Melepas Sepatu
Melepas Sepatu

-Kineruku, Bandung, 21 November 2015-

 

Peluncuran Album "Alam Raya" Rayhan the Dreamers

 

Sekitar satu tahun yang lalu, Rayhan Sudrajat seperti melepas sepatu untuk menempuh perjalanan tanpa alas kaki. Ia mengundurkan diri dari tempatnya bekerja, berangkat ke Kalimantan Tengah, kemudian bersentuh dengan segala aspek kehidupan yang berlangsung di sana. Matahari yang memanggang mematangkan langkah-langkahnya. Rumput, batu, dan tanah yang ia pijak melatih kepekaannya. Sungai yang mengalir senantiasa membasuh kakinya. 

 

Lalu, dalam setahun tiba-tiba Rayhan menjadi jauh lebih dewasa. Waktu dan semesta menitipkan banyak pesan kepadanya. Bersama ketiga kawannya -- Adhitya Isnandya (bas), Arbi Wardani (drum), dan Khansa Anastasya (vokal)  -- ia meneruskan pesan tersebut. Di bawah bendera Rayhan the Daydreamers (RTD), mereka menetaskan album "Alam Raya" yang pekat dengan warna Dayak Ngaju dan segala isu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari suku ini.

 

Pada hari Sabtu, 21 November 2015 lalu di Kineruku, RTD membagikan oleh-oleh yang mereka bawa dari Kalimantan Tengah. Selain meluncurkan album, mereka juga memboyong seorang penduduk asli Kalimantan Tengah, Pak Mahir Takaka, untuk berbagi kisah mengenai masyarakat adat. Pada kesempatan itu hadir pula Raka Ibrahim, kepala editor Disorder Zine dan Muhammad Hilmi dari Whiteboard Jurnal. 

 

"Musik etnis itu yang penting konteksnya, bukan sekadar googling dan liat kulit," ungkap Raka Ibrahim dalam diskusi bertajuk "Menolak Punah: Musik Etnik dan Masyarakat Adat".  Menurut Raka, ketika kita menerjemahkan lagu-lagu OASIS ke dalam bahasa Jawa misalnya, lagu-lagu itu tak lantas menjadi lagu etnik. Ketika seseorang ingin memasukkan unsur etnik dalam karyanya, ada konteks yang esensial namun justru sering luput tersampaikan. Di sinilah kelebihan RTD. Mereka masuk ke tengah-tengah masyarakat adat, menjadi bagian dari warga, memahami konteks secara menyeluruh, kemudian menciptakan karya yang tak bergaya "kaleng biskuit Khong Guan isi rengginang". Bukan hanya kostum ala Kalimantan yang mereka bawa, tapi juga kegelisahan-kegelisahan yang tumbuh di sana.

 

Pada lagu "Palangka Raya Hadurut", RTD berkolaborasi dengan pemain suling Dayak Ngaju senior, Syaer Sua. Lagu ini bercerita mengenai burung antang (elang dalam bahasa Dayak) yang terbang memandang seluruh Kalimantan. "Fase pertama tenang, menunjukkan alam yang indah dan damai. Kemudian perlahan-lahan masuk ke dalam fase penghancuran," cerita Rayhan. Konon awalnya lagu ini diberi tajuk "Ranying Hatalla Langit" yang berarti "Tuhan Maha Besar". Rayhan berpendapat hanya campur tangan Tuhan Maha Besar sajalah yang mampu menyelamatkan alam Kalimantan. Namun karena judul tersebut dianggap terlalu berat dan sakral oleh tua-tua setempat, "Ranying Hatalla Langit" diubah menjadi "Palangka Raya Hadurut". "Harusnya 'Palangka Hadurut' aja. Tapi ditambah 'raya' karena saya asosiasikan dengan 'Palangkaraya'. 'Palangka' artinya 'kunci dari emas', sementara 'hadurut' artinya 'perlahan-lahan'," jelas Rayhan.  

 

Saya teringat pada band legendaris The Beatles. Pada suatu fase bermusiknya, mereka pun sempat "melepas sepatu" untuk melakukan perjalanan spiritual ke India. Mereka pulang membawa banyak oleh-oleh, pesan-pesan baru dari semesta, dan kunci dari emas menuju keabadian.

 

Mungkin selalu ada fase di mana seorang seniman perlu cukup peka; menyadari bahwa sepatunya tidak lagi pas di kaki. Butuh keberanian untuk melepaskannya, berpijak tanpa alas kaki, mencari sepatu baru, karena terus mengenakan sepatu lama akan membuat kakinya berhenti bertumbuh.

 

Alam raya ini adalah belantara pesan tersembunyi. Jika pada suatu ketika kau merasa sepatumu tak nyaman lagi, lepaskan. Mungkin sudah saatnya kau pergi mencari.

 

Sundea

http://www.salamatahari.com

 

Silakan mampir ke https://m.soundcloud.com/rtdmusics untuk mendengar sebagian karya RTD.

07 Desember 2015
Dilihat sebanyak
1920 Kali
Lainnya...
Sisipus dan Nalar Hipster
Sisipus dan Nalar Hipster
Gambar diunduh dari flippkids.com
Setelah Debussy Mendengar Gamelan Jawa
Lupa Genjer-Genjer
Lupa Genjer-Genjer
 1 2     >>>
Pabrikultur © 2015