang tak biasa sudah lama menjadi obyek riset para peneliti. Sebuah film dokumenter The Boy with the Incredible Brain, pernah dibuat khusus untuk menunjukkan keistimewaan Temmat. Otak Daniel memang salah satu otak tercerdas yang pernah ada. Sampai sekarang, ia merupakan pemegang rekor Eropa pendikte bilangan pi terpanjang. Ia — selama lima jam sembilan menit — pernah mediktekan di luarkepala sekuen bilangan pi, dan hapalannya sudah mencapai 22.514 digit, dan ia berhenti hanya karena ingin berhenti. Ia juga terbukti bisa menguasai bahasa Islandia – dari nol sampai tingkat percakapan yang sangat mahir – hanya dalam waktu sepekan.

Daniel Tammet adalah penyandang autism dan sinestesia sekaligus. Sinestesia adalah juga sebuah sindroma yang jarang ditemui. Kombinasi dua hal ini membuat Daniel melihat dunia sebagai kombinasi angka dan warna yang sangat unik. “Sinestesia memberi Tammet bentuk ingatan yang multisensory dan kaya tekstur. Sementara Autism memberi dia fokus yang terpusat pada angka dan pola-pola sintaktik,” begitu Simon Baron-Cohen, pakar otak dan autism yang pernah meneliti Daniel menjelaskan.

Tapi, penjelasan lebih puitis dari kerja otak Daniel, datang dari dirinya sendiri. Baca saja paragraf pembuka buku Born on a Blue Day :

“Saya lahir pada Januari 31, 1979 – hari Rabu. Saya tahu itu hari Rabu, karena di kepala saya tanggal itu berwarna biru, dan setiap Rabu akan selalu berwarna biru, seperti halnya angka 9 atau suara keras orang berdebat. Saya sungguh  suka tanggal lahir saya, karena saya bisa memvisualkan angka-angka di tanggal itu sebagai bentuk-bentuk bundar dan mulus seperti kerikil di pantai. Itu karena mereka semua bilangan prima: 31, 19, 197, 97, 79 dan 1979 semua hanya bisa dibagi oleh satu dan bilangan itu sendiri. Dan Saya bisa mengenali semua bilangan prima hingga 9.973 karena bentuk mereka ‘mirip-kerikil’ . Begitulah otak saya bekerja.”

Penjelasan demi penjelasan dalam Born on a Blue Day makin menunjukkan betapa berbeda cara kerja kepala Daniel Tammet. Ketika mengilustrasikan bagaimana dia menghitung perkalian 53 x 131, Daniel mengambar sebuah bentuk yang muncul di kepalanya ketika angka 53 disebutkan, lalu di sebelah kanan bentuk itu ia menggambar sebuah bentuk lain yang juga muncul di kepalanya mewakili angka 131. Diantara kedua gambar tadi, menurut Daniel akan muncul sebuah bentuk baru yang lebih besar dari dua gambar sebelumnya, bentuk baru inilah yang dikenali Daniel sebagai angka 6943, hasil perkalian 53 x 131. “Setiap perhitungan matematik akan melibatkan bentuk-bentuk yang berbeda,” tulis Daniel.

Membingungkan? Menurut Daniel sama sekali tidak. Itu cara kerja otaknya, sehingga ia selalu bisa mengerjakan perhitungan-perhitungan serumit apapun tanpa menggunakan kalkulator.

Mengenali emosi, jauh lebih sulit bagi Daniel. Ia sulit mengenali emosi, dan bagaimana bereaksi terhadap emosi itu. Jalan keluarnya? “Saya gunakan angka untuk membantu,” tulisnya.

“Kalau seorang teman berkata ia sedih dan depresi, saya bayangkan diri saya duduk di kegelapan ruang bolong angka 6 untuk membantu saya memahami apa yang dirasakan teman itu. Kalau saya membaca artikel tentang seseorang yang terintimidasi oleh sesuatu, saya bayangkan saja saya berdiri di sebelah angka 9. Ketika seseorang menggambarkan kunjungan ke sebuah tempat yang indah, saya tinggal bayangkan saja padangluas berisi angka-angka dan bagaimana mereka membuat saya bahagia. Dengan cara ini, angka bisa membuat saya lebih bisa memahami orang lain.”

Hidup dengan kerja otak seperti Daniel Tammet tentu tak mudah. Ketika kecil, ia bisa tiba-tiba berjalan mendekati tembok di lokasi tertentu ruang tamu rumahnya, lalu mulai membenturkan kepalanya ke tembok itu, semata karena ia nyaman melakukannya. Setiap kali ayahnya menariknya mundur dari tembok, ia akan berusaha lari menuju tembok itu dan kembali membenturkan kepalanya. Ia juga kerap memukuli kepalanya sekeras-kerasnya – kadang sampai bekas pukulan itu membiru. Daniel juga ingat ia sering merasa senang hanya dengan berteriak sekeras yang ia bisa, sambil terus memukuli kepalanya sendiri.      

Bahkan hingga dewasa pun, Daniel sering merasa cemas dan tak bahagia. Biasanya, kalau mengalami hal itu, Daniel akan memulai memindai (men-scan) penghitungan di kepalanya. “Kalau sedang stress, saya akan mulai menghitung. Misalnya sesederhana melakukan perkalian dua, mulai dengan angka 2, 4, 8, 16, 32 … 1024, 2048, 4096, 8192 … 131072, 262144 … 1048576 dan seterusnya. Angka-angka itu akan membentuk pola-pola visual di kepala saya, dan itu menenangkan.”

Bagian-bagian Born on a Blue Day yang seringkali mengejutkan sambil sesekali puitis memang bisa membawa pembacanya pada keajaiban cara kerja otak Daniel Temmat. Tapi, ia juga membawa pertanyaan baru: kalau cara kerja satu otak autistik saja saja begitu rumit dan berbeda, bagaimana mengenali cara kerja manusia autistik lainnya? Lalu bagaimana mereka yang tak seberuntung Daniel Tammet atau Temple Grandin, yang bisa menjelaskan cara kerja otaknya dengan bahasa dan cara kaum neurotypical?

Otak Daniel Tammet memang bukan otak neurotipical. Tapi tetap saja ada saat ketika di kepalanya angka-angka berhenti bekerja. Yakni saat ketika ia jatuh cinta. “tak ada persamaan matematika untuk cinta dan hubungan yang istimewa,” tulis Daniel. Mungkin memang hanya dengan cinta yang besar batas antara mereka yang autistik dan neurotipikal bisa melebur.


Krisnadi Yuliawan Saptadi


Note:

Artikel ini pernah dimuat di https://rabuautis.wordpress.com 


20 Maret 2015
Dilihat sebanyak
2003 Kali
Lainnya...
Semesta Harry Potter, 19 Tahun Kemudian
Semesta Harry Potter, 19 Tahun Kemudian
13 BUKU TERBAIK 2015 (Bagian Dua)
13 BUKU TERBAIK 2015 (Bagian Dua)
13 BUKU TERBAIK 2015 (Bagian Satu)
13 BUKU TERBAIK 2015 (Bagian Satu)
 1 2     >>>
Pabrikultur © 2015