Menjerang Puisi Dalam Kafe
Menjerang Puisi Dalam Kafe

JAZZ! Wendoko, Penerbit KataKita, 2012


Wendoko adalah seorang penyair Indonesia angkatan mutakhir (masih adakah "angkatan" dalam sastra kita?), dan latar belakangnya terhitung ganjil untuk puisi. Ia seorang arsitek, menerbitkan puisi-puisinya di saat ia telah mapan dalam profesinya yang sekilas tampak jauh dari dunia menukangi kata.

Toh, ia adalah salah seorang penyair terkuat Indonesia saat ini. Ia bukan penyair diksi –pilihan kata-katanya terhitung biasa saja. Ia juga bukan penyair dengan ide-ide besar-gagah-mencorong, bicara tentang kebenaran langit dan bumi. Tapi ia penyair yang menyelami bagaimana dunia terkini bekerja. Dan ia sangat peka terhadap bentuk-bentuk tuturan –mungkin ini karena latar belakangnya sebagai seorang arsitek, yang sehari-hari berkutat dengan penciptaan bentuk-bentuk bangunan.

Tiga buku puisinya sebelum buku ini menunjukkan kualitas tersebut: Sajak-sajak Menjelang Tidur (2008), Partitur, Sketsa, Potret dan Prosa (2009), dan Oratorio (2011). Ketiga buku puisi itu juga menunjukkan ciri kuat yang lain dari Wendoko: ia mampu melelehkan peradaban global (maknai saja kata ini hanya sebagai keadaan luluhnya batas negara) menjadi adonan puisi-puisinya.

Wendoko mampu leluasa dan lentur melompat-lompat ke dunia Cina klasik, tradisi Yahudi dan Kisah Injili, suasana libur negeri Mediterania, masuk ke bawah kulit dunia-dunia asing itu, dan mengungkapkannya jadi puisi-puisi yang mendekatkan kita pada mereka, merelatifkan yang asing dalam dunia-dunia itu bagi kita. Seperti saat ia merelatifkan yang asing pada dunia kafe dan kopi dalam buku ini.

Soal "yang asing" dalam budaya kafe itu sempat disinggung Arief B. Prasetyo (kritikus sastra yang kini tinggal di Bali) dalam pengantar untuk buku ini. Tepatnya, hal-hal yang secara sekilas terasa "bukan Indonesia" dalam budaya kafe –seperti musik Jazz, cappuccino, atau seks dan gaya hidup seputar itu. Dan segera setelah mengangkat soal itu, Arif menampik kesan sekilas itu. Segala yang ada dalam semesta kafe ternyata sudah tak terasa asing lagi.

"Yang tak asing lagi" mungkin memang domain puitika Wendoko. Yang sekilas dianggap bukan-Indonesia, tapi ketika diutarakan secara apa adanya, jelas belaka ia sudah jadi bagian diri kita. (Walau, kita tetap bisa bertanya: "siapa 'kita' dalam hubungan dengan puisi-puisi Wendoko itu –kelas menengah urban?)

Cobalah simak paragraf pertama bagian pertama Jazz!, bertajuk Kafe, 14 Februari:

 

Aku menunggumu di kafe, sejak 2 jam yang lalu –melewatkan Dave Koz, segelas ice cappuccino, seiris tiramisu, waktu yang suntuk. Sampai kafe hampir tutup –dan barista menyorongkan amplop surat yang sedikit tertekuk.

Kalaulah Anda bukan pengunjung kafe, setidaknya kosa-kata budaya kafe itu telah banyak merembes ke novel-novel atau cerpen pop, sinetron-sinetron atau acara masak di televisi, juga film-film remaja di bioskop.

Anda boleh bilang bahwa itu semua adalah kenyataan semu, hanya melingkup segelintir saja masyarakat Indonesia. Benar. Tapi, kita tak bicara soal kesenjangan dulu. Kita bicara bahwa kenyataan kelas menengah di Pusat (Jakarta? Jawa?) yang tersebar oleh berbagai media kita itu adalah bagian yang sah untuk dipercakapkan dalam perpuisian Indonesia.

Wendoko mempercakapkan itu semua –ia seorang lelaki duniawi (man of the world).  Ia "duniawi" bukan karena ia anti kehidupan akhirat, tapi karena ia terasa selalu sepenuhnya berada di dunia kini dan di sini. Ia menikmati detail-detail peradaban mutakhir. Ia juga menawarkan kenikmatan detail-detail itu dalam puisi-puisi dan prosa lirisnya, pada pembaca.

Strategi bentuk yang dipilih Wendoko untuk menyodorkan kenikmatan detail dunia kafe dalam buku ini adalah membagi tiga bagian bukunya: sebuah novela liris berjudul Kafe sebagai bagian pertama; enam belas puisi berjudul Jazz! sebagai bagian kedua; dan tujuh prosa liris berjudul Perempuan Itu sebagai bagian ketiga. Plus dua Catatan yang berupa kamus kata-kata penting bagi dan dalam buku ini.

Bagian pertama adalah serangkaian kesan tentang sebuah kafe entah, dengan bingkai momen setiap tanggal 14 tiap bulan selama setahun, dimulai dan diakhiri pada Februari tahun entah. 14 Februari tentu saja hari Valentine, dan ini sebuah kisah cinta. Sepertinya pilihan bingkai itu banal, tapi itulah kesahajaan Wendoko.

Risiko jadi banal ditempuh, agaknya karena Wendoko tak risau soal bingkai –ia memusatkan perhatian pada apa yang ada dalam bingkai: rupa-rupa kopi kafe serta khasiat masing-masing bagi suasana hati, menu makanan kafe, atmosfer ruang kafe, ulikan latar historis dan kultural Jazz, struktur dan bangun musik Jazz, dan sebagainya.

Bahkan Wendoko cukup percaya diri menyisipkan begitu saja terjemahan brosur sebuah kafe, dan kronologi sejarah singkat kopi dunia. Tanpa distilisasi (digaya-gayakan), terjemahan brosur itu jadi terasa puitis. Letak sisipan brosur dan cara kronologi itu disusun dalam buku memberi rasa puitik itu.

Artinya, Wendoko memang sadar benar struktur bukunya ini, dan mampu memberi bumbu yang tepat untuk keseluruhan rasa puitiknya. Ia tahu benar bahan-bahan puitikanya, tak ada yang mahal atau mewah benar, dan menjerang puisi dalam sebuah kafe entah di mana secara sederhana tapi menghasilkan aroma kata yang membuat nyaman sekaligus sedih secara bersamaan.

Oh, ya, ada kisah dalam buku ini. Tapi, ini model kekisahan macam film-film Wong Kar Wai (yang memang diakui sebagai ilham bagi bagian pertama buku ini) yang tak formulaik: keping-keping kejadian, sorotan pada benda-benda dan kejadian-kejadian kecil yang seperti tak berhubungan, pecahan-pecahan perasaan dan pengetahuan. Motif dan karakterisasi dibiarkan mengapung dan bias di udara. Silakan Anda menghirup dan menafsir sesuka Anda.

 

Kafe adalah tempat perhentian, tempat orang bertemu –atau singgah, pada satu jeda waktu. Tapi pernahkah kau berpikir, berapa orang di kafe yang saling mengenal? Berapa banyak yang tak mengenal?

Silakan Anda memikirkannya. Atau tidak. Seruput saja kopimu, mungkin sambil membaca buku ini di sebuah kafe, dan terangsang untuk mengenang kisah cintamu sendiri. ***

(Hikmat Darmawan) 

09 April 2015
Dilihat sebanyak
1950 Kali
Lainnya...
Semesta Harry Potter, 19 Tahun Kemudian
Semesta Harry Potter, 19 Tahun Kemudian
13 BUKU TERBAIK 2015 (Bagian Dua)
13 BUKU TERBAIK 2015 (Bagian Dua)
13 BUKU TERBAIK 2015 (Bagian Satu)
13 BUKU TERBAIK 2015 (Bagian Satu)
 1 2     >>>
Pabrikultur © 2015